Episode Cinta (Bag. 3) : Cinta vs Takdir

Posted on 19 Desember 2008

15



Cinta melanda siapa saja. Tak terkecuali para pahlawan. Cintalah yang telah memberikan kekuatan pada mereka hingga rela meregang nyawa, membahagiakan orang-orang yang mereka cinta. Cinta itu pula yang berdiri di belakang orang-orang besar (termasuk para ulama), memompa semangat, menguatkan kesabaran, meneduhkan kegusaran, hingga mampu membuat orang-orang itu bangkit saat terjatuh, dan terus berlari mengukir prestasi hingga akhirnya namanya terpahat indah di tanah yang bernama bumi ini.

Saat dua luapan cinta beradu, muncul gelombang dahsyat bagai ombak yang lama terpisah. Memerpercik embun-embun cinta. Memancing mentari mengangkatnya, mengangkasa ke langit. Sayang, embun-embun cinta itu tak pernah benar-benar sampai ke puncak langit. Awan takdir tak pernah luput mendekap dan mengaraknya. Bersyukurlah bila awan takdir tak lantas menjatuhkannya kembali ke bumi. Namun, tidak semua cinta berakhir bahagia. Ada kalanya takdir tak cukup bermurah hati untuk terus mengarak cinta, membumbungkannya di langit, membahagiakan para pecinta. Ada saat dimana langit berwajah mendung, menjatuhkan cinta-cinta yang tak lagi ingin dibawa sang awan takdir berarak di langit. Hujan air mata tak pelak lagi, menangisi harapan yang tak kunjung menjadi nyata. Mengundang petir kesedihan. Getir. Menggoreskan luka batin yang mengaga. Entah kapan dapat terobati?

Mari kita tengok perjalanan cinta salah seorang ulama besar Islam. Siapa yang tak mengenal Sayyid Qutb seorang ulama ternama yang menulis tafsir Fi Dzilalil Qur’an. Namun tak banyak orang yang mengetahui sisi personal dari ulama besar ini. Apalagi jika itu menyangkut episode cinta yang beliau alami. Ulama besar ini pun pernah tersentuh oleh embun-embun cinta. DR. Abdul Fattah Al-Khalidi dalam tesis master dan disertasi doktornya tentang Sayyid Qutb, menulis bahwa Sayyid pernah mengalami dua kali jatuh cinta, serta dua kali patah hati pula.

Luar biasa bukan? Ternyata bukan hanya manusia biasa saja yang bisa mengalamai patah hati, seorang ulama pun bisa demikian. Embun cinta pertama datang menyentuh jiwa sang Sayyid. Dialah gadis pertama yang membangkitkan kerinduan sang Sayyid untuk menautkan cintanya. Embun cinta itu datang dari desa kelahiran. Namun 3 tahun sejak beliau harus menjauhkan raganya dari gadis pujaan ke Kairo untuk menuntut ilmu agama, gadis tersebut ternyata memilih menyerahkan cintanya kepada orang lain. Tak pelak lagi begitu terpukulnya sang Sayyid mengetahui berita ini. Tak kuasa menahan sedih, seguk tangis tak terbendung. Sangat dimaklumi bagaimana rasanya merelakan kepergian embun cinta pertama yang pernah mengisi relung jiwanya, yang pernah melambungkan asa dan melejitkan potensi kebaikannya. Cinta pertama memang indah, namun sakitnya menusuk ulu hati hingga menganga.

Embun cinta kedua lahir, menyejukkan dan membangkitkan kembali kerinduaan jiwa sang Sayyid untuk menautkan cintanya karena kecintaan kepada Allah. Gadis kedua ini berasal dari Kairo. Mengenai gadis ini sang Sayyid pernah menggambarkan bahwa paras gadis pembawa embun cinta ini tidaklah buruk namun gagal untuk dibilang cantik. Nampaknya ada pesona lain yang memikat sang Sayyid sehingga merindukannya. Mungkin tatapan menyejukkan yang dibawa embun cinta ini. Sayangnya, lagi-lagi takdir tidak bermurah hati dengan cinta sang Sayyid. Di hari pertunangannya, sang Sayyid seakan disambar petir, pasalnya gadis tersebut sambil menangis menceritakan bahwa Sayyid adalah orang kedua yang hadir dihatinya. Perkataan gadis itu seakan meruntuhkan harapan sang Sayyid untuk mendapatkan gadis yang perawan fisiknya, perawan juga hatinya.

