Life is Too Short

Posted on 30 Maret 2012

6



Life Is Too Short

oleh Andres Frans Bolla pada 16 Agustus 2011 pukul 9:40

This is your life.

Do what you love, and do it often.

If you don’t like something, change it.

If you don’t like your job, quit.

If you don’t have enough time, stop watching tv.

If you are looking for the love of your life, stop; they will be waiting for you when you start doing things you love.

Life is simple.

Stop over analyzing, all emotions are beautiful.

When you eat, appreciate every last bite.

Open your mind, arms, and heart to new things and people, we are united in our differences.

Ask the next person you see what their passion is, and share your inspiring dream with them.

Travel often; getting lost will help you find yourself.

Some opportunities only come once, seize them.

Life is about the people you meet, and the things you create with them so go out and start creating.

Life is short.

Live your dream and share your passion.

———————-

Hidup ini begitu singkat ya Dok?! Jawab dia tenang setelah mengetahui bahwa kankernya mengganas. Dia tahu hidupnya mungkin tak akan lama lagi. Umur 27 bukan jaminan masih bisa menikmati secangkir kopi panas besok. Atau sekedar mengupdate status facebook. Leukimia hanya sebuah reason, hakikatnya Allah yang menginginkannya kembali.

Anda dan saya mungkin tidak bisa merasakan apa yang dia rasakan ketika mengetahui bahwa umurnya tinggal hitungan bulan, mungkin pula hari. Bagi kita dunia serasa masih bisa kita reguk dan ajak bermain-main. Kita melihat jam hanya untuk mengetahui waktu, dan selanjutnya kita terbahak atau sebaliknya terbenam dalam rutinitas kalau tidak sedang galau.

Sesuatu memang menjadi berharga karena salah satunya alasannya, sedikit. Coba saja kita tengok harga handphone 5 atau 8 tahun yang lalu. Sangat mahal. Ya, karena langka, karena sedikit. Namun ketika handphone menjadi hal yang lumrah, ibarat kacang goreng, yang beli bisa siapa saja sekarang.

Begitu pula waktu, terasa nikmat dan berharga karena dimiliki sedikit. Andres Frans Bolla, salah satu kawan terbaik saya selama 4 tahun di STM. Persahabatan yang terbangun apa adanya, tanpa tendensi apapun, tanpa kepentingan apapun. Murni jalinan persahabatan, yang akhirnya membuahkan sebuah kesan dan kenangan yang terlalu sayang untuk dilupakan. Makanya tidak salah kalau ada lagu yang mengatakan bahwa “masa-masa paling indah, adalah masa-masa di sekolah”.

Januari kemarin Andres sudah tiada, tapi ada pesan di facebooknya 5 bulan sebelum kepergiannya. Sebuah puisi singkat dalam bahasa inggris yang mungkin dia tujukan pula bagi saya. Juga pastinya bagi Anda. Dia bilang “Life is Too Short”. Saya membayangkan saat Andres menulisnya, dia pasti sedang merenungkan cita-cita tingginya tahun depan, lima tahun yang akan datang, 10 tahun yang akan datang, 50 tahun yang akan atang. Yang pada akhirnya dibatasi jatah nafasnya yang tinggal secuil. Andres seorang yang cerdas, fasih berbahasa Inggris. Jangan dikira saya tidak iri dengan kelebihan-kelebihannya.

Tapi inilah hidup. Manusia cerdas dan banyak karya justru dipanggil lebih dulu. Hidup memang terlalu singkat ya Ndres..

Hari ini saya sudah keluar dari pekerjaan kantoran saya

Hari ini saya sedang mengerjakan apa yang saya senangi

Hari ini saya sudah tidak lagi menonton TV

Dan saya sedang belajar menikmati setiap suap makanan

Saya tidak akan menyia-nyiakan waktu berlalu tanpa hasil

Hidup itu terlalu singkat ya Ndres…

Sayangnya banyak orang seperti saya yang terlena…. 😦

Iklan
Posted in: Personal