Prie Si Bocah Unik

Posted on 4 November 2008

13



Diantara sekian banyak wajah yang saya kenal, ada satu wajah yang tak bisa luput dari ingatan saya. Tidak bisa luput, karena memang hampir setiap hari bertemu. Tak bisa hilang dari ingatan, karena memang wajahnya benar-benar unik. Unik? Entahlah, apakah “unik” kata yang tepat untuk mendeskripsikan wajah ini. Yang jelas orang-orang yang mengetahui keberadaannya mengatakan bahwa wajahnya tidak menarik untuk dilihat, kulitnya hitam walaupun tidak legam, tubuhnya kurus kering, tatapan matanya tak jelas, kadang kosong, kadang meraba sekelilingnya, namun lebih sering ia menunduk. bibirnya tebal dan jarang sekali tertutup rapat, kontan deretan gigi tak terawatnya selalu terlihat. Bicaranya kadang sedikit gagu. (Maha Suci Allah dengan segala penciptaan-Nya)

Prie. Itulah panggilan kami untuk seorang bocah kecil yang berwajah unik itu. Keunikan ini pula yang mendorong, baik bocah-bocah seusianya, maupun yang lebih besar dan lebih tua darinya kadang menjadikan Prie sebagai guyonan. Guyonan? Hem… mungkin lebih tepatnya “eufimisme ejekan”. Menertawakan wajah, tingkah polah, dan ke”idiot”an Prie. Namun sekali lagi saya katakan, Prie benar-benar unik. Bocah ini menanggapi peluru-peluru “guyonan” yang menghantam dirinya dengan senyum khasnya. Senyuman yang sangat lebar, hampir-hampir seluruh giginya terlihat, dari ujung ke ujung, dari atas hingga ke bawah. Senyuman itu yang menjadikan Prie seakan tak bergeming dengan pahitnya “guyonan” itu. Walaupun akhirnya menjadikan pula orang-orang yang mencelanya tak merasa bersalah.

Keunikan Prie bagi saya tidak berhenti disitu. Prie memang bukan seorang bocah berwajah tampan. Pun bukan pula bocah terkenal. Entahlah dia anak siapa. Sampai detik inipun, saya tak pernah berhasil mendapat jawaban dari bocah itu. Dialog yang paling panjang antara kami adalah jawaban “sudah” yang dia lafalkan tak jelas, mulutnya seakan mengulum sesuatu, ketika dia saya tanya “apakah sudah makan?”. Selebihnya dialog kami hanyalah dialog bisu, hanya saling melempar senyum kala berhadapan wajah. Tapi dialog bisu itu ternyata lebih indah daripada kata-kata yang selama ini saya ucapkan.

Prie memang tak mengenyam pendidikan. Dalam pandangan orang mungkin dia tergolong anak yang tidak cerdas. Tapi coba sejenak kita tengok Prie kala shubuh mengumandang. Dialah bocah yang selalu saya temui di pojok shaf terdepan mesjid. Dialah bocah yang rela meninggalkan kenikmatan tidur demi menemui Tuhan yang telah menciptakan segala keunikan dirinya. Lalu kecerdasan manakah yang lebih tinggi dari kesadaran seseorang untuk menghadap Tuhannya kala dekapan mimpi, empuknya kasur dan hangatnya selimut tak mampu dihindarkan?

Setiap shubuh dan shubuh-shubuh sebelumnya, Prie selalu menorehkan kesan bagi saya. Selesai shalat berjamaah, dia selalu menciumi tangan para ulama sepuh. Kemudian matanya berjalan mengitari mesjid, mencari sesosok pemuda untuk berdialog bisu. Kening bocah itu pun segera disentuhkan ke punggung tangan kanan saya setelah sedetik yang lalu kami berjabatan tangan. Dan dialog bisu itu pun berlangsung. Senyum pun saling dilemparkan.

Dialah bocah unik itu. Dialah Prie yang telah mengajarkan kepada saya, keteguhan hati menghadapi cercaan orang. Dialah Prie yang telah mengajari saya keistiqamahan untuk selalu datang menginjakkan kaki saya, berada di shaff terdepan. Dan dialah Prie yang menghadapi segala hal dalam hidupnya dengan senyum dan diamnya. Prie… mudah-mudahan Allah mengumpulkan kita di surganya kelak.

Iklan
Ditandai: , , , ,
Posted in: Renungan