Membelah Arus

Posted on 6 Oktober 2009

8



Rindu Allah - Nuvailia - 10jan07(Sumber gambar : Nuvailia – Rindu Allah – 10jan07)

Dalam bus kopaja 609 dari arah Blok M, saya sempat ditanya berulang-ulang oleh seorang gadis berjilbab rapi yang duduk di samping saya. “Jam berapa sekarang ya mas?”. Meski saya lebih menyukai panggilan “Kang” atau “Aa” (panggilan di rumah), saya memaklumi panggilan “Mas”-nya karena kami baru bertemu. Tak berani saya memandang wajahnya, dan nampaknya dia pun begitu.

Tak selang beberapa lama, untuk kedua kalinya ia menanyakan pertanyaan yang sama, “Jam berapa sekarang ya mas?” Saya pun menjawab “10 menit lagi jam enam mba”. Tak lama terdengarlah suara adzan maghrib, “Allahu akbar.. Allahu akbar...”. Dan gadis itu pun terlihat tergesa merobek resleting tasnya dan mengambil sebotol air mineral. Matanya memejam, bibirnya berbisik pelan, sedangkan ujung botol air mineral itu menempel di bibir bawahnya. Berdoa adalah satu-satunya hal yang terpikir oleh saya terhadap apa yang tengah dilakukan oleh gadis yang memancing saya memutar beberapa derajat sudut pandangan saya. Dia pun kemudian meneguk perlahan. Saya seakan merasakan tenggorokannya yang semula kering, kini basah. Ibarat bunga yang nyaris layu, namun kembali segar tersirami.

Oh… ternyata tadi ia sedang berpuasa. Subhanallah…! Setelah seperempat botol air tersebut berpindah ke lambungnya, kini ia membuka plastik hitam yang sejak tadi digenggamnya. “Mau gorengan mas?” tanya wanita muda itu. “Oh… tidak terima kasih” tolak saya halus. “Susah banget puasa kalau bukan di bulan Ramadhan!”, katanya disela kunyahan pisang molennya, “Banyak sekali godaannya!” lanjutnya setelah menelan kunyahan halus di mulutnya.

Kepalanya jelas terlihat menengok kiri-kanan. Tak tahu apa yang dicari. Tiba-tiba dia pun berdiri, “kiri bang.. kiri..”. Gadis itu turun dan bus kopaja pun berjalan. Saya menengok ke sebelah kanan ternyata terlihat kubah mesjid, saya pun dengan tergesa berdiri dan minta turun hendak mendirikan shalat maghrib. Berharap masih bisa ikut jamaah masjid tersebut.

Air keran membasahi anggota wudhu saya. Dingin sekaligus meninggalkan kesegaran. Saya jadi teringat pada gadis di kopaja tadi. Mungkin inilah yang dirasakannya ketika berbuka tadi, panas Jakarta dan dahaga yang menyiksa tiba-tiba lenyap dengan hadirnya bahagia ketika tegukan pertama.

Berpuasa di bulan Ramadhan tentunya tidak lebih sulit dibandingkan berpuasa di bulan lainnya. Sangat sulit untuk menjadi berbeda dan mempertahankan prinsip yang berbeda dengan yang diyakini kebanyakan orang. Memegang teguh prinsip di tengah desakan dari pihak yang berseberangan tentulah sangat sulit. Jika prinsip yang berseberangan dengan kita adalah hal positif dan kita terdesak untuk berbuat positif juga, maka hal tersebut justu sangat baik. Tetapi jika hal yang sebaliknya terjadi, dimana prinsip yang negatif yang berkembang pada orang kebanyakan, saat kita tidak kuat, maka dengan sangat mudah kita terseret di dalamnya.

Ketika teman-teman kampus pulang sebelum mata kuliah berakhir, meskipun tak jelas dosen hadir atau tidak, maka sangat sulit untuk membendung hasrat ingin pulang juga. Ketika teman-teman kantor bekerja sebagai individu terpisah dari kerjasama sebagai suatu team besar, maka susah sekali untuk tidak mengikuti pola mereka, tidak menerapkan pola elu-elu-gue-gue. Ketika banyak teman memilih jalan pintas, mampukah kita untuk tegas dan berkata “Tidak”?

Di tengah renungan saya sambil berjalan menuju mihrab mesjid, ternyata jamaah telah bubar. Di shaf depan saya menunggu, mencari teman untuk shalat berjamaah. Nihil. Namun tiba-tiba seorang perempuan yang baru saja saya temui di kopaja datang. Mukanya basah oleh air wudhu. “Mba.. kita berjamaah ya…” pinta saya. Dia pun tersenyum dan mengangguk.

Pertemuan kami hanya sesingkat itu, tapi dengan pertemuan itu Allah telah mengajarkan saya satu hal. Benar sekali perkataan rosul, bahwa suatu saat orang yang memegang teguh prinsip keislaman itu, ibarat seorang yang memegang besi yang telah menjadi bara api. Panas bahkan melukai. Pertanyaannya mampukah kita?

Jawabannya : Tentu saja mampu. Buktinya, gadis yang duduk disamping saya kala itu berhasil mempertahankan shaumnya ditengah godaan-godaan yang datang padanya. (Insan Sains)

Jakarta, 17 Syawal 1430H, 23:31 WIB

Posted in: Renungan