Atur Niat, Biaya Operasional Nol

Posted on 14 Juni 2012

8



Atur Niat, Biaya Operasional Nol
Oleh : Insan Sains
Date : 14 Juni 2012

“Bang…” seru saya ke tukang ojeg yang berada tepat 3 meter di depan. “Ke komplek berapa?” pertanyaan basi yang saya lontarkan, meski jawabannya sudah bisa ditebak.

“20 ribu den”

Seperti dugaan saya, as usual. Padahal ongkos segitu, sama seperti naik taksi. Setiap malam ketika turun dari pintu tol Kebun Jeruk, taksi atau ojeglah dua opsi yang tersisa untuk sampai ke rumah. Mobil angkutan umum, biasanya jam 10 malam sudah hilang peredaran. Maka pilihan menggunakan ojeg adalah pilihan termurah berikutnya setelah angkot. Tapi bagaimana pun juga, tukang ojeg selalu menawarkan harga dua hingga tiga kali lebih besar dari tarif sesungguhnya.

“Sepuluh ribu deh bang…” tawar saya.

“Dua puluh den…” tegas si tukang ojeg.

“Dua puluh ribu mah naik taksi” argumen yang tentunya hasil dari sebuah pengalaman

“Komplek cukup jauh den, dua puluh ribu yah” tukang ojeg gak mau kalah berargumen

“Lima ribu atuh?” celetuk saya

“Wah.. si aden ngajak ribut…” jawabnya sambil menunjukkan nyengir kuda

“Nggak bang… gini… saya bayar abang lima ribu, tapi ngasih sedekah lima belas ribu” jelas saya

“Jadi dua puluh ribu?” tanya si tukang ojeg memastikan.

“Bukan… saya bayar lima ribu. Sedekahnya lima belas ribu” jelas saya sambil tersenyum

Sambil garuk-garuk kepala, si tukang ojeg memasang helm lalu menstarter motornya. “Ayo den…” ajaknya penuh keraguan. Sesampainya di rumah, saya sodorkan uang Rp. 20.000. “Makasih ya bang”.

Ini terdengar aneh, bahkan konyol menurut tukang ojeg itu. Tapi itulah kebiasaan saya. Jauh dekat, tukang ojeg selalu saya bayar Rp. 5.000. Uang selebihnya adalah sedekah. Meski saya mengeluarkan sejumlah uang yang sama, namun niatnya berbeda. Jika saya membayar Rp. 20.000 untuk ongkos ojeg, maka uang itu adalah uang jerih payahnya mengantarkan saya ke tujuan. Tapi jika tukang ojeg mau dibayar Rp. 5.000, dan Rp. 15.000 adalah sedekah. Maka secara matematis, tidak ada yang berubah. Tukang ojeg senang, saya terantar. Tapi ada point lebih di sini, yaitu pahala sedekah.

Saya pikir ini adalah ilmu negosiasi yang dikombinasi dengan ilmu sedekah. Matematika dibuat absurb di sini. Maka tidak heran banyak orang bilang, saya orang aneh. Termasuk tiga tukang ojeg langganan saya. Minta diantar ke perempatan yang hanya 5 menit, ongkosnya Rp. 5.000. Minta diantar dari Jakarta ke Tangerang, ongkosnya cuman Rp. 5.000. Minta diantar keliling Jakarta, ongkosnya pun Rp. 5.000. Termasuk semalam, saya ada pertemuan di daerah Atrium Senen, yang pada akhirnya harus beralih ke Cikini. Di lain pihak, saya pun harus mengambil paket barang dari luar negeri di daerah Tangerang. Maka tukang ojeg inilah yang bisa saya andalkan. Dan biaya untuk mengantar saya ke sana kemari, mengambilkan ini itu yang jaraknya puluhan kilo, biayanya sangat murah, yaitu Rp. 5.000.

“Berapa beh ongkos perjalanan tadi?” tanya saya

“Terserah aa aja” jawab si tukang ojeg langganan

“Seperti biasa yah, Rp. 5.000” tegas saya

“Sip”

Maka saya sodorkan uang Rp. 100.000, “Ini, Rp. 5.000 nya untuk ongkosnya, Rp. 95.000 nya untuk sedekah”

Bagi saya, pekerjaan itu sesederhana merubah paradigma seperti ini. Pada bisnis yang saya manage, meskipun secara nominal cost nya tinggi. Tapi secara pembukuan, saya berhasil meminimalisir biaya operasional. Dan secara sosial, saya berhasil meningkatkan dana kemanusiaan, baik yang wajib maupun yang sunnah. Dan jumlah social investment ini, puluhan bahkan ratusan kali lipat dibanding biaya operasional. Jadi hampir tidak ada apa-apanya.

Menyoal biaya operasional, saya jadi teringat pembicaraan pada rapat RUPS lanjutan mengenai unit bisnis bersama dua orang rekan. Kami sudah menghitung-hitung, dan menganalisis peluang bisnis ini. Namun hasil perhitungannya masih tidak memberikan keuntungan yang significant. Sampai kami berpikir bahwa ada paradigma yang harus diubah.

Awalnya biaya operasional yang meliputi biaya gaji, biaya sewa, dan biaya-biaya lain yang mengikutinya, kami anggap sebagai sebuah beban operasional. Namanya juga beban, maka pantas kalau terasa berat. Apalagi jika beban ini lebih besar dari pada profit yang didapat. Maka pertemuan kami berkutat seputar, apakah bisnis ini perlu dilanjutkan atau tidak. Tapi ketika kami berpikir untuk menganggapnya sebagai sebuah keuntungan, maka beban itu terasa sirna. Ya, kami menganggapnya sebuah keuntungan yang kami berikan pada orang lain. Gaji misalnya, memang benar secara cost kita mengeluarkan uang. Tapi bukankah uang tersebut hasil keuntungan usaha, yang berhasil kami berikan kepada orang lain. Maka ketika kami mengalihkan pandangan kami ke arah ini, analisis bisnis kami menjadi tiada apa-apanya. Karena keuntungannya ternyata sangat besar. Berhasil menjadi jalan bagi orang lain mendapatkan nafkah adalah keuntungan. Berhasil memberikan pemasukan atas sewa pada orang lain adalah keuntungan. Termasuk berhasil memberikan kelebihan penghasilan bagi tukang ojeg adalah keuntungan.

Jadi, menjadi seorang pengusaha itu pasti untung, dan membuka pintu keberkahan bagi orang lain. Dan ini adalah perkara cara pandang, dan strategi niat. Persis membayar ongkos tukang ojeg. Kita bisa membayar ongkosnya saja, atau kita bisa niatkan pula bersedekah. Inilah tafsir sebuah hadits terkenal tentang niat yang berusaha saya ragakan. Semoga niat ini berujung ikhlas.

Dari Amirul Mu’minin, Abu Hafsh Umar bin al-Khattab, dia menjelaskan bahwa dia mendengar rosulullah saw bersabda : “Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan niatnya. Barang siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rosul-Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya karena urusan dunia yang ingin digapainya atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkannya tersebut” (Shahih, HR. Bukhari dan Muslim)