Inspiring

Posted on 6 Mei 2012

1



Inspiring
Oleh : Insan Sains
Date : 5 Mei 2012

Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih(QS. Lukman, 31:7)

Al-Quran. Kalimat suci yang rindu bila sehari tak membalik lembaran juz nya. Setiap kali masa kecilku menginap di rumah nenek, satu hal yang tidak akan luput dari ingatan : setiap shubuh hingga fajr lantunan suara neneklah yang aku dengar. Itulah jatuh cinta yang pertama. Syair yang amat apik, yang meski aku kecil tidak tahu maknanya, irama lantunannya sungguh menawan.

Neneklah yang mengajari saya membaca kitab langit ini. Kitab yang membuat saya merasa jadi orang beruntung, menjadi salah seorang yang dikarunia melantunkan dan mengetahui luas kandungannya. Jatuh cinta yang membuat saya dewasa tidak segan-segan mengeluarkan uang untuk memiliki berbagai jenis al-Quran, mulai dari ukuran, warna, hingga kelengkapan tajwid maupun terjemah dan tafsir singkatnya.

Jatuh cinta ini pun kadang menjadi jatuh iri. Karena ternyata banyak pemuda lainnya yang lebih fasih dan lebih indah melantunkannya bahkan hafidz. Bukan hanya ini, saya lebih iri mendengar kajian ilmu yang membahas tafsir dan pengaplikasiannya pada kehidupan riil saat ini. Sepulang kajian, saya pasti menangis, karena kedangkalan saya mengenal Al-Quran. Saya hanya baru mengenal kulitnya.

Beruntung sekali yah, pemuda-pemudi yang mendapat kesempatan mempelajari bahasa Arab, mendalami Al-Quran dan hadist di negeri Hijaz, bahkan menghafalkannya. Pemahamannya akan lebih utuh, menyeluruh, dibanding saya yang hanya mempelajarinya dari buku tanpa guru.

Ya, tapi sudahlah, setiap orang memiliki jalan dan ladang amalnya masing-masing. Dengan pemahaman serba terbatas ini, saya hanya bisa berengkrama dengan Al-Quran. Membacanya di usai shalat, dan mencari inspirasi di dalamnya. Ya, saya menyebutnya mencari inspirasi. Lebih mudah pertanggung jawabannya bagi saya yang tidak mengerti bahasa Arab, yang belum dapat menghafalnya, apalagi mengetahui tafsir, dan asbabul nuzul nya. Dibanding mengkaji hukum, mencari inspirasi tidak mewajibkan kebenaran. Di sini saya diberikan ruang untuk salah. Ruang yang disediakan bagi ilmuwan-ilmuwan untuk mencoba experimentnya, dan mengumpulkan kegagalan demi kegagalan, kemudian membaca kembali hingga menemukan formula yang sesungguhnya.

Bukankah ilmu modern sekarang dilahirkan dari pemikiran ilmuwan-ilmuwan muslim pada masa keemasan Islam? Hal itu terjadi karena sumber inspirasinya adalah kitab suci. Suci dalam arti sebenarnya, tidak ada cacat, atau kesalahan di dalamnya. Maka tidak heran, ilmu dasarnya masih dipakai rujukan hingga kini. Dalam bidang kedokteran muslim jaya, dalam bidang astronomi muslim terunggul, dalam bidang mekanika dan robotika islam pencetusnya, dalam bidang matematik intelektual muslim yg melahirkannya, dalam bidang kimia umat islam juga asalnya, dan bidang-bidang lainnya. Tapi itu dulu.

Abad 20 ini, kondisi terbalik. Umat Islam justru terbelakang dalam keilmuwan-keilmuwan itu. Indonesia apalagi. Negeri muslim terbesar yang diharapkan jadi kakak bagi negeri-negeri muslim yang lainnya. Negeri yang menjadi pembela bagi kepentingan ummat. Nyatanya kita masih harus berproses puluhan tahun lagi untuk mempersiapkan generasi terbaik kita.

Kini kita lebih senang membuktikan kebenaran ilmu pengetahuan dan dicocokkan dengan Al-Quran, padahal dulu ilmu pengetahuan diciptakan dari inspirasi dalam ayat-ayat agung Al-Quran. Inilah bedanya kita saat ini, dengan ilmuwan-ilmuwan muslim terdahulu.

