Bentangan Perhatian

Posted on 13 Juni 2010

2



Serial Samurai Muslim

Bagian 05 : Bentangan Perhatian

Dalam sebuah buku berjudul “42 Martial Secrets of the Samurai” karangan Boye Lafayette de Mente menjelaskan tentang pentingnya memberikan perhatian. Khususnya pada hal yang kecil, hal yang biasanya justru kita abaikan. Dalam bab 11 buku tersebut, penulis menyebutkan “Ada satu aksioma populer di kalangan samurai yang menjadi pengingat bagi mereka dalam menjalani hidup sebagai samurai, yaitu

‘memperlakukan hal-hal besar secara biasa
dan memperlakukan hal-hal kecil secara serius’ ”

Amat masuk akal. Bukankah rangkaian kalimat besar yang indah, disusun dari kumpulan huruf kecil yang apik tersusun? Begitu pula seorang samurai. Bukan hanya berbicara hal-hal besar yang terbaik, melainkan melakukan pula hal-hal kecil dengan amat baik. Demikianlah kehormatannya terjaga, dengan penjagaan dan perhatian mereka pada hal-hal kecil yang merupakan susunan batu bata yang apik untuk membangun dinding kehormatan yang kokoh lagi mengagumkan.

Mungkin kita sama-sama mengenal kisah cinta Pangeran Charles dan Lady Diana. Yang nyatanya harus kandas setelah dua putra mereka menjadi bukti penyetujuan cinta mereka. Sebuah pernikahan akbar, yang disiarkan di 74 negara. Seorang Charles yang merupakan anggota keluarga kerajaan, dan Diana Spencer yang merupakan perempuan inggris tulen. Sebuah takdir sejarah keluarga kerajaan yang tidak pernah terjadi sejak 300 tahun terakhir. Bahkan seorang terkemuka pernah mengatakan, “Inilah pernikahan yang ditakdirkan untuk menjadi seperti dongeng

Lady Di, sebuah panggilan baru yang melekat pada seorang gadis cantik bak boneka barbie yang disimbolkan pada dirinya. Memainkan peran amat sempurna sebagai seorang anggora kerajaan. Gadis manis yang tiba-tiba menjadi seorang aktivis. Pemerhati aspek sosial kemasyarakatan. Keramahannya telah menjadi buah bibir seluruh dunia. Amat dekat dengan para penderita AIDS, anak-anak terlantar, dan orang-orang dengan segala keterbatasan lainnya. Bahkan di tahun 1989, Lady Di datang ke Indonesia, dan tanpa canggung bersalaman dengan penderitia lepra. Luar biasa!

Namun berita tentang keretakan cinta pangeran Charles dan Lady Diana mulai mencuat, bermula dari seorang Diana yang berfoto sendiri, dengan fose duduk di monumen peringatan cinta yang dibangun Shah Jehan untuk kekasihnya, Mumtaz Mahal. Kemudian berita ini makin memuncak ketika Charles ternyata dikabarkan diam-diam dekat dengan seorang perempuan lain, Camilla Parker. Seorang perempuan biasa, dengan wajah amat tak sekelas dibanding wajah eksotik Diana.

Singkat cerita, Charles dan Diana menempuh jalan cerai. Namun ada yang menjadi pelajaran di sini ketika wartawan menanyakan alasan mengapa sampai tega hati melepas Diana, dan menggantinya dengan Camilla yang jelas tak ada sekulit ari dibanding perempuan manis sejagat itu. Sederhana jawab Charles, “karena Camilla lebih bisa mendengar, lebih perhatian”. That’s all. Sederhana namun efeknya luar biasa.

Kesederhanaan dibalik memperhatikan itu pula yang bertubi-tubi Rosulullah ajarkan. Seorang pemimpin besar yang justru tidak ingin diperhatikan dan dilayani. Malah ingin melayani dan selalu memperhatikan. Dalam sebuah riwayat, Ibnu Asakir menceritakan bahwa suatu saat Ibnu Umar pernah berkata tentang bagaimana rosulullah amat penuh perhatian terhadap ummatnya. Apabila selesai memimpin shalat shubuh, rosulullah menghadapkan wajahnya ke arah jamaah. Menyapu pandangan dan merekam baik-baik wajah-wajah yang turut hadir di sana. Jika merasa cacahannya kurang, beliau lantas bersabda,

Apakah diantara kamu ada yang sakit, yang perlu aku jenguk?

jika mereka menjawab, “tidak ada”’,

beliau lanjut bertanya “adakah diantara keluargamu jenazah yang harus aku antarkan?

Sederhana! Namun membekas. Buktinya ada pada kesetiaan sahabat-sahabatnya membela beliau, dalam keadaan bagaimana pun. Kalau raga saja sudah siap dipertaruhkan demi beliau yang selalu memperhatikan, jangan ragukan harta.

Berkaca dari nabi, sudahlah sempurna pelajaran hari ini. Berikanlah perhatian apapun kondisinya. Bahkan sesibuk apapun kita. Perhatian awalnya dilahirkan dari tiga hal, yaitu : bertanya, mendengar, dan menyimak. Yang ketiga lebih penting, dan perlu mendapat penekanan.

Kita sering menemui beberapa atasan acuh tak acuh terhadap ide-ide bawahannya. Orang tua sering ‘cuek’ dengan pembicaraan anak-anaknya. Yang lebih besar sering menganggap remeh apa-apa yang dikatakan oleh yang lebih kecil. Padahal, kita tidak pernah mengetahui seberapa penting informasi yang diberikan lawan bicara sebelum kita mendengarkan informasi tersebut. Bisa jadi informasi yang dibawa lebih penting dari kesibukan yang tengah kita lakukan saat itu.

Suatu saat, seorang anak datang kepada ibunya dengan berlari-lari, “Ibu..ibu… lubang yang ada di depan rumah kita apa namanya bu?”, Si ibu yang tengah sibuk mengiris-ngiris bawang tanpa menengok menjawab “coba tanya sama ayah, ibu lagi masak”. Dan si anak pun kemudian berlari menuju ayahnya yang tengah duduk di kursi santai sambil membaca koran. “Ayah-ayah, lubang yang ada di depan rumah kita apa namanya?”, ayahnya dengan santai menghisap pipa rokok, kemudian membalik halaman koran sambil berkata “tugas sekolah ya? Coba tanya sama kakakmu saja”. Dan si anak pun kemudian berlari ke kamar kakak perempuannya. “Kakak.. kakak… lubang di depan rumah kita itu apa namanya kak?” Kakaknya menjawab, “sumur!”. Kemudian anak kecil tersebut menarik tangan kakak perempuannya, “Ayo cepet… adik kita jatuh ke sumur

Sekali lagi, kita tidak pernah tahu seberapa penting informasi yang disampaikan oleh orang yang kita ajak bicara sampai kita mendengarkannya dengan sempurna. Karena setiap orang punya cara penyampaian yang berbeda. Maka dari itu tugas pertama kita, adalah tinggalkan fokus pekerjaan saat ini, alihkan pada mendengarkan dengan seksama dan sungguh-sungguh. Simak. Membentangkan perhatian dengan penuh, sempurna, kepada siapapun. (Insan Sains)

Jakarta, 13 Juni 2010

Samurai Muslim

Iklan