Sang Sayyid akhirnya memutuskan hubungan dengan gadis Kairo tersebut, pergi membawa raganya jauh dari embun cintanya. Raga sang Sayyid boleh saja menjauh, namun jiwanya ternyata tak mampu melepaskan pesona sang embun cinta. Selanjutnya apa yang terjadi? Sang Sayyid tenggelam dalam penderitaan jiwa yang selalu dibawa atas nama cinta. Kesedihan bercampur kerinduan ternyata lebih menyiksa sang Sayyid dibanding goresan pedang yang menyayat tubuhnya. Akhirnya sang Sayyid mengorbankan idealismenya kemudian pergi menjemput dan rujuk kembali dengan gadis pembawa embun cinta tersebut. Namun sayang, kali ini gadis itulah yang menolak cinta sang Sayyid.

Perih bukan main gejolak rasa yang dialami sang Sayyid. Ada banyak puisi yang lahir dari penderitaan yang dirasakan sang Sayyid tersebut. Bahkan tercipta roman-roman yang merupakan bayang-bayang romansa cinta tersebut. Inilah peristiwa kedua yang membuat luka batin sang Sayyid. Saat harapannya menggantungkan cinta terputus oleh kekuasaan takdir. Menorehkan luka yang menganga menabur kepedihan.

Bukan Sayyid Qutb namanya bila beliau harus hancur gara-gara cintanya yang terhempas takdir. Dengan kebesaran hati dan sikap husnudzon terhadap takdir Allah, tanpa menafikkan kesedihan yang melanda hatinya, beliau berujar kepada sang Pemilik takdir “Apakah dunia tidak menyediakan gadis impianku? Ataukah pernikahan tidak sesuai dengan kondisiku?”. Saat cinta yang dirindu tak kunjung menerimanya, maka beliau menggantungkan seluruh cintanya pada zat yang selalu mencintainya, yang cintanya tidak akan pernah terputus, yang cintanya kekal abadi. Cintanya Allah. Ya, Allah. KepadaNyalah beliau menumpah ruahkan seluruh cinta dan mimpi-mimpinya yang tertolak takdir, sambil berlari menjemput takdirnya yang lain.

Setelah peristiwa terakhir tersebut sang Sayyid dipenjara selama 15 tahun. Dan di penjara itulah beliau dengan gemilang berhasil menulis tafsir Fi Dzilalil Qur’an dengan cinta. Sebelum akhirnya harus meregang nyawa di tiang gantungan. Sendiri…! Dengan cinta yang sudah tertumpah ruah semua untuk Rabbnya, hanya kepada Rabbnya. (Moga Allah memberkahi engkau duhai sang Sayyid)

Begitulah cinta ketika ia harus berhadapan dengan takdir. Cinta memang terkadang harus selalu mengalah untuk membahagiakan siapapun yang dicintainya. Tak perlu takut untuk menautkan cinta, selama kecintaan itu tertuju untuk mengharap keridhaan Allah. Bukankah dalam sebuah hadist yang shahih Allah swt pernah mengingatkan bahwa Ridha dan pertolonganNya (saat tidak ada pertolongan selain pertolonganNya) ada untuk 7 golongan, salah satu diantaranya adalah mereka yang saling mencinta, bertemu karena Allah dan berpisah pun karena Allah.

* * *

Dan teruntuk gadis yang membawa embun cinta bagi jiwa ini, dan yang menghadirkan cintanya untuk jiwa ini. Jadikan kalimat ini menjadi pengingat bagi kita untuk saling mencintai karenaNya. Mari kita senantiasa memperhatikan dan meluruskan niat kita setiap saat. Jika Dia ridha dan berkenan mempersatukan cinta kita, maka puja dan puji menjadi kewajiban bagi kita untuk memanjatkannya kepada Allah. Dan itulah awal perjalanan panjang kita membangun surga sebelum surga yang sebenarnya, hingga kelak kita memandang wajah Rabb Yang Maha Suci. Namun, jika takdirNya berkehendak lain, marilah kita bertakbir. Bukankah Dia satu-satunya zat yang Maha Besar dan Maha Berkehendak itu? Betapa tak berartinya jiwa-jiwa kecil kita dihadapanNya. Maka teguhkanlah kesabaran, dan kuatkanlah kecintaan kepadaNya. Mudah-mudahan cinta membuat kita menjadi manusia yang lebih baik, bukan manusia penyembah berhala atas nama cinta.

* * *

Selamat belajar untuk saling mencintai karena Allah
Dan selamat belajar ikhlas untuk menerima takdir yang diberikan Allah (Insan Sains)

Surabaya, 17 Desember 2008, 23:03

Next episode : Semburat Cinta Langit dan Bumi

Iklan
Posted in: Episode Cinta