Copy Paste VS Budaya Ilmiah

Posted on 12 Oktober 2008

14



Blogwalking pekan ini membuahkan banyak sekali inspirasi untuk membuat tulisan. Kali ini inspirasi itu datang dari Rindu. Salah satu blogger yang saya kenal tahu dan jarang sekali memberikan tanggapan atas komentar-komentar blogger lain yang masuk. Wajar-wajar saja bukan? Karena itu adalah hak dan pilihannya. Namun ada satu hal yang saya acungi jempol untuk blogger yang satu ini. Sejak saya tahu blognya, saya baca tiap postingannya. Tidak ada satu pun postingan “kacangan”. Benar-benar luar biasa. Dan karena keluar-biasaannya itulah makanya wajar pula bila akhirnya, Rindu punya banyak fans. Bukan hanya fans yang rela mampir di blog yang bernuansa gelap-gelapan, fans yang setia memberikan komentar pada setiap postingannya meskipun tak berbalas, tapi juga fans yang tanpa sepengetahuannya meniru mentah-mentah buah pikiran dan hasil renungannya. Fans terakhir itu pun entah disengaja ataupun tidak, mengutip semua tulisan-tulisan tanpa seijin si empunya blog.

Bukan begitu De?

Copy-Paste. Sebuah istilah yang muncul untuk menerangkan aktifitas duplikasi data dalam komputer. Namun sekarang istilah ini menjadi sangat umum untuk menerangkan aktifitas penggandaan atau peniruan sesuatu dari ujung hingga ke pangkal. Dan copy-paste ini nampaknya telah menjadi budaya yang mengakar di bangsa kita. Sah-sah saja sebenarnya, bila si pemberi copy-an mengijinkan, dan si pemaste tidak lupa diri kepada si pemberi copy-an.

Di sisi yang lain kita mengenal sebuah kata “ilmiah”. Sebuah istilah untuk menunjukkan proses pencarian fakta, penelitian, eksperimen, dan lain sebagainya sebelum akhirnya mengambil sebuah kesimpulan. Budaya ilmiah ini sering kita dapati pada skripsi-skripsi para calon sarjana. Hal lain yang termasuk ke dalam budaya ilmiah adalah, selalu memberikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang sedikit banyaknya, baik langsung maupun tidak langsung turut membantu dalam penyusunan kesimpulan. Selain itu pula, selalu menyertakan sumber pengambilan fakta maupun data ketika dirinya harus mencatut sebagian atau seluruh hasil pemikiran orang lain.

Sayangnya, bangsa kita jarang sekali menghidupkan budaya ilmiah ini. Jika kita mau coba membandingkan skripsi-skripsi dari sarjana-sarjana kita dengan bangsa lain. Akan sangat nyata terlihat, begitu pelitnya bangsa kita memberikan apresiasi, sumber referensi dan ucapan terima kasih untuk tiap kalimat yang ditulisnya. Padahal untuk merampungkan karya ilmiah tersebut, tentunya bukan datang langsung dari pemikirannya sendiri. Ada banyak sekali buku, ada banyak sekali link internet, ada banyak orang yang terlibat dalam penyelesaiaannya, walaupun secara tidak langsung. Tapi lagi-lagi, kita jarang memperhatikan budaya ilmiah ini.

Ups.. saya tak menyangka tulisan ini akan melebar kemana-mana. Saya coba memutar arah pembicaraan, supaya dapat suasana baru. Sekarang bagaimana jika kita adalah pihak yang “kecurian” itu?

Jangankan tulisan-tulisan Rindu yang sarat makna, tulisan saya yang tidak berbobot pun pernah dicopy-paste di blog orang lain. Untuk tulisan tidak berbobot yang “dicuri” itu pun saya dongkolnya bukan main. Jadi saya faham betul bagaimana perasaan Rindu yang tentunya membuat tulisan-tulisannya dengan segenap hati dan pikirannya. Saya pernah nekat memberikan comment kepada si peng-copy-paste itu untuk menyertakan link sumbernya. Apa yang saya dapat? Comment tersebut justru tidak dimoderasi. Bertambah jengkellah saat itu hati saya. Dan itu pun jengkel untuk sesuatu yang tidak berbobot.

