Chemistry Hidup dan Kehormatan

Posted on 22 April 2010

7



Serial Samurai Muslim

Bagian 03 : Chemistry Hidup dan Kehormatan

Tak ada yang lebih penting bagi seorang samurai dibanding kehormatan. Seorang samurai akan tegas berkata, “Kehormatan adalah hidupku, keduanya tumbuh dalam satu. Ambillah kehormatan dariku, maka hidupku berakhir”. Yang dijaganya adalah kehormatan bukan ingin penghormatan. Yang dibelakang hanyalah implikasi, bukan misi. Implikasi itu bisa didapat bisa juga tidak. Tapi itu tak penting, karena yang terpenting diantara yang penting itu adalah hidup terhomat. Titik! Itulah prinsip wahid seorang samurai. Di satu sisi ada kehidupan di sisi yang lain ada kehormatan, bukan sebuah entitas berbeda, melainkan sebuah kesatuan, tak terbelah, tak terpisah. Layaknya mata uang.

Oleh sebab itulah dalam klan samurai dikenal istilah “seppuku”. Pernah mendengar istilah yang satu ini? Satu istilah yang mungkin lebih melekat di telinga kita sebagai “harakiri”. Menghubung ke ensiklopedia online Wikipedia. Kita menemukan arti secara bahasa bahwa “harakiri” berarti “cutting the belly” atau “stomatch-cutting”. Orang awam seperti saya membahasakannya sebagai “bunuh diri”. Tapi bagi seorang samurai itulah salah satu jalan kehormatan, atau paling tidak menutup hidup yang telah dia jaga pada jalur kehormatan.

Seorang samurai akan selalu membawa dua bilah pedang. Satu pedang berukuran panjang, yang lain lebih pendek. Yang panjang digunakannya untuk bertarung, sedangkan yang lain untuk menjaga kehormatannya. Harakiri. Pedang pendek ini akan dihunuskan pada perut sebelah kirinya yang kemudian dengan sisa tenaga dan nafas terakhirnya dia gesekan ke sebelah kanan. Sssrrrtttt! Dan itulah kematian terhormat bagi seorang samurai. Ini lebih terhormat daripada menjadi tawanan musuh, gagal melakukan tugas, atau berbuat hal memalukan.

Kembali menyoal tentang kehormatan. Menjadi manusia terhormat itu tidak bisa lepas dari bagaimana seseorang senantiasa berlaku berlandaskan nilai-nilai moralitas. Singkatnya mereka yang terhormat adalah mereka yang bermoral tinggi. Perlu ditekankan disini adalah kata “bermoral tinggi”, jadi bukan sekedar “moral” (baca : mαrǝl) yang merupakan “corcerning principles of right and wrong” melainkan “virtue” (baca : v3:t∫u:) yaitu “behavior or attitudes that shows a high moral standards”. Melebihi standar moral yang berlaku.

Seorang samurai adalah mereka yang memiliki dan menerapkan standar moral yang tinggi. Dalam keseharian dan dalam sekecil apapun sikapnya. Keluarga samurai akan senantiasa berhati-hati mulai dari penampilannya. Amat memalukan jika mengenakan pakaian jorok atau tidak rapih. Seorang samurai diajarkan bahwa menggosip sangatlah tidak pantas dan orang yang menyebarkan gosip adalah orang yang memalukan. Tidak layak menjadi seorang samurai. Rahasia adalah untuk dipegang. Tidak jadi soal dalam hal kecil atau besar. Disiplin dan bertindak tepat adalah sebuah keharusan. Contoh-contoh keluhuran moral inilah yang menjadi landasan kehormatan seorang samurai, alhasil mereka pun dihormati.

Menolong orang adalah kehormatan, berbuat baik kepada orang tua adalah kehormatan. Tidak meminta-minta adalah kehormatan. Loh.. loh.. tunggu sebentar! Ini nampaknya mirip dengan standar moral seorang muslim. Mari kita perhatikan salah satu hadist shahih yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim berikut ini :

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Tanda-tanda orang munafik (orang yang tidak punya kehormatan) itu ada tiga. Jika berbicara ia dusta, jika berjanji ia ingkar, dan jika diberi amanah ia khianat” (HR Bukhari dan Muslim)

Merujuk asal kata munafiq, orang yang memiliki dua wajah. Tidak memiliki identitas diri, sehingga hilang harga diri, kehormatan. Ada tiga cirinya seseorang itu tidak layak disebut muslim, pertama ucapannya bual. Sekali berkata bohong, hilanglah kehormatanmu sebagai seorang muslim. Kedua, tidak berusaha sekuat tenaga menepati janji. Jam karet karena alasan macet, bukanlah tipe seorang muslim. Ketiga, melalaikan amanat. Salah satu saja diantara ketiga ini ada dalam diri seseorang, maka hilanglah kehormatannya. Stempel munafiq pun melekat.

Seorang muslim adalah orang-orang yang berbicara selaras dengan hati dan ilmunya. Berbohong? Ugh, tak ada dalam kamusnya. Jika ia bepergian dalam rangka tugas kantor dan mengeluarkan sejumlah biaya. Maka dia melaporkan sejumlah biaya tersebut. Budgetnya masih melimpah tersisa. Ahhh, seorang muslim bukan manusia biasa. Tak ada ruang bagi sebuah kebohongan, penipuan. Hatinya telah terisi standar moral yang tinggi. Sama sekali tidak tergiur dengan harta. Apalagi yang didapat dari menipu. Bila seorang muslim berbuat kesalahan, tak takut dia mengakui. Tak lantas menyalahkan bawahan atau rekan sekerja. Apalagi melampiaskan. Tidak. Tidak demikian seorang muslim itu.

Buatlah sebuah janji dengannya. Seorang muslim akan menepatinya. Jika dia mengatakan jam 10 pagi. Maka 5 menit sebelum jam 10, dia sudah ada. Jika tempatnya bekerja memintanya masuk jam 08:00, maka tak ada kehormatan baginya bila hadir tepat waktu. Dia akan hadir sebelumnya. Karena menit-menit sebelumnya dia harus mempersiapkan pekerjaannya. Bukan lagi sibuk berbincang santai dengan rekan sekerja.

Soal amanah. Ini dia yang utama. Tak ada penyalahgunaan kekuasaan. Seorang muslim telah tergadai oleh pekerjaannya. Oleh amanah yang dipercayakan kepadanya. Amanah ini memaksanya menempati suatu posisi, yang berarti menyingkirkan kesempatan orang lain di posisi tersebut. Soal tinggi-rendah posisinya, sangat tidak relevan. Baginya cuman satu kata kerja, melakukan yang terbaik. Titik. Tak ada yang namanya bermain internet disaat amanahnya mewajibkan dia bekerja. Bila pun tugasnya saat itu telah selesai, dia akan selalu meminta tugas. Atau bisa jadi mencari tugas yang bisa dia kerjakan, membantu rekan sekerjanya. Amat tidak terhormat bagi seorang muslim, bekerja leha-leha menunaikan amanahnya. Tidak ada! Tidak terhormat sama dengan tidak layak hidup.

Kehidupan dan kehormatan telah melebur, menjadi sebuah chemistry yang indah. Sebuah persenyawaan kimia yang tidak lagi bisa dipisah menjadi unsur berbeda. Dengan cara apapun. Dengan motif apapun. Dan tahukah kamu? Chemistry itu bernama, Muslim! And i’m proud to be a muslim. How about you? (Insan Sains)

Jakarta, 21 April 2010

Samurai Muslim