[Pelangi Ramadhan] 02 Jamuannya Orang-orang Beriman

Posted on 15 Juli 2010

12



Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Apa kabar sahabat Pelangi Ramadhan. Saat ini kita telah memasuki bulan Sya’ban. Berarti kurang dari 30 hari lagi kita akan bertemu dengan bulan ramadhan (insyaAllah jika Allah masih menyisakan umur bagi kita). Jika kita mau bertanya pada diri sendiri, seberapa berartikah shaum ramadhan bagi kita?

Jawaban atas pertanyaan tersebut akan menentukan seberapa besar kepedulian dan perhatian kita kepadanya. Ini amat ditentukan dari seberapa faham kita mengenai manfaat shaum ramadhan. Ketidaktahuan manfaat akan membuat kita kurang ‘care‘. Yang menyebabkan persiapan untuk menjumpainya pun nol besar.

Kita akan memulainya dari definisi shaum terlebih dahulu. Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa “shaum” secara bahasa diartikan sebagai “menahan”, sedangkan menurut istilah berarti usaha yang disertai dengan niat seseorang untuk menahan diri dari sesuatu yang membatalkan shaumnya, dimulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Shaum termasuk jenis ibadah yang paling tua dalam peradaban manusia. Dan bukan hanya terjadi pada makhluk bernama manusia, melainkan juga pada beberapa jenis binatang.

Pernah dengar lagu yang sering dibawakan Bimbo?

“Ada anak bertanya pada bapaknya
Buat apa berlapar-lapar puasa”

Demikian penggalan syair lagu tersebut. Sebuah pertanyaan yang amat wajar disampaikan. Yang pada intinya mempertanyakan, mengapa kita mesti menahan lapar di saat kita bisa makan? Toh makanan yang kita makan, halal, dan kepunyaan kita sendiri. Kenapa pula harus menyiksa diri menahan minum di saat kita bisa meneguk air, melegakan tenggorokan? Toh minuman yang diminum, minuman kita, dan halal pula.

Itulah sebabnya mengapa shaum menjadi ibadah paling mulia, dan paling personal. Karena ibadah shaum hanya bisa disaksikan oleh dirinya dan Tuhannya saja. Kita bisa saja meneguk air saat berwudhu dan orang lain tidak ada yang menyangka itu. Tapi Allah tentu tahu.

Nah, kesadaran adanya pengawasan dari Allah itulah yang merupakan manfaat pertama kita melakukan shaum. Lalu apa manfaatnya ketika kita dapat menghadirkan Allah dalam setiap aktifitas kita? Tentunya, kita akan selalu berada dalam rel kebaikan. Lalu untuk apa kita berada dalam rel kebaikan? Jawaban atas pertanyaan ini untuk sementara kita simpan dulu.

Manfaat kedua ketika kita melaksanakan shaum adalah tumbuhnya kemampuan menahan nafsu. Untuk apa kemampuan menahan nafsu ini? Agar kita tidak terjerumus dosa. Bukankah dosa asal itu bermula dari dua hal, perut dan yang dibawah perut. Lalu apa manfaatnya tidak melakukan dosa? Sekali lagi jawaban untuk pertanyaan ini untuk sementara kita simpan dulu.

Manfaat ketiga ketika kita melaksanakan shaum adalah terhapusnya dosa. Bukankah ada jaminan pengampunan dosa bagi orang-orang yang berhasil melaksanakan shaum? Dan pertanyaan skeptis selanjutnya adalah apa gunanya dosa kita terhapus?

Baiklah sekarang kita rumuskan beberapa pertanyaan yang belum terjawab sebelumnya :
– Untuk apa kita berada dalam rel kebaikan?
– Apa manfaatnya kita tidak melakukan dosa?
– Apa gunanya dosa kita terhapus?

Jika kita ambil garis temu ketiga pertanyaan tersebut, maka jawabannya akan mengerucut pada sebuah kesimpulan. Surga dan Neraka. Kita berada dalam rel kebaikan karena ingin surga. Kita tidak melakukan dosa karena takut masuk neraka. Kita ingin dosa terhapus karena inginkan surga, dan menolak neraka. Surga dan neraka, suatu tempat yang amat ghaib, tidak bisa dijangkau akal. Yang tidak bisa kita buktikan bahwa kedua tempat itu benar-benar ada, ataukah hanya sebuah cerita sejarah yang dibuat nenek moyang kita.

Kita meyakininya ada, hanya karena kita yakin dan mengimaninya ada! Titik! Seorang pelari marathon akan terus berlari meskipun nafasnya tersenggal dan amat kelelahan. Karena apa? Karena dia tahu bahwa garis finish itu ada. Meskipun dia belum pernah sampai kepadanya. Inilah ranah iman. Mempercayai sesuatu yang ghaib. Seberapa besar keimanan kita terhadap adanya “garis finish” tersebut, akan menentukan seberapa besar tekad dan usaha kita untuk sampai di garis akhir itu.

Pertanyaannya sekarang, “Seberapa besar keyakinan kita terhadap adanya surga dan neraka?

Jika kita tidak benar-benar meyakininya ada, maka shaum yang akan kita laksanakan akan sia-sia. Persis seperti yang Rosul sabdakan, “Ada diantara ummatku yang mereka berpuasa, namun tidak mendapat apa-apa, selain lapar dan haus semata”. Untuk itulah mengapa dalam ayat kewajiban puasa, yang diseru adalah orang-orang yang dihatinya memiliki iman. Orang-orang yang percaya bahwa “garis finish” itu ada.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa(QS. Al-Baqarah, 2:183)

(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, ….” (QS. Al-Baqarah, 2:2)

Sahabat pelangi ramadhan, jika kemarin shaum kita tidak banyak membuahkan perbaikan dan kesan mendalam, maka saat inilah kita memulainya. Jika shaum kemarin persiapan kita masih minim, tidak untuk shaum sekarang.

Selamat mempersiapkan shaum terbaik. Mudah-mudahan Allah mengkaruniakan kita keimanan, yang dengannya kita termasuk orang-orang yang diseru untuk masuk pada jamuan mulianya, ramadhan. (Insan Sains)

Jakarta, 15 Juli 2010

————————————————————————–
Untuk menambah khazanah keilmuan tentang shaum, miliki segera buku maupun ebook berjudul “Embun Ramadhan”. Silahkan klik : di sini/

Iklan
Posted in: Islam