. : : I N S A N – S A I N S : : .

INSAN perindu IHSAN : : Mencari hikmah di telaga SAINS

Banjir lagi..!

with 9 comments

Ya ampun….! Banjir lagi…banjir lagi…
Ini adalah kali yang kelima dalam tahun 2008 ini dimana kontrakanku terendam “air pemberian” yang melimpah dari Bogor. Hm… jadi kalo dirata-ratakan, hampir satu bulan satu kali. Luar biasa!

Sebenarnya, aku tidak pernah khawatir dengan barang-barang yang aku punyai, kecuali buku-buku yang sudah menggunung. Tiap kali banjir dengan serta merta aku pun memindahkan dan menumpukkan semua buku-buku perpustakaan pribadi ke samping wastafel yang memang lebih tinggi setengah meter dari lantai. Yang paling susah adalah memindahkan lemarinya itu loh..!! Berat oey! Termasuk memindahkan pakaian-pakaian. (walaupun banjir, tapi penampilan tetap dijaga supaya necis). Terakhir adalah memindahkan kasur lipat dan karpet ke atap-atap rumah. Pyuh.. ada yang bisa membayangkan tidak bagaimana aku memindahkan kasur dan karpet yang cukup berat itu ke atap sendirian? Tanpa tangga loh! (untunglah dulu belajar ilmu meringankan tubuh, saat belajar wushu, hahaha.. jangan dipercaya tuh!)

Tapi yang membuatku paling takut adalah, ketakutan kalau ibuku (yang berada di Bandung) mengetahui kalau anak kesayangannya (cie.. ngaku-ngaku anak kesayangan!) kebanjiran lagi. Ibuku memang terlalu perhatian sama anaknya, entahlah mamaku itu mendapat berita dari siapa kalau aku sering kebanjiran, padahal aku sendiri tidak pernah memberitahunya karena takut membuatnya khawatir. Dua pesan dan permintaannya yang selalu aku dengar ketika selalu berbicara lewat telephone (yang selalu mengkhawatirkan keadaanku) :

Pertama, “Pindah kontrakan aja atuh A”.

Yaps ibuku memang begitu perhatian, dan saya pikir semua ibu akan berpikir dan merasakan hal yang sama. Tapi sampai detik ini pun aku masih setia dengan kontrakanku saat ini. Bukan maksud Aa untuk tidak mau menuruti perintah mama, tapi Aa tidak ingin orang lain merasakan kebanjiran. Jika Aa pindah rumah, maka orang lain pasti akan menempati kontrakan itu, dan Aa tidak menjamin orang itu akan betah dan senang tinggal disitu sebagaimana Aa menikmatinya. Jadi biarlah Aa yang mengalami dan menikmati sendiri ^_^

Kedua, “Mana calonnya? Kapan nikahnya A”.

Yaps… kata-kata inilah yang sering diucapkannya, karena mungkin setiap orang tua dapat merasakan bagaimana susahnya hidup sendirian apalagi jauh dari kampung halaman (halah… Jakarta Bandung saja dibilang jauh). Jika ditanya seperti ini, mulutku selalu diam seribu bahasa, tak bergeming. Walaupun hati selalu balik bertanya, Apa lagi sih yang kamu tunggu? Pekerjaan sudah punya! Keilmuan sudah dapat! Yang naksir banyak! (*narsis) Apalagi sih yang ditunggu! Bidadari yang sempurna? (halaaah… itu hanya ada di Surga! Ini dunia bung!)

Tapi yang jelas..! Banjir telah banyak memberikanku pelajaran dan hikmah yang mungkin tidak akan aku dapat dari buku maupun perkataan orang lain. Alhamdulillah.. Terima kasih ya Allah.

Written by Insan

7 Mei 2008 pada 7:01 pm

Ditulis dalam Personal

Tagged with , , , , ,

9 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Banjir? Lho lho dsini panasnya minta ampyun…
    Kawin kawin kawin…
    Buruan athu, si mamak uda gag tahan nimang cucu…
    Salam ke mamak *bhs sunda apa ya?*
    ____________________________________________

    insan sains reply : ^_^ Haha… musim yang kita alami beda 180 derajat yach. Padahal masih dalam kepulauan yang sama! Ok.. ok.. salamnya tar disempein (*Ma.. aya salam ti rerencangan, SUHU alias Alid Abdul namina*) Woi.. kawinnya kebanyakan tuh…! (3 kali) Satu aja belom…!

    alid abdul

    7 Mei 2008 at 10:45 pm

  2. Saya juga paling khawatir sama buku dan harddisk kalau terjadi sesuatu jika dibandingkan dengan barang-barang lainnya. Sepertinya permasalahan banjir akan memakan waktu cukup lama untuk Jakarta. Ratakeun heula jeung tanah geura :) )
    ____________________________________________

    insan sains reply : ^_^ Mau kayak Hiroshima dulu yah..? Di hancur leburkan dulu, terus dibangun sebuah peradaban baru yang lebih baik. hm… gmn yach?!!!

