Episode Cinta (Bag. 7) : Garam, Simbol Kesempurnaan Cinta

Posted on 22 Desember 2008

12



Pada setiap jiwa yang dipenuhi cinta, tertanam hasrat untuk menemukan belahan cintanya. Sebuah sunnatullah yang tintanya telah mengering. Yang tidak mungkin dibantah gelengan kepala, ataupun ucapan “tidak”. Sunnatullah inilah yang menghidupkan jiwa-jiwa pecinta. Menggelorakan semangat pencarian cinta yang disembunyikan tangan kanan takdir yang bernama, waktu. Terus menggelora, hingga cinta yang dibawa tak hanya sekedar menepuk angin. Melainkan cinta yang berbalas cinta. Memeluk rindu yang telah Allah janjikan.

Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah” (QS. Adz-Dzariat, 51:49)

Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan” (QS. 53:45)

Dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan” (QS. An-Naba, 78:8)

Namun bukan cinta namanya jika belum datang ujian yang ingin menumbangkan. Salah satu ujian diantara ujian-ujian cinta adalah masalah kesetaraan. Syetan senantiasa menghembuskan keragu-raguan dalam hati para pecinta. Mulai dari meragukan yang dicinta hingga meragukan jiwa pencari cinta itu sendiri. Merasa berjiwa kerdil, merasa tak pantas mendampingi, merasa minder, merasa tak pernah bisa sempurna.

Jika ujian ini yang sedang kita hadapi. Maka ingatlah bagaimana garam (NaCl) menyempurnakan cintanya. Natrium (Na) bukanlah unsur kimia yang dapat berdiri sendiri. Begitu pula dengan Klorida (Cl). Mereka membutuhkan pasangan untuk membuat kehadiran mereka diyakini dan memberi manfaat. Ketika masih sendiri, Klorida (Cl) termasuk unsur kimia yang berbahaya bagi tubuh. Biasanya berbentuk asam (HCl). Demikian pula dengan Natrium Karbonat, walaupun tidak sebahaya HCl.

Keduanya sama-sama memiliki sisi “negatif”. Namun begitu mereka berdua dengan ikhlas menerima setiap kekurangan dan ketidaksempurnaan, dan kejernihan air diundang untuk menyaksikan ikatan cinta mereka. Maka saat itulah kuncup cinta itu mekar menjadi bunga cinta yang indah sempurna. Terciptalah kristal-kristal garam yang telah kehilangan sifat-sifat “negatif” dari Natrium maupun Klorida yang menyusunnya. Yang tertinggal hanyalah sisi “positif” yang memberikan manfaat.

Itulah kesempurnaan cinta yang dibangun dari dua jiwa yang tidak sempurna. Menghasilkan jiwa baru yang saling genap-menggenapi, saling tumbuh-menumbuhkan, saling menyempurnakan maha karya kehidupan yang dititipkan sang Khaliq.

Kesempurnaan cinta garam ini senada dengan senandungnya Rumi :
Tak ubahnya langit dan bumi dikaruniai kecerdasan
karena mereka melaksanakan pekerjaan makhluk yang memiliki kecerdasan.

Andaikan pasangan ini tidak mengecap kenikmatan
mengapa mereka bersanding layaknya sepasang kekasih?

Sebagaimana Tuhan memberikan hasrat pada laki-laki dan perempuan
sehingga menjadi terpelihara oleh kesatuan mereka

Tuhan juga menanamkan ke semua eksistensi, hasrat untuk mencari belahannya
Masing-masing saling mencintai untuk menyempurnakan karya bersama mereka

Jangan berhenti mencintai hanya karena ketidaksempurnaan diri. Senantiasalah meluruskan niat, bulatkanlah tekad, halalkanlah cinta jiwa ini dengan ikatan cinta jiwa yang mengharap cintaNya. Jagalah cintanya, hingga rindu ini senantiasa bersemayam dalam jiwa. Rindu akan perjumpaan dengan Rabb-mu.

Selamat meng-garam-kan cintamu. (Insan Sains)

Jakarta, 22 Desember 2008, 23:11 WIB

Next episode : ….

Iklan
Posted in: Episode Cinta