[Konspirasi] Uji Emisi Mobil eSeMKa

Posted on 28 April 2012

3



[Konspirasi] Uji Emisi Mobil eSeMKa
Oleh : Insan Sains
Date : 27 April 2012

Sebelumnya mohon maaf dengan judul tulisan ini. Terlebih penambahan kata “konspirasi”. Ini hanya semata-mata ditujukan untuk menarik minat baca, supaya lebih terlihat keren. Padahal apa-apa yang disampaikan dalam tulisan ini bukanlah tulisan ilmiah, sama sekali tidak menyampaikan data-data, pembuktian terbalik, ataupun statistik, melainkan hanya logika awam. Tulisan ini semacam cara pandang dari sudut yang lain. Anda boleh sependapat boleh juga tidak.

Tentu jika Anda masih ingat, bulan Februari 2012 kemarin kita dibuat bangga dengan dipublikasikannya mobil karya anak negeri yang dinamakan eSeMKa. Di berbagai berita, blog, bahkan jejaring sosial tema mobil anak bangsa ini menjadi top news. Gimana tidak bangga, mobil sekeren ini dibuat oleh anak-anak SMK di Solo. Saya tekankan sekali lagi, anak-anak loh yang bikin (atau paling tidak,   merakit), bukan industri otomotif.

Bisa kita bayangkan, mobil perdananya saja bisa sekeren itu. Gimana kalau sudah didevelop secara serius? Apalagi jika engineering dan ahli mikrokontroler sudah ikut menggarap pengembangannya. Saya sangat yakin, Indonesia bisa bikin mobil setingkat diatas BWM maupun Camry. Kenapa saya katakan demikian? Karena tiap minggunya saya kedatangan pelajar dan mahasiswa-mahasiswa yang kreatif yang men-share ide-idenya. Jadi soal kreatifitas, masyarakat Indonesia jagonya.

Hanya saja saya cukup terkejut mendengar bahwa mobil hebat buatan anak SMK ini ternyata harus menunda mimpinya untuk dikendarai masyarakat Indonesia. Keterkejutan ini mungkin melanda Anda juga. Meskipun mungkin sebagian orang malah mensyukuri (baca : mengolok-olok). Pada awal Maret mobil eSeMKa dinyatakan “gagal uji emisi”. Saya memahami arti olok-olokan tersebut, karena pemberitaan tentang kegagalan ini dibumbui dengan peristiwa sebelumnya. Dimana eSeMKa dimandikan dengan upacara tujuh kembang.

Hoho.. saya tentu salah seorang yang sama sekali tidak setuju dengan hal demikian. Tapi terlepas dari peristiwa ini. Ada pertanyaan mendasar yang ingin saya kemukakan :

“Benarkah mobil eSeMKa gagal uji emisi?”

Ini memang pertanyaan yang patut disampaikan ulang. Karena selama ini kita hanya mendengar kabarnya, “gagal uji emisi”. Benarkah demikian? Siapa tahu yang ngasih kabar cuman burung. Lah emang burung mana yang kabarnya bisa langsung kita percaya? Beritanya kegagalan ini hanya disampaikan “katanya”. Hanya dari mulut ke mulut. Entah mulut siapa sesungguhnya.

Uji emisi ini sebenarnya adalah ranah ilmiah. Jadi harusnya dapat berargumen dan memberikan keputusan berdasar data (record fakta yang terjadi). Tapi “pemain lama” tentu tidak ingin kehilangan lapaknya. Wong dia sudah berjaya di Indonesia sekian puluh tahun, masa mau dikalahkan sama anak-anak kemarin sore. Tentu harga jual mobil akan lebih murah.

Coba bayangkan sejenak bila seandainya ketika itu mobil eSeMKa lulus uji emisi. Apa yang akan terjadi? Indonesia akan punya mobil nasional, diproduksi massal. Keren, fitur canggih, harganya murah. Pejabat dan menteri bisa pakai mobil nasional ini. Sudah bisa dihitung berapa anggaran negara yang bisa dihemat. 800%. Gila, angka yang fantastis. Cukup untuk membiayai pendidikan dan merenovasi sekolah-sekolah di desa yang bangunannya tidak layak dibilang sekolah.