    Donny Reza

    8 Mei 2008 at 2:23 am

  3. Banjir??? asyik juja tuh…. bawa perahu plastik di kolam renang belakang truz pindah ke jalan raya abis ntu keliling komplek,wah asyik juja ntu…. di tempat tha jarang banjir,kalo panas mah tiaphari….:-(
    ____________________________________________

    insan sains reply : ^_^ Nyindir…! Awas tuh kualat ntar…!! Hehe… (*bercanda)

    Thatha

    8 Mei 2008 at 2:43 am

  4. wew baru baca yang dibawahnya,hehehehe… Nikah??? hakhakhak…. cepetan nikah ja mas trus ntar tha d undang ya?? ntar 7taon lage gantian tha yang undang,hehehehe….
    ____________________________________________

    insan sains reply : ^_^ Ok deh Tha.. btw.. kalo diundang mau hadir gak? ^_^

    Thatha

    8 Mei 2008 at 2:47 am

  5. diriku juga sering jadi korbannya :(
    ____________________________________________

    insan sains reply : ^_^ Hm.. ternyata nasib kita gak jauh beda

    hanggadamai

    8 Mei 2008 at 6:03 pm

  6. huehuheuhe ko dari banjir jadinya ke suruh cari istri toh? hihihi

    ada ada sajah…

    ternyata efek banjir mencakup segala aspek ruparupanya :p
    ____________________________________________

    insan sains reply : ^_^ Heueheu…! (eh.. kok jadi latah… ^_^) Ya.. begitulah my mom. Btw.. segala sesuatu pasti ada hikmahnya bukan? So.. bisa jadi nyebar kemana-mana efeknya… ^_^ (*pembenaran!)

    natazya

    9 Mei 2008 at 3:20 am

  7. hehehehe…tempat tha terakhir banjir taon 1998 maz… ntupun ampe leher papa tha,wuh ngungsinya mpe ke skul2… tapi tha msh kecil,enak di gendong papa,hehehe…gmana maz perasaannya dapet banjir tiap bulan??
    ____________________________________________

    insan sains reply : ^_^ Perasaannya? gimana yach! Karena sudah terbiasa, jadinya gak terlalu surprice, yang penting ada hikmah yg bisa dipetik.

    Thatha

    9 Mei 2008 at 9:12 pm

  8. Kasiannya…
    Kl saya jadi mama kamu juga udah pasti cemas, ngapain juga tinggal di daerah banjir kl masih banyak tempat yg bebas banjir.

    Mengenai pendamping, kan udah ada calonnya. Nunggu apalagi?? ^_^
    ____________________________________________

    insan sains reply : ^_^ Hah sudah ada? Siapa yah..?

    rina

    11 Mei 2008 at 2:10 am

  9. @mas insansains
    Saya jadi inget sama tulisan sendiri… :D
    Kenapa “Dukhan = Asap” ??
    Karena asap bisa dilihat dengan kasat mata… dari matanya “anak tukang bakso”,”penjual bakso”… sampai “ilmuwan penggemar bakso”.

    ____________________________________________

    insan sains reply : ^_^ Tulisan yang sangat menarik tentang penafsiran ayat al-qur’an tersebut. Mungkin, disitulah letak keagungan bahasanya, yang bisa difahami oleh siapa saja, tanpa terkecuali. Namun bagi mereka yang haus akan ilmu dan pencarian kebenaran, Al-Quran tidak menutup dirinya, sehingga penggalan ayat tadi, kata Dukhan bisa saja diartikan secara ilmiah menurut keilmuan yang difahami SAAT INI. Dan saya pun yakin, ketika ilmu pengetahuan makin dan makin “dewasa”, kata itupun akan mengikuti tafsiran yang kala itu orang fahami. Ingin saya memberikan komentar yang lebih pada postingan saudara Haniifa trsbt, tapi apa daya, keilmuan saya belum sampai ketaraf itu. Tapi tentu saja, itu telah menjadi PR tersendiri bagi saya untuk kembali merenungkan. Mudah-mudahan kita bisa saling melengkapi (insyaAllah)

    haniifa

    11 Mei 2008 at 9:25 pm


Tinggalkan Balasan