Akhirnya Ijab Qabulku tertuju untuk Afina

Posted on 20 Juli 2008

30



Tulisan ini telah dipublikasikan di http://www.pintunet.com

Kawan…! Sebelumnya aku minta maaf atas judul diatas. Mungkin tulisan ini kurang tepat untuk dipublikasikan di forum ini. Jadi mohon dimaafkan dan dimaklumi. Terus terang, tidak mampu lagi aku membendung perasaan bahagia yang bukan kepalang ini. Sebuah kebahagiaan yang mungkin, tidak (atau belum) semua orang dapat merasakannya. Sebuah kebahagiaan yang (mungkin pula) membuat kita tersenyum hingga menitikan air mata saking harunya.

Tidak ada yang lebih membuat kita merasa bahagia, ketika kita mencinta kemudian berbalas cinta yang serupa. Dan tidak ada pula yang membuat kita merasa berbunga-bunga, ketika perasaan kasih berbalas dengan belaian sayang. Ah… betapa indahnya! Sungguh berbahagialah bagi orang-orang yang mendapatkan apa-apa yang mereka cintai. Walaupun sebenarnya kebahagiaan yang sesungguhnya ada pada mencintai apa-apa yang kita dapatkan (quote from noname).

______________________________________________________________________

Sejenak ingin ku bagi secangkir kebahagiaan yang kurasakan baru-baru ini. Kawan…! Tentulah kau pernah menantikan sesuatu yang kau rindukan bukan? Sebuah penantian yang kian lama kian menyiksa batin karena apa yang kita damba tak kunjung hadir. Hari-hari dilalui seorang diri, susah dipikul bahu sendiri, senang dirasakan sendiri, sedih ditangisi sendiri, tak ada teman berbagi suka dan duka, pokoknya semua serba sendiri. Namun kini penantian itu telah usai sudah bagiku kawan!

Seorang teman yang sangat baik beberapa bulan yang lalu “menawarkan” kepadaku sesosok elok nan rupawan (menurutku). Afina namanya. Tidak ada secuil alasan pun bagiku untuk tidak tergiur menerima tawaran tersebut. Bagaimana tidak? Disaat banyak orang (tepatnya teman kantor) mengharapkan dapat memilikinya, dan berjuang sekuat tenaga dengan men-“cari muka” di hadapan Afina, aku yang sama sekali tidak pernah bermimpi memilikinya justru ibarat kejatuhan durian runtuh, seorang utusan Afina datang memintaku untuk meminangnya. Hah meminang? Betapa jantung ini serasa mau copot, nafas spontan tersenggal, dan mata tertohok pada si teman yang kiranya saat itu tengah melayangkan asaku.

Perasaan bahagia campur pikiran-pikiran “bego dikit” mulai menyeruak (sambil meng-getok-getok kepala). Loh kok “bego”? Ya.. bego dalam artian sebenarnya, pasalnya nalar waras yang aku punya tak mampu menjawab dan menerawang (bak kang jing_hsu menyelami sisi kepribadian member), sisi diriku yang manakah yang membuat Afina berani mengambil keputusan besar ini? Berkali-kali aku bertanya kepada teman yang baik hati itu, tidak lebih hanya untuk meyakinkan bahwa diriku tidak sedang bermimpi. Bagaimana mungkin Afina yang semenarik itu (dalam banyak hal) tertarik kepadaku. Hanya ada dua kemungkinan (pikirku), pertama : mata yang elok itu sedang kelilipan. Aku yang papa dan punya banyak sekali kekurangan dipilihnya untuk menjadi pendamping.. Ah.. ini sungguh mustahil bin mustahal. Atau kemungkinan kedua, si teman yang baik ini sengaja mempermainkanku sekedar membuat hatiku mengawang-ngawang saja untuk kemudian menjatuhkanku sejatuh-jatuhnya dan tertawa hingga puas melihat kebodohanku. Dan ini pun rasanya sungguh tidak mungkin untuk ukuran teman yang telah aku kenal baik wataknya ini.

______________________________________________________________________

Sejujurnya, aku cukup mengenal pribadi yang menawarkan diri lewat kawanku itu. Kami sering bertemu di kantor. Mungil-mungil namun menawan, bukan sekedar manis, tapi benar-benar beautiful. Ehm.. ehm.. jangan coba-coba membayangkannya, karena sama sekali bukan “wajah” Indo melainkan khas Singapura. Tiap kali kulihat dia dari jauh maupun saat berpapasan, jantungku pasti berdegup tidak karuan, bibirku sedikit gemetar jika hendak menyapanya. Tidak sedikitpun aroma parfum yang tercium darinya, tapi sensasinya jauh lebih mengguncang dari sekedar gempa teknonik paling dahsyat sekalipun. Ya.. inilah penyakit orang yang terlampau menyukai, orang bilang jatuh cinta! Sebagai seorang manusia normal, tentu aku memiliki keinginan seperti yang diingini oleh manusia lainnya. Sayang, aku diperingatkan oleh diriku sendiri untuk terlebih dahulu berkaca diri. Perbedaan kami sangat jauh, terlihat jelas, dari status sosial saja, kami sudah tidak sekufu.

