Episode Cinta (Bag. 1) : Selamat Datang Embun Cinta

Posted on 16 Desember 2008

22



Ada satu episode yang akan dialami oleh setiap pemeran dalam panggung kehidupan ini. Episode yang klasik, namun tetap mampu melahirkan sensasi fantastis bagi jiwa. Sebuah episode hidup yang mampu membumbungkan asa hingga mampu melewati batas biasa. Dan episode itu bernama : episode cinta. Semua jiwa akan mengalaminya. Tidak peduli peran apa yang Sang Sutradara berikan kepadanya. Apakah dia maskulin atau feminim. Apakah dia cantik ataukah biasa. Apakah dia kaya ataukah miskin. Apakah dia bangsawan atau rakyat jelata. Apakah dia gagah atau kurus ceking. Apakah dia seorang ulama maupun penjahat sekalipun. Cinta itu tumbuh pada mereka semua. Dan cinta itu hadir untuk menyirami jiwa, menumbuhkannya dan melejitkan potensi-potensi kebaikan yang lama terpendam.

Itulah sebabnya setiap sahara jiwa yang terpercik tetes-tetes embun cinta akan berubah menjadi savana hijau yang menyejukkan, ladang subur yang siap menyerahkan ranumnya buah. Jiwa-jiwa itu bermetamorfosis menjadi jiwa-jiwa baru yang senantiasa memantulkan cahaya kebaikan. Tak perlu heran mengapa terjadi demikian. Karena hakikat cinta selalu satu, yaitu memberi. Adakah manusia yang lebih baik daripada manusia yang gemar memberikan kebaikan-kebaikan? Adakah jiwa yang lebih mulia daripada jiwa yang rela memberikan kebahagiaan bagi orang yang dicintainya? Semangat memberi inilah yang akhirnya membangunkan potensi-potensi kebaikan sang jiwa yang tengah tertidur pulas.

Sayangnya, ketidakmampuan mengelola cinta pada akhirnya akan mengantarkan diri pada paganisme baru. Menjadikan cinta sebagai berhala (sesembahan) baru. Mengalahkan cinta kepada Zat yang mengkaruniakan cinta. Itulah cinta yang akan menyengsarakan si pecinta. Cinta yang hanya akan membawa duka tanpa memberi celah suka. Cinta yang hanya menciptakan senyum semu, dengan menenggelamkan kebahagiaan sejati.

Bukan hal yang mudah untuk menjaga agar cinta yang hadir berada pada rel yang benar. Menjadikan cinta yang tumbuh mampu mengantarkan para pecintanya menuju pada terminal akhir yang membahagiakan. Terminal yang selalu kita rindukan. Terminal itu bernama, surga. Cinta yang terjaga itulah yang kelak akan mengantarkan para pecintanya berangkat dari surga yang bernama “rumah” menuju surga sebenarnya yang bernama “firdaus”.

Sebelum jari dan jiwa ini bertutur lebih jauh. Dengan rasa bahagia membumbung asa dan dengan rindu makin membucah, saya ingin mengucapkan :

“Selamat datang embun cinta..!”

Surabaya, 16 Desember 2008, 00:34 -Insan Sains-

Ditandai: ,
Posted in: Episode Cinta