Tujuan Lintas Masa

Posted on 26 April 2010

11



Serial Samurai Muslim

Bagian 04 : Tujuan Lintas Masa

Pedang Musashi

Suatu ketika seorang shugyosha bernama Kihei Arima melakukan perjalanan dari satu kampung ke kampung lain. Bukan sekedar pengembaraan biasa, melainkan sebuah perjalanan untuk sebuh pembuktian bahwa dirinyalah shugyosha terhebat. Maka di setiap kampung yang dilewati, dia menantang samurai-samurai yang ada di kampung tersebut untuk berduel. Duel pedang hingga mati.

Kepercayaan dirinya makin bertambah, banyak pertarungan dimenangkannya. Artinya banyak samurai yang bertemu dengannya sebagai malaikat maut. Pedangnya lahap memakan nyawa. Hingga suatu saat tibalah dia di suatu kampung. Seperti biasa. Memasang pengumuman pada selembar kertas bertinta emas. Tentang duel maut bagi samurai yang berani menjawab tantangannya.

Keesokan harinya dia melihat pengumuman tantangannya itu terisi sebuah jawaban. Ada yang berani ternyata. Singkat kata, hari maut pun tiba. Arima datang dengan gagah, penuh percaya diri. Bak malaikat maut yang hendak mencabut nyawa seseorang.

Dari kejauhan dia melihat penerima tantangannya samar. Dahinya mulai mengerut, matanya menipis tajam, mencoba melihat lawannya dari kejauhan. Masih samar juga. Langkahnya terus mendekat, hingga jelaslah siapa penantangnya. Tapi kejelasan itu malah mengerucut kesal. Karena ternyata penantangnya itu tidak pernah ia kira sebelumnya. Seorang bocah berumur 13 tahun, yang sedang melipat tangan sambil memegang pedang kayu.

Merasa terhina dipermainkan, “shugyosha tak terkalahkan” ini menitah si anak kecil meminta maaf. Di depan umum, esok. Arima berbalik pulang dengan kekesalan yang teramat sangat, sebuah penghinaan luar biasa bagi seorang jawara kelas kakap. Mana mungkin shugyosha sekelasnya berduel apalagi sampai harus membunuh anak kecil yang hanya menggunakan pedang kayu? Apa kata orang nantinya!

Keesokan harinya, anak kecil itu pun datang beserta dengan seorang kakek tua, mungkin sebagai penengah. Namun diluar perkiraan, bocah tersebut melancarkan serangan pedang kayu ke kepala Arima. Sambil mengelak, gesit, Arima mengeluarkan pedangnya dari sarung. Berkilauan. Sangat tajam pastinya. Arima siap menyerang balik. Dua tangannya memegang gagang pedang. Di depan tubuhnya. Si anak kecil lantas menjatuhkan pedang kayunya. Menyerah? Ketakutan? Ternyata tidak. Dengan sekali gerakan, kakinya menghentak tanah. Melesat mendekat. Arima yang setengah kaget, salah perhitungan. Kuda-kudanya belum kokoh. Sebuah pukulan mendarat di perutnya. Mual bukan main. Musuhnya tiba-tiba dibelakangnya. Mencekik. Dan memelintir tangannya. Pedangnya jatuh. Di sini gelar “tak terkalahkan” sedang diuji.

Dalam nafas yang tersendat, dan posisi kuda-kuda yang tak punya tumpuan. Arima tidak diberikan kesempatan. Si anak kecil lantas menarik tafas, mengumpulkan kekuatan, kemudian berteriak sambil mengangkat tubuh Arima. “Hiyaaaaaaaaaa” Beberapa detik, ditahannya di udara. Dan brugg. Arima dijatuhkan dengan kepala lebih dulu. Si anak kecil berlari, menuju pedang kayunya. Dan dua ayunan dahsyat pedang kayu memecah tengkorak Arima. Darah mengucur. Tamatlah riwayat petarung yang katanya tak terkalahkan tersebut.

Sejak saat itulah anak kecil tersebut menjadi buah bibir. Samurai kecil itu bernama, Musashi.

