Selamat Lahir kembali Fin…!

Posted on 19 Oktober 2008

18



Alhamdulillah hari ini, saya bisa bersama kembali dengan Afina untuk membuat tulisan. Setelah minggu kemarin, Afina diistirahatkan total. Saya benar-benar shock, ketika Afina terguyur Bandrek Susu saat kami pergi ke Lembang. Bukan main…! Di udara Lembang yang dingin itu, saya bersama teman-teman menghangatkan diri dengan meminum segelas bandrek susu plus jagung bakar dan ketan bakar. Merasa mendapat inspirasi untuk menulis, Afina yang selalu saya bawa kemana-mana itu langsung saya ajak menulis sesuatu. Tiba-tiba ketika sedang enak-enaknya menulis, seorang teman secara ceroboh menumpahkan bandrek susu. Byurrrrr…!!

Waaaagh… Afina langsung teguyur sekujur body. Hati saya sekarat bukan main. Untunglah saya masih sempat ‘menidurkan’ Afina sebelum tumpahan bandrek itu menelusuk ke ‘jantung’nya Afina. Kontan, wajah teman saya itu pucat bukan main. Merasa bersalah, merasa jadi orang tolol, dan tentunya merasa menjadi paling ceroboh saat itu. Ah.. saya bisa melihat pucat pasi wajahnya itu. Dan tentunya mudah sekali bagi saya untuk meluapkan kemarahan. Ah.. sudahlah…! Toh kalau pun memang Afina harus berakhir, itu pun sudah ada dalam takdir Allah. Tinggal bagaimana saya menyambut takdir tersebut.

Dengan mencoba memasang wajah tenang, urat-urat leher saya paksakan untuk santai. Berharap si teman saya itu, teresonansi untuk tenang pula. Namun gagal. Akhirnya, dengan berbohong saya berkata, “Tenang…. Ini mah gampang. Besok insyaAllah bisa dipake lagi”. Padahal dalam dada saya bergemuruh perasaan was-was. Benarkah masih bisa digunakan? Kalau tersiram air putih sih, tak jadi soal. Ini bandrek booooww…!! Akhirnya, tanpa banyak ekspresi muka, saya masukkan Afina ke ‘rumah’nya. Dan mulai melahap ketan bakar dengan sambal kacang (tidak pedas…!). Patut dicatat tidak pedasnya. Karena memang saya sangat tidak menyukai sambal. Dengan berlagak sudah melupakan kejadian tadi, dan menganggap enteng peristiwa tumpahnya bandrek itu, hati saya masih dag-dig-dug memikirkan bagaimana caranya menyembuhkan Afina.

Hari itu di Bandung, benar-benar saya habiskan untuk mengobati kekangenan saya kepada teman-teman lama. Tak lebih dari 12 jam, saya pun langsung kembali ke Jakarta. Dan setelah tiba di kontrakan, saya langsung mem-pereteli Afina, dan mengguyurnya dengan air putih dan sabun. Kemudian mengeringkannya dengan fan super kencang yang kebetulan baru saya beli dari Surabaya. Tuts-tuts keyboardnya, LCD, hardisk, memory, dan seluruh jeroan Afina tergeletak dimana-mana. Persis notebook yang jatuh dari lantai sepuluh. Pagi-paginya, semuanya saya rakit kembali, dan jreng.. jreng…! Akhirnya hidup kembali, Alhamdulillah. Namun karena masih shock, Afina dengan berat hati diistirahatkan selama hampir satu minggu.

Sekarang Afina sudah kembali, dan mulai mau menulis kembali. Horeeee…!!! Baiklah…! Belum ada cerpen maupun tulisan lain yang bisa disubmit kali ini. Hanya saja barusan buka-buka tulisan lama saya, sembari mengecheck apakah ada data hardisk Afina masih utuh, ataukah ada yang rusak akibat terguyurnya itu. Alhamdulillah, tidak berkurang sesuatu apapun. Dan menemukan sebuah tulisan lama, yang mudah-mudahan tetap bermanfaat. Dari pada hanya cerita pengalaman terguyurnya Afina yang gak berbobot sama sekali.😀

SUNNAH FITHRAH

Diantara hukum-hukum fiqih thaharah (bersuci) yang belum banyak diketahui dan mungkin ditinggalkan oleh sebagian Muslimin adalah masalah-masalah sunnah fithrah. Sunnah fithrah, yaitu sunnah yang melekat pada diri manusia, sejak ia dilahirkan sampai dengan meninggal. Adapun diantaranya :

“Lima hal yang termasuk sunnah fithrah, yaitu: mencukur bulu kemaluan, berkhitan, memendekkan kumis, mencabut bulu ketiak dan memotong kuku” (HR. Mutafaq ‘alaih)

“Agar kesemuanya itu tidak melebihi empat puluh malam” (HR. Ahmad, Abu Daud)

Berkhitan
Berkhitan merupakan salah satu sunnah yang sangat ditekankan oleh Rosulullah saw, terutama bagi laki-laki. Para ulama membagi hukum berkhitan bagi laki-laki dan wanita sebagai berikut :
1. Bagi laki-laki, jumhur (mayoritas) ulama berpendapat wajib
2. Bagi wanita, sebagian ulama menyatakannya mubah (boleh) karena hadits yang digunakan tentang berkhitan bagi wanita adalah dha’if. Sebagian lagi menyatakannya sunnah karena kembali pada hukum asal keumuman hadits Bukhari.

Mencukur bulu kemaluan
Secara ilmu kedokteran modern, diketahui bahwa daerah-daerah pada tubuh manusia yang menjadi sarang penyakit hendaknya senantiasa dibersihkan, diantaranya adalah mencukur bulu disekitar kemaluan, bagi bagi laki-laki maupun bagi perempuan.

Namun harus diperhatikan bahwa tidak diperkenankan meminta dicukurkan bulu kemaluannya oleh orang lain, sekalipun itu adalah temannya yang sesama jenis.

Mencabut bulu ketiak
Membersihkan bulu ketiak, akan membuat daerah sekitar ketiak menjadi lebih kering dan sehat, serta mengurangi bau yang timbul karena meningkatnya kelembaban.

Memotong kuku
Kuku merupakan tempat bersarangnya kuman dan bakteri. Kuku yang panjang juga berbahaya bagi pelakunya karena dapat melukai anggota badan lainnya secara tidak sengaja dan dapat patah saat melakukan suatu pekerjaan sehingga membahayakan

Memendekkan kumis dan memanjangkan jenggot
Islam menjaga agar ciri khas seorang lelaki dan seorang wanita tidak dihilangkan dan tetap dapat dibedakan satu dengan lainnya. Hadits Rosulullah saw :

“Berbedalah dengan orang-orang musyrik, panjangkanlah jenggot dan pendekkanlah kumis”
(HR. Muttafaq ‘alaih)

Merapikan atau menyisir rambut
Merapikan atau menyisir dan meminyaki rambut merupakan salah satu sunnah fithrah yang diperintahkan oleh Rosulullah saw. Islam membenci orang-orang yang berambut kotor dan kusut masai tidak dirawat.

Tidak mencabut uban
Sunnah fithrah yang terakhir adalah tidak mencabut uban (HR. Ahmad). Tidak boleh mencat uban dengan warna hitam, tetapi boleh mencat / mewarnai uban, selain warna hitam tersebut (HR. Jamaah)

Wallahu ‘alam bishawab

Sumber bacaan :
Ringkasan Fiqih Lengkap, Ahmad bin Faudzan

Posted in: Personal