Apakah eSeMKa akan dipakai oleh kita saja? Tentu saja tidak! Bangsa tetangga akan melirik. Wuiiih.. bagus! Import dong. Mereka akan bilang seperti itu. Sudah bisa dihitung penambahan kantong devisa kita. Anak-anak kita akan bangga ketika nonton TV, “ih… mah coba liat… itu mobil eSeMKa dipakai di film Holywood”.

Perubahan besar akan terjadi di negeri ini. Jangan dikira imbasnya akan berhenti sampai di situ. Indonesia akan buka pabrik dan showroom-showroom. Puluhan ribu tenaga kerja bisa direkrut. Yang jelas, tingkat pengangguran akan otomatis terkikis. WNI-WNI yang bekerja apalagi disiksa di negeri lain, tentu bisa kita rangkul dan ajak kembali di negeri sendiri. Mencari nafkah sambil berkumpul keluarga. Taraf hidup dan kebahagiaan meningkat.

SMK-SMK yang lain akan terlecut. Yang jurusan mesin akan bikin sparepartnya, yang jurusan elektro akan bikin kendali elektrikalnya, yang jurusan komputer akan bikin digitalisasinya, yang jurusan robot akan bikin kecerdasan buatannya, yang jurusan seni akan bikin design futuristiknya, yang jurusan transmisi akan bikin mobile konektifitasnya.

Wuiiiih… kita akan punya mobil terhebat sepanjang sejarah. Ini pasti! Hanya soal waktu dan kesabaran mengembangkannya.

Eit.. apa sudah sampai di sini. TIDAK! SMK yang lain akan terlecut untuk bikin pesawat sendiri, pesawat tanpa awak nyaingin punya Amrik. Yang lain akan mengembangkan teknologi militernya. Dunia robot Indonesia pun akan tumbuh, dan masih banyak hal lain yang menjadi turunan dari keberhasilan mobil eSeMKa ini.

Tapi bayangan tersebut tiba-tiba pudar ketika mobil eSeMKa dinyatakan “gagal uji emisi”. Jika yang gagal adalah sekedar uji emisinya saja mungkin tidak jadi soal. Tapi kegagalan yang lebih besar adalah masyarakat Indonesia kehilangan rasa nasionalisme. Justru ketika kegagalan itu diberitakan, masyarakat leih banyak yang berkomentar miring, hanya karena berita tersebut dibumbui dengan “upacara kembang tujuh rupa”.

Jelas isu-isu semacam ini sangat mudah di blow up. Kita jadi kehilangan akal jernih sekedar untuk mempertanyakan “Mana buktinya?”

Ini sungguh membuat hati saya sedih. Kita hampir berjaya loh. Kita hampir menjadi bangsa yang mandiri loh. Tapi kenapa kita mau mengalah dengan isu-isu yang dibuat “pemain lama”? Mereka cuman takut tidak bisa jualan lagi di Indonesia.

Kalau cuman 2 dari 11 point eSeMKa dinyatakan tidak lulus uji. Masa kopaja rombeng aja masih sumringah berkeliaran, lah ini mobil berkelas gak lolos uji. Uaneh ini. Jadi jika Anda, saya, kita sepakat, mari bangkitkan lagi rasa nasionalisme kita. Kita bilang :

“Kami ingin menguji lagi mobil eSeMKa. Kami mengundang teknisi terhandal dari 10 negara yang menguasai bidang otomotif beserta peralatan tercanggihnya. Mari kita uji mobil buatan anak-anak kami secara terbuka”

“Kalau pun semuanya mengatakan eSeMKa tidak lulus, maka kami dengan berdarah-darah memaksa pemerintah menurunkan standar uji sehingga eSeMKa bisa diproduksi dalam negeri”. Nah loh… apalagi alasannya? Kita cuman ingin mandiri kok jadi bangsa, kok dipersulit.

Iklan
Posted in: Opini