#7 Ramadan

Posted on 8 Agustus 2011

3



Lir-ilir, lir-ilir
Bangun, bangun

tandure wis sumilir
Pohon sudah mulai bersemi,

Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Demikian menghijau bagaikan gairah pengantin baru

Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Wahai penggembala, panjatlah pohon blimbing itu

Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro
walaupun licin(susah) tetap panjatlah untuk mencuci pakaian

Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Pakaian-pakaian yang koyak(buruk) disisihkan

Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore

Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
Mumpung terang rembulannya, mumpung banyak waktu luang

Yo surako… surak hiyo…
Mari bersorak-sorak ayo…

Setelah para nabi dan rosul, ada pemikiran manusia seperti kita yang tidak punah dimakan jaman. Karya-karya mereka tetap ada, meskipun bumi menelan jasad mereka, dan langit kehilangan ubun-ubun mereka. Einstein misalnya, formula E = mc2 nya masih tersohor hingga saat ini. Atau F = m.a nya Newton. Dalam bidang kesenian kita mengenal Mozart, atau The Beatles, bahkan kita juga tidak asing dengan grup musik Bimbo. Mereka ibarat orang-orang yang menanam pohon lintas jaman. Satu hal yang mungkin membuat karya mereka tetap diingat, yaitu “sarat makna” sehingga tidak bisa ditafsirkan 1000 tahun oleh 1000 orang.

Persis seperti syair lagu “Ilir-ilir” ini. Apapun tafsir kita tentang syair ini, nyatakanlah. Tafsir kita mungkin tidaklah tepat, tapi tidak mengapa. Syair lagu ini terlalu luas untuk kita arungi sendirian, jadi biarlah kita mentafsirkan sesuai dayung jaman yang kita miliki, serta keadaan ombak yang kita alami.

Ilir.. Ilir… Bangun.. Bangun.. Hey kamu yang tidur, kamu yang bermalas-malasan, ayo bangun. Segeralah sadar, buatlah sebuah perubahan. Bangun dari tidur panjangmu, bangun dari kemalasanmu, bangun dari kemaksiatanmu, bangun dari kekikiranmu, bangun dari kebodohanmu, bangun!

Tandure wis sumilir. Pohon sudah mulai bersemi. Ini bulan ramadan, bulan penuh barokah, bulan pengampunan dosa, bulan dilipatgandakan pahala, bulan dimana Allah sendiri yang langsung membalas setiap amal perbuatan. Tidakkah kamu merasakan pintu-pintu surga terbuka, dan pintu-pintu neraka ditutup, dan syetan-syetan dibelenggu.

Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar. Demikian menghijau bagaikan gairah pengantin baru. Lihatlah orang berbondong-bondong ke mesjid ingin dekat dengan Allah di bulan ini. Topi berganti peci. Baju koko dan kerudung tak lagi di lemari. Al-Quran nyaring di sana-sini. Waktu adzan dinanti-nanti. Hari ini persis seperti harinya pengantin baru yang tidak mau jauh sedikitpun.

Oleh sebab itu bangun. Ini bulannya bekerja, menyemai kebaikan, bulan memperbaiki diri, menyamai manfaat. Ini bukan bulan untuk berleha-leha, dan selonjoran menunggu bedug maghrib. Ada berlimpah pahala, namun ia tidak datang dengan sendirinya. Maka bangun, dan kejarlah!

Cah angon-cah angon. Wahai penggembala. Yang dipanggil adalah penggembala, bukan pejabat, bukan jendral, bukan presiden, bukan orang kaya. Melainkan penggembala. Orang yang dititipi gembalaan. Jangan merasa tidak memiliki gembalaan. Karena Anda, saya, kita telah dititipi jasad, hati, dan akal oleh Allah. Itulah gembalaan kita. Tentunya salah satu dari kita bisa saja seorang pejabat, seorang jendral, seorang hartawan, bahkan seorang presiden, tapi kita memiliki gembalaan yang serupa. Oleh sebab itulah yang dipanggil yaitu “cah angon”, yang berarti kita semua.

