Bila Sisa Nafas Bisa Terhitung

Posted on 30 Oktober 2009

12



batu - petervanalen - 25sep08

Diantara seluruh sahabat saya, ada satu sahabat yang selalu spesial dimata saya. Belum lama saya mengenalnya, lebih kurang 1,5 tahun. Perkenalan ini menjadi luar biasa, setelah satu demi satu lembaran kehidupan dan sampul keluarganya menjadi novel hidup yang memberikan saya hikmah yang tidak bisa dibilang biasa.

“A, cobaan ini berat banget, nyaris bikin hilang akal. Doakan saya bisa lulus cumlaude” smsnya ketika dia sedang diuji dengan ujian paling berat saat Allah mengambil titipan yang dia (bahkan semua orang) anggap berharga. Namun, kemampuannya menyembuhkan diri sendiri setelah sehari sebelumnya nangis terisak bukan main, patut diacungi jempol.

Satu-satunya pelajaran hidup yang saya ambil darinya selama 1,5 tahun ini adalah “Tidak ada waktu lain selain bertasbih memuja Allah”. Di umurnya yang kepala dua, sahabat saya ini lebih mirip Rabi’ah abad 21. Bukan hanya terlahir dengan titipan wajah sempurna dari Allah, melainkan Allah telah menganugerahkan keluarga, status sosial, dan kecerdasan yang bukan biasa. Namun apa yang dipunyainya itu, tidak lantas menjadikannya lupa kepada Allah yang Maha Memberi Rezeki.

Jika orang lain tertidur pulas menekuk lutut, maka jam 02:30 dia membangunkan diri, membasuh anggota wudhu melawan dingin membiarkan beberapa saat menggigil. Sajadah kemudian digelar, mukena putih menjumbai, takbir pun lirih terdengar. Bila shubuh belum datang, tak lantas kantuknya memanja dia bersembunyi dibalik selimut, melainkan asyik bercengkrama dengan Al-Quran.

Tanyalah kepada waktu dhuha, kapan saja hari selain dia dilarang shalat, dia menyempurnakan shalat sunnahnya? Tanyakan pula pada kencleng mesjid berapa kali dia absen setiap waktu shalat wajib tanpa dia rogoh dari sakunya 5 ribu?

Kalau kita tanya kepadanya, kenapa bisa seperti itu? Dia akan menjawab “ini semua karena kebaikan dan pertolongan Allah”. Jawaban ini telak dia berikan. Tapi hari ini tanpa seijinnya saya hendak membocorkan jawaban lain yang mungkin akal awam kita mampu mencernanya. “A, apa sih yang saya harapkan lagi? Sudah habis semua, sekarang saya hanya ingin mendekat sama Allah saja”. Inilah pernyataan seorang perempuan yang Allah takdirkan kanker darah menyerang tubuhnya, menggerogoti tubuh semampainya hingga payah bahkan terkapar. Muntah darah dan menggigil luar biasa sudah biasa. Selang infus ketika cuci darah adalah sarapan rutinnya. “A, ini mungkin jalan Allah menarik saya kembali ke jalan-Nya, setelah sekian lama saya membandel. Bagian tubuh yang dulu sering menjadi bahan pamer, sekarang saya tutup sempurna dengan kerudung sebagai penyempurna keindahan perempuan muslim. Yang saya inginkan adalah mati khusnul khatimah di nafas-nafas terakhir.”

Kata-kata terakhirnya membuat saya tertegun. Baginya nafas akhir bisa diprediksi medis, meski di tangan Allahlah segala takdir pasti terjadi. Namun pelajaran yang saya dapatkan adalah, betapa berharganya arti tiap desah nafas bagi sahabat saya ini. Ah, seandainya kita diberitahu bahwa umur kita adalah hingga minggu depan. Masihkah kita akan menunda-nunda shalat saat adzan berkumandang? Berapa juz Al-Quran-kah yang akan kita baca? Atau mungkin akan berapa kali khatamkah? Berapa pula rupiah yang hendak kita infaqkan?

Bila jatah satu minggu saja sudah sedemikian hebat rencana ibadah yang ingin kita lakukan, maka bagaimanakah bila pengumuman kematian itu hanyalah satu hari sebelum hari yang pasti tiba itu?

Niscaya bukan hanya ibadah wajib yang kita kebut. Ibadah sunnah pun kita tumpuk. Kita akan mengatur sedemikian rupa, sehingga waktu terakhir kita berada dalam waktu terbaik, dalam tempat kebaikan, dalam posisi terbaik, dalam amal terbaik. Berharap semua orang menjadi pemaaf saat kita memelas maaf atas setiap ucapan yang menyakiti, atas perbuatan mendzalimi.

Jika kita berani lebih dalam lagi berandai-andai. Jikalau berita kematian itu datang satu menit sebelum tiba. Kira-kira adakah lisan kita masih lupa berdzikir? Dalam waktu 60 detik yang tersisa itu adakah kita masih memikirkan harta di genggaman? Saat itu kita mungkin akan tersadar, bahwa tak ada gunanya lagi harta yang kita cari dengan kepayahan, toh beberapa detik lagi, kitalah manusia bangkrut yang hasilnya hanya dinikmati orang lain.

Lalu mampukah kita membayangkan bila berita kematian itu sampai sempit sekali waktunya? Hasilnya seharusnya memunculkan dua kebiasaan. Pertama, kebiasaan tidak menyia-nyiakan waktu kecuali untuk beribadah. Kedua, kebiasaan untuk selalu mensyukuri hidup karena ternyata Allah masih memberikan jatah umur. Itulah mungkin salah satu alasan mengapa Allah merahasikan datangnya waktu kematian. Agar kita berada dalam ruh dan jasad yang siap dengan perbekalan ibadah, dan membalutnya dengan syukur kala raga dan ruh masih menyatu.

Namun kita akan merasa aneh pada diri kita sendiri, saat justru kematian itu dirahasiakan kita malah berleha-leha. Ibadah yang seharusnya berada dalam tataran kuantitas malah babak belur. Kualitas apa lagi. Kita seakan merasa yakin bahwa kita masih bisa bernafas hingga esok bahkan tahun depan.

Ataukah kita hendak menunggu ujian hidup layaknya sahabat saya tersebut?

Ya Allah, sembuhkanlah dia. Angkat penyakit yang telah menghakimi umur singkatnya. Hilangkan duka dan laranya. Kabulkan permintaannya bila itu baik menurut-Mu, dan gantilah dengan yang lebih baik karena Engkau yang maha Mengetahui. Ya Allah mudahkan dia mencapai apa yang dicita-citakannya. Karuniakan kepadanya sisa nafas yang makin mendekatkan kepada-Mu. (Insan Sains)

Medan, 30 Oktober 05:02 WIB

Iklan
Posted in: Renungan