Life Report

Posted on 16 Januari 2010

9



Hari Sabtu adalah hari dimana saya mesti mereview kembali pekerjaan selama satu pekan. Apa yang ingin dicapai, sampai dimana, apa kendalanya, dan bagaimana hasilnya? Sebuah rutinitas yang mengharuskan saya membuka catatan-catatan kerja. Laporan mingguan atau yang lebih dikenal dengan weekly report ini sudah menjadi hal yang biasa dilakukan di perusahaan mana pun.

Dalam kasus profesi saya, weekly report ini ibarat “palu pengadilan” yang siap men-judge apakah sesuatu itu layak atau tidak, atau mengatakan seseorang itu pantas dipromosikan atau justru sebaliknya, mengharuskan perusahaan memutus hubungan kerja dengan salah satu keluarga besarnya. Cukup berat menyusun kalimat dalam weekly report ini. Menjadi dilema bagi batin saya, karena kadang kala mesti berhubungan dengan kepentingan hidup orang lain.

Sekalipun pada intinya laporan saya berbicara tentang prosedur maupun personal yang out of track, bahasa dalam laporan tersebut selalu saya ramu sedemikian rupa. Sehingga terkesan netral, biasa-biasa, namun dengan tidak mengabaikan maksud yang hendak disampaikan pada pemilik perusahaan. Fyiuh, sebuah akhir pekan yang cukup menyita perhatian.

Sejenak saya membaca kembali weekly report yang hendak dikirim pekan ini. Saya melihat kembali surat tugas – surat tugas yang pekan kemarin berada di atas meja kerja. Sambil tersenyum saya berbicara sendiri, “Alhamdulillah hari ini tugas yang dibebankan pekan kemarin telah selesai”, dan tercatat dalam weekly report.

Hari ini tangan saya menulis weekly report untuk apa yang telah saya lakukan selama satu pekan, namun tanpa saya sadari tangan ini pula yang sedang menulis laporan kehidupan tentang amal apa yang telah saya lakukan. Bukan satu minggu, bukan satu hari, bukan pula satu jam, namun setiap saat, tangan ini mencatat segala apa yang saya lakukan. Laporan kehidupan ini berbicara gamblang tentang apa yang saya perbuat, bukan sekedar amal secara fisik, melainkan jauh ke dalam, menelusuk amal paling dasar di dalam hati. Inilah yang saya sebut Life Report.

Jika weekly report saya menilai sesuatu di luar diri saya, maka life report akan menilai diri saya secara utuh, tak terkurangi, tak melebihi, tak ada basa-basi, apa adanya sebagaimana asli. Hingga sang Pemberi Tugas tak segan-segan memberikan saya balasan atas apa yang saya perbuat sebagaimana yang tercatat dalam life report.

Masalah yang sekarang muncul adalah, ada catatan merah dalam life report saya. Anda mungkin tidak. Dengan segala kekhilafan saya, ada dosa dan maksiat yang tercatat jelas di life report tersebut. Baik tangan saya sadari melakukannya, atau entah diluar kesadaran. Sekali lagi, mungkin tidak demikian dengan Anda. Saya mungkin orang malang yang tinggal menunggu keputusan Pemilik Kehidupan. Surga tinggal impian, dan Neraka “pesangon” kemungkinan. Yang jelas, hari ini, detik ini, sang Pemilik Kehidupan masih memberikan jatah nafas dan memperpanjang kontrak hidup bagi saya. Sehingga saya hanya bisa mentafsir, bahwa ini adalah ampunan tersirat-Nya yang menjadi peluang bagi saya untuk menghapus catatan merah tersebut dengan memperbanyak catatan emas amal kebaikan.

Dari Abu Zar, Jundub bin Junadah dan Abu Abdurrahman, Mu’az bin Jabal radhiallahuanhuma dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam beliau bersabda : “Bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya menghapusnya dan pergauilah manusia dengan akhlak yang baik” (HR. Turmuzi, beliau berkata haditsnya hasan, pada sebagian cetakan dikatakan hasan shahih)

Selamat menyusun Life Report. Kita ingin balasan seperti apa? Jawabannya ada pada apa yang kita lakukan saat ini, tentu dengan ijin-Nya. (Insan Sains)

Jakarta, 30 Muharram 1431 H, 16 Januari 2010 M, 19:47 WIB

Iklan
Posted in: Renungan