Orang Terakhir

Posted on 27 Oktober 2008

8



Di satu bulan terakhir ini, sudah 5 undangan bersarang di meja kerja saya. Undangan pernikahan tepatnya yang saya maksud. Terakhir kali, saya datang ke walimah-an teman saya yang bernama Basar Saeful Muluk, di Cililin. Sebuah resepsi yang sederhana namun sangat memberi kesan bagi saya. Bukan hanya hari itu saya mesti pulang pergi Jakara-Bandung-Cimahi-Cililin, bertemu teman-teman lama, dan tentunya peristiwa terguyurnya Afina dengan segelas bandrek susu. Panas tentunya bandrek susu tersebut. πŸ˜€ Ah.. tapi yang jelas ada kesan yang sangat dalam di acara resepsi tersebut yang sungguh tidak bisa saya ungkapkan.

Nah, kemarin (Minggu, 26 Oktober 2008) ada sebuah peristiwa menghadiri walimah-an yang sangat memberi kesan juga bagi saya.

Aduuh.. San.. kapan sih ada peristiwa yang biasa-biasa aja di mata kamu?
Semuanya kok tetap memberi kesan.

Hehehe… Life is Beautiful bukan?

Jadi ceritanya begini…
Ada dua undangan yang harus saya hadiri pada saat itu. Kenapa saya mengatakan harus? Sebab menghadiri undangan seorang muslim, adalah salah satu dari hak-hak mereka yang harus kita penuhi. Jadi saya mewajibkan diri sendiri untuk menghadiri sedapat mungkin. Walaupun seperti biasa, hari Minggu adalah waktu tersibuk saya.

Cieee… gaya…! Orang sibuk nih..? Atau sok sibuk?

Minggu adalah waktunya olah raga wajib, minimal lari ke Senayan. Walaupun lebih sering melanggar, dan memilih olah raga di dalam mimpi. πŸ˜€ Jam delapan disambung mesti ke kampus. Setidaknya, saya bisa leluasa untuk praktikum disana. Ditambah lagi, ada beberapa teman yang minta untuk diajari pengontrolan menggunakan mikrokontroler, meminta β€œkuliah” tambahan dari saya, dan tentunya teman-teman yang minta sharing untuk ide dan bimbingan Tugas Akhirnya. Dalam hati ingin sekali menolak, sebab Tugas Akhir saya sendiri belum kelar-kelar hingga detik ini. Ditambah lagi jadwal kunjungan ke luar kota sudah disodorkan ke list pekerjaan saya untuk bulan-bulan ke depan.

Ups.. pembicaraan mulai tidak fokus nih. Bentar, saya geser kembali sudut pembicaraannya. Gggghhhh. Singkat cerita, saya baru bisa bernafas lega, bada maghrib. Setelah shalat maghrib berjamaah, saya langsung pulang, dan tiba di kontrakan saat isya. Mandi kemudian menggunakan batik coklat lengan pendek, celana panjang coklat, dan sepatu coklat. Benar-benar warna pakaian yang paling saya suka. Tiba-tiba handphone saya bergetar. Dan suara di seberang sana adalah seorang perempuan yang mengajak saya untuk berangkat sama-sama bersama dua orang atasan saya. Wah.. kebetulan sekali, dapat tumpangan.

Dimana ada niat, disitu selalu ada jalan.

Saya pun langsung meng-iyakan dan berangkat bersama-sama ke undangan walimah teman saya yang ada di Ciledug sana. Sebenarnya, tadinya ingin menghadiri walimahan tetangga yang cuman beda satu gang terlebih dahulu. Hanya saja, karena sudah ada yang menunggu, jadinya mendahulukan undangan yang sebenarnya lebih jauh jaraknya.

Kia Carnival biru tua meluncur. 6 orang ada di dalamnya. Saya salah satunya. Pembicaraan ngalor-ngidul, gak jelas. Mulai dari makanan hingga masalah strategi bisnis perusahaan. Pembicaraan mulai menyepi, kala lokasi undangan nyaris tak pernah kami temukan. Jalanan kecil yang hanya muat satu mobil. Berharap tidak ada mobil datang dari arah yang berlawanan. Kami benar-benar tersesat di tengah kekhawatiran berpapasan dengan mobil lain, walaupun nyatanya terjadi pula, dan mesti memeras keringat untuk keluar dari jebakan maut itu. Kantor kelurahan sebenarnya patokan lokasinya. Dan kantor itu pun sudah jelas-jelas ada di depan mata kami. Tapi tak jelas, kami tak melihat ada janur kuning melengkung disana.

Mobil pun dipacu ragu, mencari seuntai janur kuning di tengah malam. Suasana benar-benar gelap, lampu-lampu jalan sangat sedikit, nyaris tak ada. Putus asa mungkin terasa. Tapi akhirnya jurus terakhir, saya harus keluar mobil dan bertanya kepada beberapa penduduk disana. Jawabannya unik-unik, ada yang bilang β€œgak tahu”, ada yang bilang β€œsaya masih baru disini”, wah macem-macem. Sampai akhirnya bertemu bapak-bapak tua yang menunjukkan arah yang kami maksud.