Kita masih bangga menemukan kecocokan ilmu pengetahuan dengan Al-Quran, padahal tugas kita lebih mulia dari itu, yaitu menterjemahkan kandungannya menjadi ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi alam. Inilah yang sedang saya coba sebagai ladang amal saya. Menerjemahkan dan mengambil inspirasi dari ayat-ayat langit ini.

Nah, hal inilah yang akan kita singgung berkaitan dengan judul dan kutipan suci salah satu ayat agung di awal tulisan. Ayat ini adalah inspirasi bagi inovator teknologi untuk membuat karya terbaiknya.

Setiap harinya ada saja mahasiswa yang konsultasi tugas akhirnya, baik via email maupun datang langsung ke rumah. Saya kira permasalahannya sama. Belum ada inspirasi, kalaupun sudah punya, tidak jauh beda dengan karya yang sudah dibuat mahasiswa lainnya. Kebanyakan project-project akhir mahasiswa tersebut hanya membuat sistem yang berhenti pada mengetahui kondisi lingkungan yang diukur. Misalnya membuat sistem kebocoran gas. Sistem itu hanya mengisyaratkan dengan bunyi alarm, atau sms ke si pemilik rumah. Atau ambil contoh lain, sistem alarm gempa, sistem pengukuran kualitas udara, dan masih banyak sistem-sistem lain yang saya pikir serupa dengan ayat pada surat Lukman ayat ke 7 di atas.

“Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih” (QS. Lukman, 31:7)

Kesamaannya dimana?

Begini…. *gaya dosen menerangkan*😀

Kata Al-Quran, sistem yang baik itu tidak hanya berhasil “mendengar ayat-ayat” saja. Jadi ambil contoh sistem kebocoran gas. Karena saya pikir ini lebih umum, dan setiap orang dapat membayangkannya. Kita sudah mengetahui bersama, bahwa banyak terjadi ledakan tabung gas baik yang terberitakan media massa maupun tidak. Hal ini dipicu tidak lain karena kebocoran gas.

Lalu ada mahasiswa membuat sebuah project untuk mendeteksi kebocoran tersebut. Dan saya rasa, ini bukan pertama kalinya dibuat, karena saya yakin di belahan daerah sana, mahasiswa-mahasiswa yang lain pun menciptakan yang serupa.

Kalau hanya tahu ada selang gas yang bocor, dan bisa berakibat meledak karena tersulut api. Maka percuma kalau hanya alarm yang bunyi, atau katakanlah yang lebih canggih lagi, ada pesan sms ke hp maupun facebook wallnya, “Gas Bocor Tuan”. Kata Al-Quran, hal itu sama dengan “seolah menyombongkan diri, tidak mendengar”, bahkan terancam “azab yang pedih”. Jadi sistem seperti ini tidak perlu diteruskan, melainkan harus dikembangkan.

Gimana caranya?

Ada pada ayat selanjutnya :

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh, bagi mereka surga-surga yang penuh kenikmatan” (QS. Lukman, 31:8)

Nah, kata Al-Quran, sistem yang baik itu kayak orang yang beriman. Doyan mengerjakan amal shaleh. Artinya ada action-action yang dilakukan. Jadi kalau diterapkan dalam sistem kebocoran gas. Maka buat saja sistem yang beriman, yaitu sistem yang jika terdeteksi gas bocor dapat otomatis menutup aliran gas. Tinggal diperbarui sistem di regulatornya. Sensornya bisa berupa sensor gas seperti MQ2 atau MQ5 (utk hidrogen). Lalu jika terlanjur dan terjadi ledakan pertama, maka tambahkan sebuah sistem ledak juga, yang meledakkan balon pasir atau fire extinguisher untuk memadamkan api seketika. Ini namanya sistem yang benar-benar cerdas, dan memberikan rasa aman. Sebagaimana seorang muslim, harus memberikan rasa aman dan selamat.

Hal seperti ini belum ada. Kenapa belum di develop? Karena kita jarang menjadikan Al-Quran sebagai inspirasi. Ayo, silahkan yang ingin mencuri ide ini. Jadikan alat seperti ini nyata. Orang pasti akan membeli, meski ada tambahan biaya. Tapi siapa yang ingin bermain dengan nyawa dan berharap beruntung tabung gas tidak pernah meledak?