Pemberian Itu Untuk Dipakai Bukan Disimpan

Posted on 23 April 2011

5



Sambil menunggu lem dari project robot saya mengering, saya kirim sms, kemudian telp. Eh, gak ada jawaban. Ya sudah, kalau begitu menulis saja…😀

Kita tidak dapat memaksa orang yang kita hadiahi untuk selalu menggunakan hadiah dari kita, apalagi lebih mengutamakannya dibanding sesuatu yang sejenis lainnya. Kadang saya merasa saya telah memilih barang yang tidak tepat untuk diberikan, atau bisa jadi saya memberikan pada orang yang tidak tepat. Gondok rasanya bila kita mengetahui pada kenyataannya pemberian itu dianggap biasa-biasa saja, apalagi sampai tidak digunakan. Apakah ini terjadi pada saya saja? Entahlah…!! Tapi hal ini memberikan saya pelajaran berharga. Apa itu?

Jika hidup ini adalah pemberian. Mengapa tidak saya gunakan dengan baik?

Jika harta ini adalah pemberian. Mengapa tidak saya manfaatkan sesuai keinginan Sang Pemberi?

Jika akal pikiran ini adalah pemberian. Mengapa tidak saya gunakan setiap saat?

Nah, hal yang ketiga menarik untuk ditelaah. Akal pikiran. Menyambung seminar yang disampaikan oleh Mr. Oku-san. Beliau bilang begini : “Orang Jepang itu lebih dekat dan disayang Tuhan“. Dia tidak menyebutkan objek yang dibandingkannya. Beliau hanya bilang “Orang Jepang” namun tidak menyebutkan “dibanding orang titik-titik”. Tapi saya faham dan dapat membaca maksud beliau. Objek yang dibandingkan itu adalah “orang Indonesia”. Why? Karena yang dikasih seminar bukan orang Jepang, tapi orang Indonesia tulen.🙂

Kenapa orang Jepang itu lebih dekat dan lebih disayang Tuhan. Beliau melanjutkan, “karena orang Jepang setiap saat menggunakan akal pikirannya“. Ughh… nonjok banget tuh. Fakta yang saat ini tidak bisa dibantah. Dimana-mana kalau kita menggunakan produk elektronik atau teknologi canggih lainnya, mulai dari motor, mobil, televisi, ac, dll pasti produksi Jepang. Dan ini bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan di seluruh dunia. Bukankah produk-produk tersebut hasil akal pikiran? Dan yang lebih menakjubkan bukan hasil akhir karya tersebut, melainkan bagaimana cara orang Jepang menghasilkan produk-produk yang “menjajah” dunia tersebut.

 Dengan filosofi Kaizen, orang-orang Jepang selalu berfikir. Mohon dicamkan sekali lagi “selalu berfikir”. Ada kata “selalu” yang artinya dilakukan setiap saat, tidak pernah tidak. Mereka selalu berfikir :

– Bagaimana menghasilkan produk baru yang lebih bagus mutunya

– Bagaimana menghasilkan produk baru yang lebih murah harganya

– Bagaimana menghasilkan produk baru tanpa menambah biaya, tanpa menambah orang, dan tanpa menambah mesin

Kaizen telah mendarah daging dalam alam pikiran orang Jepang. Jika mereka telah menemukan sesuatu yang baru, sesuatu cara baru, mereka tidak lantas puas, karena mereka akan berpikir “adakah cara yang lain”. Mereka bahkan menyebut orang yang hari ini bekerjanya sama seperti hari kemarin, sama dengan orang gila. Persis seperti kata Einstein :

“Insanity is doing the same things over and over again. And expecting different results”.

Jadi Einstein bilang yang disebut orang gila itu yaitu orang yang melakukan hal yang sama terus menerus dan menginginkan hasil yang berbeda.

Yah, kata-kata Einstein ini cukup nendang. Silahkan menterjemahkan sendiri ke aktifitas sehari-hari kita. Jika keseharian kita masih sama, itu-itu terus namun ingin hasil yang lebih baik, lebih banyak, maka Einstein bilang orang itulah orang gila beneran. Saya tidak tahu betul apakah Einstein membaca Al-Quran dan Hadits, tapi setidaknya apa yang dia bilang sebagai orang gila persis seperti kalimat “Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka dialah orang yang beruntung. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka dialah orang rugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka dialah orang yang bangkrut”. Kita selalu membuat pembenaran, “Emang bisa setiap hari lebih baik?”. Kita masih bertanya, tapi orang Jepang sudah membuktikannya dengan karya nyata, bahwa hal itu BISA.

Allah sudah memberi kita hadiah yang tidak dimiliki makhluk manapun. Akal Pikiran. Jadi gunakanlah setiap saat! Tong dianggurkeun (baca : jangan dibiarkan menganggur). Allah akan sayang bila pemberiannya selalu dijaga dan digunakan. Yuk, mulai sekarang sama-sama berterima kasih kepada Allah atas hadiah akal pikiran dengan cara menggunakannya setiap saat. Jika orang Jepang bisa, mengapa kita tidak?

Oke, nampaknya lemnya sudah cukup mengeras, saya harus melanjutkan lagi aktifitas saya. Bermalam minggu dengan akal pikiran..🙂 Bagaimana dengan malam minggu Anda?

Posted in: Renungan