Nikmati yang Parsial, Simpulkan secara Integral

Posted on 4 Mei 2012

2



Nikmati yang Parsial, Simpulkan secara Integral
Oleh : Insan Sains
Date : 4 Mei 2012

Hidup ini memang serba terbatas. Selain waktu. Ruang hidup kita pun hanya seukuran jangkauan mata. Juga sependek pikiran kita. Batas ruang yang terakhir inilah yang menarik kita bahas hari ini.

Kita mengenal sebuah kejadian baik, hanya karena kejadian itu amat menyenangkan bagi kita dan sesuai harapan. Diterima sebagai pegawai negeri, saldo rekening kita bertambah, tiba-tiba mendapatkan hadiah dari teman, lamaran diterima, lulus sekolah, bahkan hal yang terkecil sekalipun : orang yang kita cintai tersenyum pada kita. Tentu Anda dengan modal umur yang sudah dilalui, dapat menyusun hal-hal menggembirakan lainnya.

Sebaliknya, kejadian buruk pun demikian. Kita mencapnya buruk, karena kejadian itu membuat sedikit banyaknya hati kita berduka. Tabrakan, teridap penyakit, cinta yang ditolak, gagal lulus ujian, bahkan pada hal sederhana seperti isi dompet habis,

Dan lucunya, kalau kita tanya pada diri sendiri, lebih banyak mana kejadian buruk yang terjadi atau kejadian baik yang kita harapkan? Jawabannya nyaris kompak, atau bahkan benar-benar kompak. “Kejadian Buruk”. Ya karena nyatanya memang demikian, kita hidup dalam alam nyata yang Diatur, bukan alam yang berjalan sesuai harapan seorang yang bernama “aku”.

Jika kejadian buruk itu lebih sering daripada kejadian baik, maka bukan hal yang mustahil kejadian tidak menyenangkan itu sedang terjadi saat ini, dan entah kapan akan berakhir. Dan mungkin seseorang yang mengalami itu adalah Anda.

Namun jangan khawatir, resep dari Al-Quran adalah :

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tentram” (QS. Ar-Rad, 13:28)

Pertanyaannya, Apa yang bisa kita ingat dari Allah?

Ada banyak hal, salah satunya adalah berkaitan dengan judul tulisan ini. Allah itu sama sekali bukan kita, manusia. Jika kita serba terbatas oleh waktu dan ruang, maka Allah tidak, karena ruang dan waktu adalah milik dan ciptaan-Nya.

Allah tidak menilai kejadian baik dan buruk itu secara parsial sebagaimana halnya kita, namun Dia menilai baik dan buruk berdasar kadar taqwa secara utuh menyeluruh. Kadar kebaikan yang kita lakukan, dan kadar keburukan yang kita jauhi dalam seluruh ruang dan waktu kita. Allah memandangnya dalam kacamata long term, sedangkan kita memandangnya dalam kacamata short term.

Inilah yang membuat kita lebih banyak bersedih ketimbang bahagianya. Maka terjemahan bebas dari ayat di atas, “Ingatlah AKU”, kata Allah, “ingatlah memandang secara utuh menyeluruh agar hidup kalian bahagia”. Ingatlah bahwa kejadian baik dan buruk itu bukan tentang apa yang sedang kita alami saat ini, tapi nanti diakhir ruang dan waktu kita.

Ini salah satu contoh betapa ruginya kalau kita menilai kebaikan secara parsial :

Seorang tamatan STM berhasil diterima kerja di salah satu perusahaan. Tentu ini adalah kejadian baik. Sarjana-sarjana saja masih banyak yang nganggur, ini siswa baru lulus, bisa langsung mendapat pekerjaan. Tapi bekerja, bukan hal yang sederhana. Dia harus berhadapan dengan atasan yang kerjanya malah marah-marah. Tiada hari tanpa kena semprot, tiada hari tanpa dapat teguran. Ini berita buruknya. Tidak hanya itu, teman sekerjanya pun tidak begitu menyenangkan, jutek, tidak bisa diajak kerjasama, sering menjatuhkan. Dan ini adalah kejadian buruk yang terus berulang setiap hari (atau setidaknya pada hari-hari kerja)

Cita-citanya adalah menjadi salah satu eksekutif di perusahaan tersebut. Maka meskipun kejadian-kejadian tidak menyenangkan sering dialaminya, dia hadapi terus karena bagi pemuda tersebut, “ini adalah perjalanan”. Dengan rajin dia bekerja di perusahaan tersebut, sambil menyisihkan uang untuk kuliah lagi.