Saya hampir frustasi dengan aktifitas copy-paste yang dilakukan oleh orang lain seenaknya itu. Hal yang sama mungkin dialami oleh para musisi, dan orang-orang yang kreatif menciptakan sesuatu. Di titik kritis itulah, untunglah ada dua hal yang kemudian membuat hati saya menjadi lebih lapang. Pertama, ada beberapa orang yang secara tidak langsung meminta izin, baik melalui email maupun komentar di blog untuk mengutip tulisan-tulisan saya. Baik untuk dimuat di blognya sendiri, maupun dibuat artikel di mading sekolah maupun kampusnya. Ah… senangnya bukan main. Ternyata bertemu dengan orang-orang Indonesia yang mampu menghargai hasil karya saudaranya sendiri.

Dan kebahagiaan itu menjadi lebih sempurna karena alasan kedua. Yaitu, teringat pesan guru tercinta saat masih di pesantren. Aa Gym sering mengatakan kepada saya agar jangan pernah ingin dipuja-dipuji manusia, karena kita akan capek sendiri. Lebih baik cari saja perhatian dari Allah. Singkat namun sangat dalam. Tapi nyatanya, saya lalai akan pesan guru saya ini.

Ah… itulah kesalahan terbesar saya. Tanpa tersadar, saya ternyata telah tergiring untuk menginginkan apa yang diinginkan manusia pada umumnya, kepopuleran alias popularitas. Itulah yang menyebabkan saya menjadi dongkol ketika ada orang yang meng-copy-paste tulisan saya. Padahal jika tujuannya adalah karena mengharap balasan dari Allah. Dan kita telah berusaha menulis dengan sebaik-baiknya. Telah menyampaikan kalimat-kalimat dakwah sesuai dengan kemampuan dan perkembangan zaman. Maka biarlah Allah yang membalasnya dengan cara-Nya.

Di halaman depan buku, maupun cover depan kaset maupun CD, kita selalu diingatkan untuk tidak melakukan tindakan penggandaan baik sebagian maupun seluruhnya. Namun apakah himbauan bahkan ancaman itu mujarab? Nyatanya, tidak sama sekali. Hal itu dikarenakan kita tak pernah bisa memaksa orang lain untuk berbuat sesuai dengan keinginan kita. Namun kita bisa memaksa diri kita untuk memandang indah setiap perbuatan yang dilakukan orang lain. Biarkanlah orang lain melakukan copy-paste, yang penting kebahagian adalah milik saya, dan tidak ditentukan dari sikap orang lain, bagaimana pun juga.

Saya yakin Allah Maha Melihat. Tak sehelai daun pun yang gugur dari batang pohon yang rindang, kecuali Allah menyaksikan tiap desiran angin dan tarikan grafitasi yang menjatuhkannya ke tanah. Jika alam saja, Allah perhatikan, bagaimana dengan manusia? Dia tidak akan menyia-nyiakan sekecil apapun amal yang diperbuat oleh manusia.

Apakah kita beranggapan Allah itu buta [subhanallah, Maha Suci Allah dari segala apa pun jua] sehingga bisa salah memberikan pahala? Bila ada orang lain yang tergerak hatinya untuk mengubah hidupnya lebih baik melalui tulisan kita, atau setidaknya tersentuh hatinya untuk melihat lingkungannya, maka Allah tentu akan menggantinya dengan pahala, sekalipun buah karya pikiran kita itu tersalurkan melalui tangan orang lain. Bisa jadi itu adalah pertolongan Allah untuk melipatgandakan pahala atas amal tulisan kita.

Hal inilah yang akhirnya membuat saya tidak mempedulikan siapa pun yang hendak meng-copy-paste tulisan-tulisan saya. Karena saya yakin, Allah tidak akan keliru memberikan pahalanya.

Tulisan saya ini tidak berarti saya melegalkan aktifitas copy-paste. Tapi saya lebih senang bila tindakan copy-paste itu diikuti dengan budaya ilmiah. Mari kita bangun kepribadian bangsa yang luhur dengan membangun kepribadian kita untuk mau dan bersedia menghargai hasil karya, cipta, dan rasa manusia yang lainnya.

PS : Meng-copy paste akhlak nabi Muhammad, bukan hanya diperbolehkan, bahkan sangat dianjurkan. Silahkan meniru setiap perkataannya, dan silahkan meniru sekecil apapun perilakunya.

Iklan
Posted in: Opini