Episode Cinta (Bag. 2) : Surga Sebelum Surga Sebenarnya

Posted on 17 Desember 2008

13



Rumah berteduh itu boleh saja sempit. Pun tak perlu luas membentang. Selama mampu menghadirkannya menjadi taman jiwa yang rimbun dengan pohon cinta, cukuplah. Di taman itulah, jiwa-jiwa akan senantiasa mendapat keteduhan di tengah teriknya ujian hidup yang disembur langit, mendapat kenyamanan di tengah hiruk pikuk bumi yang menggoncang raga, menyesakkan batin.

Hanya di rumah yang mampu menghadirkan keteduhan dan kenyamananlah, jiwa-jiwa akan senantiasa tumbuh. Luapan masalah yang datang tak pernah menjadi besar, kebimbangan yang dirasa mampu direduksi, kegelisahan yang melanda mampu diredam. Semua ini terjadi karena pohon cinta menyerap semuanya sebagaimana pohon menyerap air dan teriknya mentari. Kemudian yang nampak hanyalah buah hikmah yang bisa dipetik jiwa. Buah hikmah itulah yang menjadikan jiwa-jiwa disayangi bumi, serta dirindukan langit.

Oleh karena itu, di taman jiwa yang penuh cinta inilah, isak tangis dapat berubah menjadi senyum manis, ketakutan dapat berubah menjadi kekuatan untuk membangun. Di taman ini pulalah, jiwa-jiwa itu senantiasa akan merasakan kelapangan. Bukankah jiwa yang lapang jauh mempesona dibandingkan istana yang lapang? Inilah yang kemudian menjadikan rumah mungil itu menjadi rumah yang penuh berkah. Rumah yang mampu menghadirkan surga sebelum surga sebenarnya.

Bangunlah surga itu dengan cinta untuk mengharap cintaNya. Jaga dan pupuklah pohon cinta itu. Jangan biarkan ia meranggas dan layu, hingga kering kerontang dan akhirnya mati tanpa menyisakan buah. Cinta itu harus dinamis dan berkembang. Agar tiap kata yang terucap jiwa di rumah itu tetap memiliki getaran bagi jiwa-jiwa lain yang mendengarkannya. Agar kalimat cinta yang terucap jiwa tidak kehilangan efek dahsyat yang dapat membahagiakan jiwa-jiwa lainnya. Agar pandangan penuh cinta yang terpancar jiwa tetap dapat menyejukkan jiwa-jiwa lainnya. Agar perbuatan jiwa tetap mampu menjadi inspirasi bagi jiwa-jiwa lainnya.

Tanam dan senantiasa pupuklah pohon cinta itu. Dan sebaik-baik memupuk yaitu memupuk pohon cinta kita dengan memperkuat kecintaan kepada Allah. Penuhilah dindingnya dengan dzikir, tegakkanlah tiangnya dengan shalat fardhu, terangilah ruangannya dengan tilawah Al-Quran, hiasilah rumah itu dengan shalat malam, semerbakkanlah isinya dengan meneladani rumah tangga rosulullah. Dengan demikian, rumah mungil itu kini telah menjadi surga sebelum surga yang sebenarnya. Tempat kita tumbuh, tempat kita memadu kasih, tempat kita berharap pertemuan dengan Zat yang memberikan kita cinta.

Selamat membangun surga sebelum surga sebenarnya..! (Insan Sains)

Surabaya, 16 Desember 2008, 22:46

Next Episode : Cinta vs Taqdir

Posted in: Episode Cinta