[Lanjutan] Kosong Bukan Berarti Tak Bermakna

Posted on 18 Oktober 2008

5



Hampir saja saya lupa. Bahwa ada postingan saya yang “menggantung”. Kata “bersambung” saya tuliskan dibagian akhir postingan tersebut. Namun sampai detik ini belum ada juga sambungannya. Hehehehe.. maaf yach. Terutama untuk mereka yang menantikan sambungannya.

Melanjutkan postingan sebelumnya. Bahwa kosong itu bukan tidak berarti tidak bermakna. Ketidaktampakkan sebuah benda dalam panca indera kita, bukan berarti bahwa benda tersebut tidak ada. Sayangnya, selama kita hidup, kita selalu tergantung dengan panca indera, sehingga menganggap sesuatu itu ada, hanya karena bisa dilihat secara kasat mata, bisa di dengar gendang telinga, bisa dibaui oleh indera penciuman, dan bisa dirasa atau disentuh oleh indera perasa dan peraba. Oleh sebab itulah, kita akan sulit untuk meyakini keberadaan sesuatu yang tak kasat mata itu.

Ilmuwan muslim yang saya idolakan, bapak Harun Yahya mengupasnya secara sangat mendalam dalam beberapa bukunya. (Semoga Allah memuliakan beliau). Intinya beliau mengatakan, bahwa kita di dunia ini hidup dalam sebuah alam persepsi. Dimana sebenarnya kita tak pernah tahu apakah warna merah yang kita lihat saat ini, sama persis dengan warna merah yang dicitrakan oleh orang lain? Hanya karena kebiasaanlah, akhirnya kita mencerap warna yang bisa jadi berbeda tersebut, (tapi dengan nama yang sama) sebagai “merah”.

Dalam salah satu cabang ilmu Fisika yang lebih mengarah kepada Fisika Elementer, ataupun microcosmos. Kita mengetahui bahwa semua zat tersusun atas atom-atom. Bahkan lebih kecil lagi, quark-quark. Kesemuanya merupakan paket-paket energi yang akhirnya kita persepsikan dengan bentuk, warna, rasa, dan lain sebagainya. Tak pernah ada yang masuk dan melihat “dunia fisik” secara nyata. Tak pernah. Yang selama ini kita lihat hanyalah persepsi yang ada di otak kita.

Ada hal menarik yang saya temukan. Silahkan mencoba jika ingin membuktikan. Gabungkan jari-jari kedua tangan. Kemudian dorong-renggangkan-dorong-renggangkan-dst bagian punggung lengan, tanpa melepaskan ujung-ujung jari yang menggabung. Kita dijamin akan merasakan keberadaan sebuah benda padat dan licin yang berada diantara jari-jari kita tersebut. Loh kok bisa? Kosong bukan berarti “tak bermakna”.

Postingan saya yang berjudul [Mudah-mudahan] Kembali Suci misalnya. Di sana hampir tidak jelas kalimat apa yang saya tuliskan dalam postingan tersebut. Bahkan sebenarnya, saya bisa membuatnya seolah-olah benar-benar tidak ada. Namun, bila kita ulik sejenak, dengan cara yang paling mudah pun kita bisa membacanya tanpa kesulitan yang berarti. Cobalah, Anda klik kemudian drag dari ujung hingga ke ujung postingan. Maka tulisan itu akan terlihat jelas seperti berikut ini :

Sssst… dua percobaan ini adalah kunci untuk memahami dan mengimani sesuatu yang gaib. Silahkan di renungkan…!

Btw… cara membaca kalimat tersembunyi itu diingat yach..! Coz, kalo bisa jadi saya akan membuat postingan “kosong” kembali. 😀

Terakhir, saya tutup dengan cerita yang saya dapatkan dari teman saya yang bernama Radi. Dia pernah memberikan sebuah artikel (cerita) yang sumbernya tidak dia cantumkan. Mudah-mudahan Allah yang Maha Menyaksikan memberikan balasan pada siapapun yang telah berjasa menyampaikan hikmah ini. Ceritanya adalah begini :

Menjelang hari raya, seorang ayah membeli beberapa gulung kertas kado. Putrinya yang masih kecil, meminta satu gulung.
“Untuk apa?” tanya sang ayah.
“Untuk kado, mau ngasih hadiah” jawaban polos si kecil
“Jangan dibuang-buang ya” pesan si ayah, sambil memberikan satu gulungan kecil

Persis pada hari raya, pagi-pagi si kecil sudah bangun dan mendatangi kamar ayahnya yang masih tertidur.
“Pa… pa… ada hadiah untuk papa”

Sang ayah yang masih malas-malasan menjawab, “Nanti saja, papa masih ngantuk”
Tapi si kecil pantang menyerah, “Pa..pa.. ayo bangun Pa…”

“Ah, Putri gimana sih, ini kan masih pagi sayang”
Sang ayah dengan terpaksa bangun dan mengambil posisi duduk dengan malas. Sedetik kemudian, ia mulai mengenali kertas kado yang pernah ia berikan kepada anaknya.

“Hadiah untuk siapa nih?”, tanya sang ayah.
“Hadiah hari raya untuk papa” jawab si kecil sambil menyerahkan kado tersebut
“Ayo… buka Pa…” pinta si kecil penuh semangat

Sang ayah kemudian membuka kado tersebut. Ternyata setelah dibuka tidak terdapat apa-apa di dalam kotak itu. Kosong sama sekali. Tak berisi apa-apa.
“Bingkisannya kok kosong. Sayang kertas kadonya dibuang-buang kayak gini, kan mahal ?”
Si kecil menjawab, “Nggak Pa.. nggak kosong. Tadi malam Putri masukin begitu buanyaaaak ciuman untuk Papa”

Mendengar jawaban si kecil yang masih polos namun diucapkan dengan tulus itu, Sang ayah pun tertegun dan terharu bukan main. Ia kemudian mendekap anaknya erat, menciuminya. Air matanya pun meleleh.

Kemudian sang ayah berujar “Putri… Papa belum pernah menerima hadiah seindah ini. Papa akan selalu menyimpan kotak ini. Papa akan bawa ke kantor dan sesekali kalau perlu ciuman Putri, Papa akan mengambilnya satu. Nanti kalau kosong Putri isi lagi ya..!”

Hikmah yang bisa diambil dari cerita diatas adalah, sebuah kotak yang sesaat sebelumnya dianggap kosong, tidak berisi apa-apa, tak bermakna, tiba-tiba memiliki nilai yang begitu tinggi. Kemudian, sekalipun kotak itu sangat berharga bagi sang ayah, di mata orang lain tetap juga tidak memiliki nilai apa pun. Orang lain akan tetap menganggapnya kotak kosong. Kosong bagi seseorang bisa dianggap penuh oleh orang lain. Sebaliknya, penuh bagi seseorang bisa dianggap kosong oleh orang lain.

Kosong dan penuh, dua-duanya merupakan produk dari “pikiran” kita sendiri. Sebagaimana kita memandangi hidup demikianlah kehidupan kita. Hidup menjadi berarti, bermakna, karena kita memberikan arti kepadanya, memberikan makna kepadanya. Bagi mereka yang tidak memberikan makna, tidak memberikan arti, hidup ini ibarat lembaran kertas yang kosong.

Wallahu ‘alam bishawab.

Iklan