Episode Cinta (Bag. 9) : Love is Beautiful

Posted on 27 Desember 2008

10



Judul diatas bukan lahir dari luapan jiwa yang sedang berbunga-bunga. Bukan pula hadir dari jiwa yang sedang merasakan keindahan cinta. Bukan…! Baru saja saya membaca buku yang berjudul “Life is Beatiful” untuk yang ke sekian kalinya. Tak hanya itu, tiga hari sebelumnya saya juga telah menonton film yang berjudul “Life is Beautiful”. Kedua sumber inspirasi inilah yang kemudian membangkitkan keisengan saya untuk mempelesetkan judul tersebut menjadi “Love is Beautiful”. Cinta itu indah.

“Life is Beautiful” = “Love is Beautiful”

Jika disederhanakan (dengan mencoret kata yang sama), maka akan diperoleh :

“Life” = “Love”

Disederhanakan lagi (dengan mencoret huruf yang sama), maka akan menjadi :

“if” = “ov”

Jika “if” adalah kependekan dari “infinite”, dan “ov” adalah kependekan dari “overview”. Maka inilah cerita antara kehidupan (Life) dan cinta (Love) yang akhirnya menghadirkan keindahan (Beautiful). Mula-mula embun cinta bersemayam, menyejukkan, menentramkan, kemudian memetamorfosis jiwa. Menghadirkan kekuatan tak terbatas (infinite) untuk menciptakan kehidupan bahagia (beautiful) yang tak berbatas ruang dan waktu. Jiwa itu pun kini mampu memvisualisasi gambaran menyeluruh (overview) tentang kehidupan indah (beautiful) yang hendak dicapainya.

Begitulah peran cinta (Love) dalam kehidupan (Life). Senantiasa memberikan kekuatan bagi jiwa-jiwa pecinta. Sebuah kekuatan untuk mewujudkan taman hati yang dipenuhi keindahan (Beautiful), sehingga menciptakan surga sebelum surga yang sebenarnya.

Dalam film “Life is Beautiful” tersebut dikisahkan tentang penganiayaan para tahanan Nazi. Sebuah keluarga penuh cinta hadir disana. Sang suami dengan tampang biasa, sang istri yang cantik luar biasa, serta pangeran kecil mereka yang berumur 7 tahun. Tak pernah ada kebahagiaan di camp penganiayaan itu. Dan tak usah membayangkan kesenangan bisa dirasa disana.

Tapi cinta yang bersemayam dalam jiwa sang pemimpin keluarga itu telah memberi kekuatan yang tidak terbatas untuk menjadikan kehidupan mereka tetap bahagia. Penganiayaan fisik yang diterima sang suami tak menumpulkan cintanya untuk tetap mengundang simpul senyum sang istri yang juga dikuras tenaga. Kekejaman sang penguasa tak menyurutkan cinta sang ayah itu untuk tetap menghibur sang anak, dengan mengatakan bahwa mereka tengah berada dalam sebuah permainan besar untuk mendapatkan kebahagiaan dan hadiah yang sangat besar pula. Sebuah gambaran menyeluruh tentang akhir kehidupan bahagia yang ingin dicapai dengan cinta.

Itulah jiwa yang dipenuhi dengan cinta. Jiwa yang masih bisa memberi dalam keterbatasan, masih bersedia tersenyum dalam rintih tangisan, masih bersedia membahagiakan walau dalam kesedihan, masih mau mencintai walau teraniaya, masih berkenan mendoakan walau terdzalimi, masih bersedia menolong walau dalam kesempitan. Lain hal dengan jiwa-jiwa yang fakir cinta, menatap kondisi yang sama dengan merintih kesakitan, mengeluh kelaparan, menatap nanar siksaan demi siksaan. Sungguh tak ada kebahagiaan pada jiwa yang fakir cinta.

Film itu telah menggugah naluri kepemimpinan saya. Hingga timbul satu pertanyaan mendasar, “Siapkah jiwa kita diisi dengan cinta?” Menyemayamkan embun cinta dalam jiwa. Mengejewantahkan satu-satunya hakikat mencintai, yaitu memberi. Memberikan segala kebahagiaan kepada orang yang dicintai. Raga boleh ditelan bumi, tapi mudah-mudahan cinta karena Zat yang mengkaruniakan cinta mengantarkan kita pada kehidupan abadi penuh keindahan. (Insan Sains)

Jakarta, 27 Desember 2008, 20:33 WIB

Next Episode : ……

Posted in: Episode Cinta