Namun apa mau dikata, 7 tahun dia bekerja di perusahaan tersebut, karirnya harus berhenti hanya di kelas supervisor. Krisis ekonomi, membuatnya menjadi salah seorang yang harus dirumahkan oleh perusahaannya. Dan ini adalah kejadian buruk terbesarnya.

Karena tidak ada pasokan dana, kuliah malamnya pun harus berhenti. Dan ini adalah kejadian buruk selanjutnya. Peribahasa bilang, sudah jatuh tertimpa tangga pula.

Untuk menjaga kelangsungan hidup, dia akhirnya menjadi sales susu kambing. Meski jerih payahnya menawarkan ke sana kemari tidak seberapa besar, tapi cukup untuk menyambung kebutuhan sandang dan kontrakannya. Ini merupakan kejadian baik, dibanding harus mengemis dan tak punya tempat bernaung.

Namun bekerja sebagai sales, membuat resiko di jalan lebih besar. Suatu waktu pemuda ini mengalami kecelakaan, motornya rusak, dan dia harus dibawa ke rumah sakit. Ini tentu kejadian buruk yang lainnya.

Pemuda ini pun akhirnya dirawat di rumah sakit untuk beberapa lama. Berita baiknya adalah, dia dirawat oleh suster cantik. 🙂 Boleh percaya atau tidak, pembicaraan yang semula antara perawat dan pasien, menjadi pembicaraan antara muda-mudi yang sedang merah jambu. Seusai sembuh, pemuda itu pun mendatangi rumah sakit dan melamar suster tersebut.

Meski si perawat cantik ini menerima, tapi orang tuanya belum tentu. Siapa juga orang tua yang menginginkan anak perempuannya menikah dengan laki-laki yang tidak punya pekerjaan tetap. Meski sebagian kita tidak setuju, setidaknya orang tua gadis tersebut memiliki pola pikiran demikian.

Namun pemuda ini pantang menyerah, dengan bantuan si perawat cantik ini, dia diperkenalkan dengan seorang teman yang sedang merintis usahanya. Dengan bekal pernah menjadi supervisor pada perusahaan bonafide juga ilmu salesmen ketika berjualan susu, akhirnya usaha yang dirintis bersama kawannya ini membuahkan hasil di bulan ke 15. Pemuda ini menjadi manager marketing. Meski usahanya belum bisa dibilang besar, namun jabatan manager itu cukup bergengsi. Dan kembalilah dia ke keluarga si suster cantik itu, dan mengajukan lamaran.

Singkat cerita pemuda ini akhirnya menikah, dan setelah 5 tahun, mereka dikarunia dua anak lucu-lucu. Kuliah malamnya dia sambung kembali hingga lulus. Perusahaannya makin berkembang. Dan kini pemuda tersebut menjadi direktur utama perusahaan tersebut. Sebuah kejadian yang lebih besar dari harapan dan cita-citanya semula.

Inilah kita yang selalu menilai setiap kejadian dari kacamata short term. Makanya tidak heran, sedikit-sedikit sedih, sedikit-sedikit ngeluh. Akhirnya karena yang sedikit itu jumlahnya banyak, hidup kita jadi lebih mirip sinetron, banyak nangisnya, banyak bersedihnya.

Padahal jika kita ingat pada Allah, bahwa IA yang mengatur setiap kejadian, lalu apa yang pantas kita sedihkan? Jika ujungnya kita bisa hidup bahagia.

Jadi yang namanya baik dan buruk itu tidak bisa kita simpulkan parsial, tidak bisa kita simpulkan setiap kejadian itu menimpa kita. Dia adalah keseluruhan dari rentetan peristiwa pada seluruh ruang dan waktu yang kita miliki.

Jadi kalau kita ingin bahagia, mulailah memandang setiap kejadian sebagaimana Allah memandangnya secara integral, utuh. Bila kita tidak mampu, maka percayakan kepada Allah, karena Dia Maha Tahu yang terbaik bagi kita.

Selamat menikmati hari ini. Peristiwa saat ini adalah mozaik peristiwa untuk menyusun kebahagiaan besar Anda kemudian.

Iklan
Posted in: Motivasi, Opini