Sialnya, setelah berputar-putar cukup jauh, kok rasanya kami kembali ke tempat yang pernah kami lalui. Kantor kelurahan. Ampun deh…!!! Akhirnya untuk yang kesekian kalinya, saya harus mengatakan β€œbiar saya saja” untuk menghalau atasan saya keluar mobil, kemudian melepas sabuk pengaman, membuka pintu, dan keluar dari mobil. Bertanya lagi tentunya. Kali ini tukang ojeg yang saya jadikan sasaran.

β€œPak… Saya mencari alamat ini pak! Katanya dekat kantor kelurahan.” (Sambil menunjukkan peta undangan)

Dengan wajah ademnya, si bapak tadi memegang pohon yang ada di dekatnya. Mata saya langsung terbetot oleh gerakan santai tangan bapak tadi. Sontak, bibir saya tersenyum nyinyir. Disana terpampang jelas nama teman yang saya maksud. Bapak itu menambahkan, β€œitu janurnya!” Sambil menunjuk ke arah 100 meter di depan saya. Duh.. keliling-keliling gak karuan, ternyata tempatnya disini-sini juga toh…!! Yang berada di mobil pun tertawa terbahak-bahak, yang jelas bukan menertawakan orang lain.

Kesan kunjungan ini belum berakhir sampai disitu. Setelah menemukan janur kuning, kami harus ke sana kemari mencari gang yang ditunjukkan oleh tukang ojeg tadi. Hahaha.. ah.. gak perlu diceritain yang ini mah. Namun yang paling konyol adalah, begitu tiba di lokasi, ternyata si pengantinnya sudah tak ada. Hiasan-hiasan sedang dibereskan. Kami disana persis seperti orang bingung bin linglung. Dan walaupun diajak ngobrol oleh tuan rumah, pikiran saya melambung tinggi menertawakan kekonyolan ini di dalam hati.

Sampai akhirnya, si pengantinnya datang dengan pakaian biasa. Bukan lagi dengan seragam pengantinnya…!! Di malam itu, saya tak henti-hentinya membodoh-bodohi diri saya sendiri. Keringat mulai menderas di kening, meleleh ke pelipis dan bulu mata hingga saya harus menyekanya beberapa kali. Dan meskipun disuguhi makan, saya hanya mengambil 3 sendok makan, dengan beberapa lauk. Itu pun mesti saya habiskan lebih lama dari teman saya yang memakan sepiring penuh. Saya lebih tertarik untuk berpikir bagaimana caranya menghabiskan malam kekonyolan ini secepat mungkin.

Dalam suapan-suapan malas, saya coba menerawang pikiran si pengantin yang duduk menemani kami makan. Hingga akhirnya saya bisa sedikit tertawa dalam hati. Rasanya bukan saya saja yang bingung, pengantin baru itu tentu lebih bingung. Kok ada yah orang seperti kami.. Hahaha….!! Eit.. eit.. tunggu…! Saya kan gak salah-salah amat Non, di undangannya di tulis jam 11 – selesai. Catat.. sam… pai.. se.. le.. sai….!! Hahahaha…

Ah.. sudahlah, antara si pengantin dan si tamu, yang jelas sama-sama bingung bukan kepalang rasanya. Hayoo… pengantinnya sekarang mau mengaku gak? πŸ˜€

Dan bagi saya kekonyolan masih belum berakhir, karena setelah dari undangan tersebut, saya harus menghadiri undangan tetangga sebelah rumah. Membayangkan peristiwa di Ciledug tadi membuat saya makin menertawakan diri sendiri sepanjang perjalanan pulang, bagaimana jika saya datang lebih lebih malam lagi? πŸ˜€

Undangan yang terakhir ini, saya datangi juga. Walaupun jam sudah menunjukkan 9.30 malam. Dan seperti yang sudah diduga sebelumnya, semua hiasan-hiasan sedang dibereskan. Namun, akhirnya dengan sedikit pasang muka β€œtidak punya malu” saya mendatangi undangan tersebut. Dan untunglah karena sudah cukup dekat dengan keluarga si pengantin, jadinya tidak ada rasa canggung, bahkan sambil bergurau dengan si orang tua pengantin saya katakan saya datang bukan untuk bertamu tapi untuk bersih-bersih tempatnya…. πŸ˜€ Bersih-bersih makanan, tepatnya….!! (bukan bersih-bersih tempatnya…!!! hahahaha… πŸ˜€ )

Melalui blog ini saya kembali ingin mengucapkan selamat dan doa untuk dua teman saya :

  • Lina Rosliana & suami
  • Masnah & suami

yang baru saja menyempurnakan separuh diennya.

β€œBarakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fii khair”

Btw…ternyata menjadi orang terakhir itu benar-benar sangat tidak mengenakkan. Bayangkan jika undangan itu adalah undangan untuk memasuki surga. Dan betapa konyolnya jika saya adalah orang terakhir yang memasuki surga.. Maka bersegeralah kepada ampunan Allah yang luasnya seluas langit dan bumi, ya San.

Iklan
Posted in: Personal