Menarik memang membahas tentang strategi pertahanan dan serangan seorang samurai. Namun di sini kita tidak akan membahas tentangnya. Melainkan tentang apa yang menyebabkan seorang Musashi kecil mampu mengalahkan petarung yang sudah amat berpengalaman.

Musashi menjadi seorang samurai yang paling ditakuti lawan sekaligus disegani orang-orang pada jamannya. Sebuah buku cukup terkenal berjudul “The Book of Five Rings” pernah ditulisnya. Dalam buku tersebut dia memaparkan tentang bagaimana seseorang dapat menjadi seorang samurai sejati. Bukan sekedar menyoal strategi bertempur, melainkan juga menjelaskan tentang apa-apa yang harus dilakukan oleh seorang samurai untuk mendapatkan tingkat tertinggi, mencapai kehormatan hidup dan mati.

Pembahasan awal yang disebutkan Musashi dalam buku tersebut yaitu tentang pentingnya menentukan tujuan. Akan kemana, kapan, dengan cara bagaimana tujuan tersebut dicapai? Sebuah kalimat bijak mengatakan, “Bagaimana mungkin meraih tujuan, bila kita tidak memiliki tujuan”.

Saat belia Musashi tidak hanya bertujuan menjadi seorang samurai, melainkan “menjadi seorang samurai terhebat di jamannya”. Sebuah tujuan ambisius. Dimana pada saat itu samurai-samurai hebat, dan sudah malang-melintang bertebaran dimana-mana. Namun tujuan ambisius tersebut sangat jelas, terukur, dan amat mungkin dicapai. Menjadi seorang samurai adalah sebuah kehormatan, namun menjadi samurai terhebat di jamannya adalah luar biasa terhormat.

Semakin tinggi tujuan, semakin besar upaya yang dibutuhkan. Dengan demikian bahwa sikap dan usaha yang mesti dilakukan tidak bisa hanya sebatas rata-rata atau bahkan biasa-biasa. Inilah konsekuensi ketika meletakkan cita-cita menjadi yang “TER”. Menjadi manusia “paling”.

Meski umur Musashi masih belia, namun karena cita-citanya besar, sejak kecil dia telah melatih diri menjadi samurai terhebat, melewati usianya. Tak heran, dalam peristiwa yang lain, dia bisa mengalahkan seratus lebih lawannya, sendirian!

Penetapan tujuan yang melewati masa inilah yang sebenarnya dimiliki oleh seorang muslim. Identitas dan tujuannya terlahir amat jelas didesain. Begini bunyi ayat Al-Qurannya :

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ
Kamu adalah umat yang TERBAIK yang dilahirkan untuk manusia, ….” (QS. Ali-Imran, 3:110)

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah-Ku” (QS. Adz-Dzariyat, 51:56)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Hasyr, 59:18)

Hal pertama, bahwa seorang muslim bukanlah manusia baik. Melainkan yang “TER”baik. Tujuan ambisius. Lantas arahnya dijelaskan dengan kalimat bahwa tugasnya adalah menjadi “pelayan” Allah. Yang kita mengatakannya sebagai ibadah atau penyembahan. Dan terakhir, sasaran yang jelas dengan mengatakan bahwa seorang muslim “harus memperhatikan hari esok”.

Sebuah tafsir waktu yang bukan mengatakan satu hari kedepan, bukan satu minggu ke depan, bukan pula satu tahun kedepan, melainkan jauh melewati masanya. Ujung akhir kehidupan. Yaitu hari dimana semua yang hidup dimintai pertanggungjawabannya, dan diputuskan baginya “hidup nikmat selama-lamanya” atau “menderita tak berkesudahan”

Di titik awal inilah seorang muslim membangun cita-citanya. Membawa ambisi, arah, dan sasaran futuristiknya dalam genggaman. Menjadi sebuah azzam yang mengobar semangat menjadi manusia “TER”, manusia “paling”. Menjadi manusia yang bukan hanya jujur, melainkan “TER”jujur. Bukan hanya manusia baik, melainkan “TER”baik. (Insan Sains)

Jakarta, 21 April 2010

Iklan