Secangkir Teh Hangat di Gerimis Hujan untuk Perindu Surga

Posted on 5 November 2008

40




Image : http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/c/c2/Heavy_Rain.jpg

Pagi kawan…!! Oktober sudah berlalu. Kini saatnya November menjelang, dengan membawa seguyur hujan. Suhu udara sekarang benar-benar dingin. Inginnya terus berselimut, mendekap bantal dan guling. Mudah-mudahan limpahan hujan tidak menjadikan bencana bagi siapapun, dan dimana pun. Dan mudah-mudahan limpahan hujan memberikan limpahan rahmat dan hidayah bagi kita.

Mau ngobrol tentang hujan?

Silahkan duduk dengan nyaman di sana. Ups… tidak usah tegang. Bahu dan lehernya lebih enak jika di-rilex-kan. Keningnya tak perlu dikernyitkan, sayang otot-otot kita bergerak tidak manfaat. Kita duduk berdua dengan santai ya. Sebentar, saya buatkan dulu teh hangat untuk menemani obrolan kita di pagi yang rintik-rintik ini.

[sesaat kemudian]

Emmm… harum sekali teh ini. Panasnya mengepulkan uap. Tak perlu dilihat bentuk dan warna cangkirnya betapapun dirimu menyukainya kawan, tapi cobalah pegang tangkainya, dan reguk kenikmatan aroma teh ini.

Ssssrrrrtt… seruputan pertama teh dengan aroma melati membuka kehangatan jiwa. Sedetik kemudian terdengar bunyi cangkir yang beradu dengan alasnya di meja.

Kawan….! Entahlah berapa banyak orang yang senang bertemu dengan hujan seperti ini. Kemarin saat kemarau, panasnya hampir-hampir membuat kita “sakau”, meraung memelas hujan. Kini setelah hujan tiba, kita mengiba untuk datang terik mentari. Hihi.. itulah tabiat manusia. Termasuk diriku tentunya.

Oia kawan…! Pernah melihat orang mati bunuh diri dari lantai 50 tidak? Iih.. serem pokoknya melihat bentuk mayatnya. Hancur berantakan.

Sssssrrrrtttt…. seruputan kedua untuk menelan kengerian membayangkan si mayat

Ah.. sudahlah tak usah diperpanjang dan merusak pagi yang indah ini. Aku membayangkan kalau dia mencoba bunuh diri di ketinggian 50 cm. Hahaha…

“Jangan coba mendekat. Atau saya akan terjun bunuh diri”. [wajah cukup serius]

“Emang kenapa mau bunuh diri?” [pertanyaan santai]

“Kamu gak perlu tahu”

“Pasti karena ditolak pacar kan..!”

“Loh kok tahu?” [dengan wajah culun dan sok kaget]

“Itu mah klasik. Mas… mas…! Lagian kalo mau bunuh diri di lantai 50 kek. Jadi yang nonton kelihatan tegang gitu. Ini mah mau bunuh diri loncat dari tembok yang tingginya cuman 50 cm. Hehehe… Yang ada bukan hilang nyawa mas. Paling hilang harga diri😀 ”

Sssssrrrrrtt.. sruputan ketiga yang diiringi dentingan cangkir dan senyuman nyinyir.

50 lantai dan 50 cm, hanya beda soal ukuran saja. Tapi ukuran inilah yang menentukan mati tidaknya orang yang hendak bunuh diri tadi. Pernah dapat pelajaran Fisika kan kawan? Semakin tinggi kedudukan sebuah benda, maka energi potensialnya semakin besar. Itu berarti daya hantam ke bawahnya makin besaaaaaaaar… (sambil meregangkan kedua tangan hingga ke ujung dan dada terbusung)

Ya.. ya… kali ini saya tidak akan memberikan angka-angka untuk dihitung. Saya tahu pagi ini bukan saatnya bermain dengan matematik, tapi dengan teh manis ini. Hehehe.. silahkan diminum juga.

Ssssssrrrrrttt.. sruputan keempat. Setengah cangkir tersisa.

Tapi yang jelas daya hantam ke bawah itu selain tergantung ketinggian juga sebanding dengan massa objek dan konstanta gravitasi bumi. Lupakan sejenak masalah hitung-hitungan fisika. Sekarang coba perhatikan rintik-rintik hujan dibalik jendelamu kawan. Apa yang terbayang dalam benakmu? Ayo tengoklah terlebih dahulu..! Ah.. betapa mesranya kalau ada sepasang kekasih yang berpelukan ditengah gerimis ini? Hus… bukan itu…! Ini masalah air hujan yang “bunuh diri” dari langit. Pernah tahu tidak dari ketinggian berapa ia “bunuh diri”?

