Tulang Punggung Kaum Lemah

Posted on 11 Mei 2012

1



Tulang Punggung Kaum Lemah
Oleh : Insan Sains
Date : 11 Mei 2012

Kalau kamu nabung ke mana?
Bank

Kalau kamu pinjem uang di mana?
Koperasi

Ini lucu, dan diantara orang-orang yang lucu itu mungkin kamu salah satunya. Kamu simpan uang di orang lain (bank), tapi kalau lagi butuh malah ngedatangin aku (koperasi). Kamu berbagi suka dengan orang lain (bank), tapi berbagi duka malah dengan aku (koperasi). Aku sih nggak nyalahin kamu, emang fungsinya sudah digeser. Kamu tahu kan salah satu cabangku itu bernama Koperasi Simpan Pinjam, artinya kamu nyimpan, aku pun bisa kasih pinjam. Jadi gak ada Koperasi Pinjam, emang duit dari mana aku bisa minjemin kamu?

Awalnya aku berdiri karena kumpulan orang-orang di Purwokerto, lalu menjalir ke Tasikmalaya, juga ke daerah-daerah lainnya. Melihat potensi yang besar, pemerintah waktu itu akhirnya melirik dan mengadopsiku dan dijadikan proyek nasional. Bukan karena politik, tapi murni karena metode yang aku gunakan terbukti dapat menaikkan taraf hidup masyarakat kecil. Maka tidak salah kalau akhirnya aku dinobatkan sebagai soko guru (tulang punggung) perekonomian nasional.

Sayangnya gema ini berhenti ketika era reformasi. Aku seakan-akan terbenam, atau mungkin lebih tepatnya dibenamkan. Aku kira era reformasi memiliki pengganti terbaik setelah aku. Eh, tahunya hingga kini pun emang kamu sudah merasakan hasilnya? Bahkan gerak langkah menuju perbaikan ekonomi masyarakat kecil pun tidak terlihat. Aku sedih. Bukan karena aku tidak di gema-gema kan lagi. Tapi aku sedih, karena banyak rakyat semakin miskin, tapi orang kaya malah tambah kaya.

Jika kamu setuju, dan bertekad memperbaiki semua ini, aku siap membantu memulai semuanya dari nol lagi. Tolong hidupkan aku lagi, kendarai aku pada fungsi yang seharusnya, maka aku akan bawa para anggotanya menuju kemakmuran. Mengelola uang itu sederhana, karena uang itu seperti air, maka harus terus dialirkan supaya tetap jernih. Kalau kamu menyimpan uang di bank, maka kamu tidak akan memperoleh apa-apa kecuali bunga. Yang jumlahnya tidak sebanding dengan kenaikan inflasi. Sudah gitu MUI sudah menetapkan riba terhadap bunga bank. Emang kamu mau makan harta riba? Kamu bisa berhenti dan mengatakan tidak kepada bank, dan mulai menggalang dana di koperasi dan menggandakannya sesuai kehendak kamu. Gimana caranya?

Kelebihan dana yang biasa kamu simpan di bank, kini alihkan ke aku (koperasi). Jika tiap anggota melakukan demikian, maka aku akan punya dana segar yang melimpah. Yang biasa dilakukan bank dengan dana itu adalah membiayai usaha-usaha konglomerat. Karena usaha mereka sudah nampak hasilnya, dan mereka punya jaminan segunung. Jadi gak akan susah bagi bank membiayai mereka.

Sekarang kita balik kondisinya, dengan dana segar yang terkumpul, kita akan biayai usaha-usaha micro anggota, atau keluarga anggota, atau siapapun yang kompeten. Dengan demikian roda perekonomian baru akan lahir. Terapkan sistem bagi hasil dan ketentuan pengembalian modal. Bagi pemegang modal (anggota koperasi) diuntungkan dari persentase keuntungan bisnis, bagi pengelola modal (peminjam) pun diuntungkan karena tidak perlu syarat-syarat berbelit-belit dan mengharuskan jaminan bila ke bank.

Jangan pernah menumpuk dana, selain dana liquid yang bisa dikeluarkan setiap saat bagi anggota yang memerlukan kebutuhan mendadak. Cari pengelola dana yang kompeten. Lakukan pengawasan dan penyuluhan bila diperlukan, agar pengelolaan dananya maksimal. Hanya bisnislah yang membuat uang dapat beranak pinak, bukan dengan menabung alias menumpuk harta.

Jadi kembalilah kepada aku (koperasi). Makmurkan orang lemah, bukan memperkokoh kemakmuran konglomerat. Jika kamu setuju, mari hidupkan koperasi-koperasi di tempatmu. Insyaallah kemakmuran yang merata dapat tercapai.

Ditandai: , , ,
Posted in: Opini