Untuk apa kita dipanggil?

Penekno blimbing kuwi. Panjatlah pohon blimbing itu. Kita disurut memanjat pohon. Secara spesifik disebutkan dengan blimbing. Buah dengan bentuk pentagonal, lima. Entah apa tafsir Anda tentang “lima”. Bagi saya, kita sebagai penggembala diminta untuk menegakkan : (1) dua kalimat syahadat dengan ketulusan hati, (2) shalat dengan kehadiran khusyu, (3) zakat dengan rendah hati, (4) shaum ramadan dengan jiwa dan raga, (5) serta haji dengan penuh kesungguhan.

Sang penyair tahu bahwa untuk melakukan “lima” hal tersebut merupakan hal yang sulit. Makanya beliau berpesan.

Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro. Walaupun licin (susah) tetap panjatlah untuk mencuci pakaian. Jadi meskipun licin, meskipun susah, meskipun harus dengan kepayahan. Tetaplah memanjat! Jangan dipotong, jangan ditebang. Jika masih sulit shalat khusyu, teruslah shalat dengan berusaha khusyu. Jangan karena gagal khusyu, kita tebang shalat kita dengan memperpercepat bacaan tiap rakaat, sehingga shalat malam ramadan (tarawih) kita seperti olah raga burung pelatuk. Bacalah Al-Quran tapi fahami artinya, jika belum mampu, jangan kita potong dengan melalaikannya. Tetaplah membaca sambil sedikit demi sedikit memahami maknanya. Bershaumlah dengan jiwa dan raga kita, jika belum mampu jangan kita habiskan tidur dan kemalasan, tetaplah bershaum dengan melakukan hal-hal bermanfaat.

Air sari pati blimbing itu dulu sering digunakan untuk membersihkan pakaian yang sangat kotor. Demikian juga dengan ke”lima” (rukun Islam) tersebut, berguna untuk membersihkan “pakaian” kita yang kotor. Pakaian adalah sesuatu yang mencerminkan diri kita. Pakaian tersebut adalah akhlaq atau kepribadian kita. Sadarilah bahwa berbohong itu merobek pakaian kita, melalaikan hak Allah dan manusia lainnya mengoyak pakaian kita, bahkan berprasangka buruk terhadap orang lain mengotori pakaian kita. Maka bersihkanlah! Dengan terus memanjat pohon blimbing itu.

Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir. Pakaian-pakaian yang koyak(buruk) disisihkan. Akhlaq dan perilaku buruk kita tinggalkan. Jaga lisan terhadap orang lain. Ucapkanlah yang baik, atau diam. Berikanlah muka senyum daripada muka masam.

Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore. Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore. Tinggalkan sifat kikir, jahit dengan gemar bersedekah. Jauhi mencuri hak orang lain, jahit dengan senang memberi. Gantilah setiap perangai buruk dengan perangai yang baik. Tutupilah dosa-dosa dan khilaf kita dengan amal-amal shaleh. Untuk apa? Untuk sebuah akhir dari perjalanan hidup. Saat matahari tidak lagi bersinar, saat bumi dan langit hanya tinggal sejarah.

Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane. Mumpung terang rembulannya, mumpung banyak waktu luang. Mumpung kita ada dalam bulan ramadan, mumpung Allah mengabulkan doa orang-orang yang bershaum. Mumpung kita masih diberikan waktu hidup dan menikmati jamuan ramadan kali ini.

Yo surako… surak hiyo… Mari bersorak-sorak ayo… Mari kita bergembira di bulan ini. Pahala bertebaran dimana-mana. Jalan ke surga lebar terbentang tanpa hambatan. Musuh paling nyata (setan) sedang dibelenggu. Allah menunjukkan dan menurunkan kasih sayangnya ketimbang adzabnya di bulan ini. Makanya disebutkan orang yang merugi yaitu orang yang tidak mendapatkan apa-apa di bulan ramadan ini selain lapar dan haus saja. (Insan Sains)

Iklan
Posted in: Renungan