>>geleng-geleng kepala, sambil menyeruput teh yang sekarang sudah menghangat.

Paling rendah itu, air hujan jatuh alias “bunuh diri” dari ketinggian 1.200 meter. Kebayang gak sih ketinggian segitu? Bayangkan saja kamu bisa berjalan vertikal ke langit, dan kamu berjalan kurang lebih 2400 langkah. Dan tengoklah kebawah.. Uiiiihhhh.. tingginyaaaaa…!!! Jangan coba loncat dari sana yah. Aku masih ingin bersamamu (halaaah.. gombal lagi…😀 )

Dengan massa benda seukuran air hujan dan terletak pada ketinggian paling rendah itu, benda tersebut dapat mencapai kecepatan 558 km/jam ketika sampai di permukaan (tanah). Geleng-geleng kepala lagi? Sulit membayangkan benda dengan kecepatan yang secepat itu tiba-tiba menabrak objek lainnya? Ah.. dikau…! Dengan kecepatan seperti itu sebuah benda sanggup untuk meremukkan sebuah mobil FUSO, rumah bertingkat hancur berantakan, bahkan menimbulkan lubang yang dalam dan lebar di lahan pertanian. Perhatikan saja peluru yang ditembakkan, dengan kecepatan yang tak seberapa itu mampu membuat tubuh kesakitan, tembok hancur berlubang.

Dan penggambaran barusan adalah untuk air hujan yang tingginya hanya 1.200 meter. Padahal ada juga air hujan yang jatuh pada ketinggian 10.000 meter. Wow…!! Mau coba membayangkan lagi kerusakan yang bisa ditimbulkan? Hehehe….

Sssssrrrrrrttttt.. seruputan ke-enam untuk teh yang mulai mendingin. Tak lagi terlihat uap mengepul diatas cangkir.

Kawan… ini bukan pemanis kata, melainkan sebuah fakta. Bahwa kenyataan yang kita dapati ternyata air hujan tidak jatuh dengan kecepatan yang sedemian dahsyat mematikan. Melainkan hanya antara 8-10 km/jam saja. Yang dengan kecepatan segitu, kita hanya mendengar rintik hujan membasahi genting rumah dengan suara cukup nyaring, apalagi kalau jatuh pada atap berbahan seng. Kita pun melihat anak-anak berlarian bermain hujan tanpa perlindungan extra.

Lantas apakah fenomena ini menyimpulkan air hujan telah menyalahi sunnatullah (hukum alam, fisika)? Tidak… tidak sama sekali. Justru ada yang membuat hal ini terjadi. Yaitu karena bentuk dan “ukuran” yang diciptakan Allah untuk sang air hujan. Air hujan memiliki bentuk yang istimewa sehingga ketika air hujan memasuki atmosfer bumi muncul pengaruh pemecah dan mencegah percepatan kala air hujan mencapai “batas” tertentu.

Air hujan tidaklah berbentuk lonjong, dimana lebar dibawah dan menciut diatas, melainkan hampir bulat, bahkan bentuknya menyerupai hamburger sebagaimana yang penah dikaji dan diteliti oleh Philipp Lenard pada tahun 1898. Bentuk dan ukuran inilah yang kemudian dijadikan teknik oleh manusia modern untuk membuat sebuah parasut.

Sssssrrrttt… sruputan panjang menghabiskan tegukan teh manis sampai tetes terakhir.

23_18

Dan kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkan. (QS. Al-Mukminun, 23:18)

43_11

Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (ukuran) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur). (QS. Az-Zukhruf, 43:11)

DIAlah sebaik-baik pencipta. Tidakkah kita ingat bahwa selain Allah menurunkan hujan untuk menghidupkan tanah yang mati, dia pula menurunkan ayat agar menghidupkan hati kita untuk ingat kepada kebesaran-Nya. Hujan itulah “air dari langit” yang seyogyanya menggerakkan kening kita untuk sujud mengakui keagungan penciptaan-Nya. Betapa sempurnanya “ukuran” yang Dia tetapkan untuk sang air hujan. Subhanallah…

Sumber :
Al-Quran
http://en.wikipedia.org/wiki/Rain
Harun Yahya, Mengenal Allah Lewat Akal