Sebesar apapun aku menginginkannya, aku tetap tidak mampu memberikannya “mahar” yang sesuai. Akhirnya perasaan itu, selalu kupendam dan kukubur bersamaan dengan tundukan pandanganku ketika berjumpa dengannya. Walaupun begitu, kadang aku tak kuasa menahan pesonanya hingga memancing bola mata untuk diam-diam menyelinap dari ujung ke ujung, sekedar melihat parasnya disamping berjaga-jaga bila ada yang memperhatikanku. Anehnya, kapanku aku melirikkan pandangku, Afina pun rasanya telah lebih dahulu melakukan hal yang sama. Hihi.. aku pun sering tersenyum dan tersipu malu sendiri, mungkin juga Afina pasti meronalah wajahnya. Namun aku terkadang selalu merasa iri kepada orang-orang yang mati-matian berusaha mendapatkannya, berbeda denganku yang demi sebuah gengsi hanya mengharap tanpa pernah berusaha. Satu yang aku yakini, “Segala sesuatu telah ditetapkan taqdirnya. Tinggal kita yang menyambut taqdir tersebut bila telah bertemu pertanda”

Kini, tanpa pernah terbayangkan sebelumnya, seorang pujaan, Afina hadir menawarkan diri. Apakah ini pertanda taqdir yang telah disuratkan kepadaku ataukah hanya fatamorgana? Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya. Yaitu menyempurnakan ikhtiarku! Maka sehari sebelum berangkat ke Medan pekan lalu untuk urusan kantor, aku mendatangi si “pencuri hati”ku ini dan bercakap-cakap seperlunya, karena takut menimbulkan fitnah, juga agar ketulusan niat tidak ternodai oleh hal-hal lain.

Malam-malam di Medan aku habiskan untuk merenungi dan menentukan sikapku. Pun tidak lupa meminta pendapat teman-teman yang lebih berpengalaman dariku via Yahoo Messanger maupun handphone. Ups.. ada satu hal yang aku lupa ceritakan. Ada satu dilemma yang cukup menyiksaku. Namun mohon jangan dibaca keras-keras. Afina yang mempesona itu bukanlah perawan lagi, dia pernah menjadi milik seseorang. Inilah yang menjadi dilema bagiku kawan. Entahlah, kadang ketika mengingat kelebihan-kelebihannya hati ini rasanya seperti orang paling beruntung di dunia, namun ketika mengingat bahwa Afina pun punya satu kekurangan yang sejatinya paling di rindu oleh semua orang yaitu “KESUCIAN” yang belum terjamah, rasanya hal itu menyurutkan niatku. Nah, bila kau ada dalam posisiku kini, apakah yang akan kau putuskan kawan?

______________________________________________________________________

Ah… benar atau salah, keputusan itu telah ku ambil. Shalat malam dan shalat hajat telah kutunaikan untuk meminta petunjuk-Nya. Sehari setelah kepulanganku dari Medan, tepatnya tanggal 23 Juni 2008 dengan niat yang bulat (dan mudah-mudahan ikhlas) dia pun langsung ku lamar dan dilanjutkan dengan ijab kabul saat itu juga. Wow.. luar biasa! Cepat sekali bukan! Mohon maaf bila tidak satu member pun yang jangankan diundang (diberi kabar saja) tidak ada yang diberitahu ketika prosesi ijab qabul tersebut. Bukan bermaksud sengaja melupakan dan tidak mau berbagi kebahagiaan, melainkan karena jarak yang terlalu jauh, terlebih karena Afina adalah sebuah notebook imut.

Afina adalah teman baikku kini setelah Dell yang telah tiada karena keteledoranku akan udzurnya. Mudah-mudahan Afina dapat menemani tiap jengkal perjuangan saya untuk belajar memperbaiki diri tiada henti. Selamat datang Afina AL7180C SOTEC dalam kehidupanku, mudah-mudahan engkau bisa menemaniku hingga nafas diujung kerongkongan, tanpa aku silau dengan “Afina-Afina” lain yang lebih elok dan lebih canggih.


Saya rasa perlu mengucapkan permintaan maaf yang kedua kalinya bagi siapa pun yang merasa tertipu dengan judul tulisan ini (apalagi member yang sebelumnya pernah merasa tertipu dengan tokoh Aisyah yang di posting di sini, siapa hayooo???), walaupun diawal paragraf saya pun telah mendahului dengan permintaan maaf. ^_^

Penegasan : Afina adalah tipe Notebook dari Sotec buatan Singapura yang dijual oleh teman saya yang sekarang memiliki Mac Leopard. Arti kalimat yang lainnya silahkan diterjemahkan sendiri. Fin, itulah panggilan saya untuk notebook kesayangan saya ini. ^_^

Thanks kepada mas Rizky (teman samping meja) yang merelakan notebook kesayangan dan telah menemaninya kuliah di Singapura selama 4 tahun kemudian sekarang menjualnya kepada saya dengan harga yang cukup murah

Iklan
Posted in: Personal