Mengimajinasi Mati

Posted on 20 April 2010

13



Serial Samurai Muslim

Bagian 02 : Mengimajinasi Mati

Pintu pertama yang mesti dilalui dalam sebuah keluarga samurai adalah kematian. Iya. Akhir hayat. Akhir nafas. Akhir dari kehidupan. Sebuah akhir yang menjadi batas kontrak abdinya di bumi. Setiap pagi, keluarga samurai bangun dengan sebuah ide besar di kepalanya tentang bagaimana menjemput kematian terbaiknya. Mereka meyakini bahwa hari ini adalah hari terakhir pengabdiannya, hari terakhir pemberian perlindungan pada tuannya.

Gelimangan darah dan putusnya anggota tubuhnya, bukan lagi hal yang ditakuti. Seorang samurai telah puas membayangkan pedang musuh menghunus dadanya. Atau tebasan pedang memutus kepala dari lehernya. Bayangan kematiannya telah sempurna dia imajinasi, hari demi hari. Hingga kelak ketakutan yang mengiringi kematian hilang sirna. Tak berbekas. Yang tertinggal hanyalah sebuah tekad bagaimana merangkai laku tanpa cacat agar memperoleh kematian yang sempurna.

Luar biasa memang, seorang anak kecil dari keluarga samurai telah dilatih paksa menjemput kematian sempurna. Yang dengannya dia bisa memaknai arti kehidupan. Tiup angin yang berhembus, gelayut jatuh bunga yang gugur, riak air beradu batu menjadi begitu indah dan anugerah dalam pandangan mereka. Duduk, makan, dan minum teh dilakukan dengan rileks, hati-hati. Dan sempurna. Pertemuannya dengan orang lain adalah arena penghargaan tiada tara. Membungkuk tanda hormat, tak mengangkat punggung sebelum yang dihormat mengangkat lebih dulu. Ucapannya senantiasa terjaga. Tak berani berucap bila ragu menyinggung perasaan, apalagi menghina orang lain.

Inilah benih pertama yang ditanamkan dalam benak seorang samurai. Bagaimana dengan seorang muslim? Menjadi seorang muslim justru menjadi umat perdana yang diingatkan kematian berulang-ulang. Menjadi muslim berarti menjadi abdi (khalifah) yang pasrah menyerah sekaligus rela bersedia mengejar kematian terbaiknya. Bukankah dalam banyak ayat disebutkan :

Kullu nafsin dzaa iqatul mauut…”
(ingatlah) semua yang memiliki nyawa (tanpa kecuali) pasti mengalami kematian…. (QS. Al-Ankabut, 29:57)


Tak ada pengecualian! Saya, Anda, kita, mereka. Semua pasti mati. Kalimat yang menunjukkan tidak mungkin tidak terjadi. Baik itu karena kecelakaan, penyakit, ketidaksenangan orang, atau dalam tidur sekalipun. Pasti! Pasti kita akan bertemu dengan kematian. Waktu? Apalah gunanya mengetahui kapan waktu terjadinya? Toh besarnya kepastian itu menjadi tidak ada artinya ketika dihadapkan ketidakpastian. Bukankah secara matematik angka 1 milyard tidak ada artinya dibanding dengan bilangan tak hingga?

Jadi ayat di atas seharusnya ditafsir bahwa hidup kita ini tersisa sesaat. Nah, sekarang apa yang akan kita perbuat dalam detik-detik terakhir pengabdian kita? Dalam ayat yang lain Allah memberikan jawaban-Nya yang senantiasa kita dengar dalam setiap khutbah jum’at.

Ya ayyuhalladzina ‘aamanu, ittakullaha haqqatuqaatihi walaa tamuutunna illa wa antum muslimun

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali dalam keadaan muslim” (QS. Ali-Imran, 3:102)

Dalam keadaan muslim. Dalam keadaan berserah diri kepada Yang Maha Mengatur. Dalam keadaan sebagaimana layaknya disanjung sebagai umat terbaik. Inilah ayat yang mendorong kita untuk menjemput kematian terbaik. Dan kematian terbaik hanya bisa diperoleh dengan merajut kehidupan yang terbaik. Ke dalam mengakar niat yang baik, ke atas menjulang ucap yang baik, ke umat merimbun perilaku yang baik.

Jadi amat tak pantas bagi seorang muslim risau dengan dunia yang ada di genggamannya hari ini. Uang di sakunya terlalu remeh untuk dia pertahankan dibanding sedekah menjelang mautnya. Harta yang ada tak punya arti dibanding pelunasan utang-utangnya. Rasa malu meminta maaf terlalu kecil untuk ditahan dibanding rasa ridha orang lain atas kesalahan-kesalahannya.

Tak pantas bagi seorang muslim menyia-nyiakan waktu. Baginya tak ada kesempatan kedua. Karena begitu hilang, kematian mungkin datang. Jadi tak ada kamus “menunda” dalam benak seorang muslim. Sekarang atau tidak sama sekali.

Menjadi seorang muslim adalah menjadi bagian dari umat yang tak takut menghadapi mati. Menjadi umat yang tak gandrung dengan harta duniawi. Bukankah rosul pernah mencontohkan ketika beliau sedang berjalan dan ada sahabatnya yang memuji jubah yang beliau pakai. Lantas beliau melepaskan jubah dan menghadiahkan kepada sahabatnya tersebut. Tak ada tempat untuk menyisakan kesenangan pribadi duniawi. Kebahagiaan orang lain adalah prioritasnya.

Umar bin khattab pernah berkata, “carilah kematian maka kamu akan mendapatkan kehidupan”. Mencari kematian bukan dalam artian mencoba bunuh diri. Melainkan mematikan ketakutan kematian, sehingga lahir pemaknaan kehidupan.

Seorang muslim itu memberikan yang terbaik. Dimana pun, apapun profesinya. Inilah yang menjadikan ciri, bahwa pekerjaan seorang muslim itu selalu sempurna. Tak ada cacat, atau paling tidak, tidak merencanakan cacat. Anda boleh coba menelepon seorang muslim di jam kerjanya untuk kepentingan pribadi dan tidak penting, dia akan menjawab “Maaf. Saya sedang melaksanakan tugas, bila berkenan teleponlah pada jam istirahat, atau nanti saya yang akan menelepon balik

Atau coba saja Anda perhatikan meja kerjanya, tak ada kerjaan yang ditinggalkan begitu saja. Semuanya sempurna. Bila pun belum selesai, dia telah menyiapkan agar orang lain dapat meneruskan tugasnya. Jangan pula membicarakan penghasilan, karena seorang muslim fokus pada apa yang sedang dia tanam. Masalah lain menjadi tak berarti, toh hidupnya tak lama lagi. (Insan Sains)

Jakarta, 19 April 2010

Samurai Muslim