Jawaban untuk sahabat maya saya : Jing_Hsu

Posted on 17 Oktober 2008

11



Ini adalah tentang persahabatan kami di dunia maya. Seorang Jing_hsu dan insan_sains. Kedua-duanya adalah makhluk yang sama-sama senang menulis, dan sama-sama lahir di tanah yang sama, Sunda. Tapi masing-masing tak pernah sekalipun bertemu muka. Pertemuan kami hanyalah di dunia maya. Di sebuah “rumah abu-abu” yang saat ini telah tiada. Namun disana, persahabatan itu jauh melewati pulau-pulau, mampu menembus relung hati yang terdalam, hingga mengikat hati orang-orang yang kami temui.

Tulisan ini, saya buat khusus untuk kang Jing_hsu yang pada akhir-akhir Ramadhan, menyambungkan tali silaturahim, dengan sering ber-sms-an dengan saya (tahu darimana kang nomor handphone saya?). Tak hanya itu, dia pun memberitahukan “rumah baru”nya, setelah atas alasan yang tidak pernah diketahuinya (bahkan kami), dia di depak dari “rumah”nya sendiri.

Beberapa minggu yang lalu, saya pun mengunjungi “rumah” barunya tersebut. Dan sebagai suguhan pertamanya, sahabat saya tersebut menempelkan nama saya dalam dinding “rumah” barunya itu. Teringatlah saya pada hutang yang seyogyanya saya bayar pada seorang sahabat yang nama aslinya saja, tidak saya ketahui. “Jing_hsu” hanya ID unik itulah yang saya tahu tentang dia.

Baiklah kang…! Sesuai dengan apa yang akang utarakan di tulisan pertama akang. Saya sekarang mau menggenapkan semuanya. Mau melunasi hutang saya itu. Saya sedikit lupa opini yang akan tulis tentang saya. Situs tempat kita bernaung pun telah punah. Tapi untunglah ada om Google, sehingga saya bisa mendapatkan kembali tulisan akang yang ada di pintunet tersebut. Saya tuliskan kembali, sebagai kenang-kenangan ya kang…

Ditulis di Bandung, pada tanggal 28.07.2008 19:03

TOKOH KITA PEKAN INI: Insan_Sains, Jodohnya si Cantik ”Safina” Bermuka Kotak ( Bag. 12 )

Judul di atas sengaja saya curi dari deretan kata-kata si tokoh bernama nyentrik, Insan_Sains. Coba telisik di opini terakhirnya, saya menemukan pengembaraan yang bisa membuka jalan nalar saya untuk berbicara dengan tokoh satu ini. Hampir semua isi opininya selalu bercerita tentang keilmuan. Pribadi religius dan cerdas ini tak sungkan berbagi kabisa. Sepintas, pria berlengsung pipi( t ) ini adalah sosok yang ramah, kendati kadang tertutup.

Jika saja saya punya keberanian untuk mengungkap pribadinya hanya dari satu sisi yakni pada opini terakhirnya, bukan tanpa alasan. Ulik sesaat opininya, kembangkan dengan nalar yang sedikit diperlambat. Maka Anda akan menemukan sebuah sugesti si empunya nama yang sengaja disamarkan dengan keinginan realitasnya. Ya, dia seolah menggambarkan kegalaun hatinya tentang keinginan untuk segera mengakhiri masa lajangnya.

Tokoh yang satu ini memang pribadi yang lengkap. Cerdas, bersahaja, haus ilmu pengetahuan. Tapi jangan lupa, dia kadang kikuk juga jika sudah berada di atas ‘mimbar’. Krisis percaya diri? saya tak berani mengatakan demikian. Masa muda, momok seperti demikian adalah langganan yang tak pernah surut untuk datang pada setiap manusia jika umur sudah merambat menuju tingkat pendewasaan.

Insan_Sains, adalah sosok yang melegenda di republik Pintunet untuk saat ini kendati dirinya sudah menyatakan sebanyak dua kali untuk mundur dari ‘popularitas’ skala nampan ini. Layaknya manusia dimana pendiriannya selalu berubah, Insan tiba-tiba nongol dan beradu sapa ketika seorang Danis pamit untuk meninggalkan Pintunet. Tapi saya punya asumsi lain, kendati sudah pamit, Insan sering dengan diam-diam mebuka situs ini…

Pria dengan senyum ramah ini lebih memilih Betawi sebagai lahan isi perut serta masa depannya kendati dirinya dilahirkan di kota Bandung. Tak pernah dengan terbuka dirinya kenapa jarang sowan ke Pintunet. Ada semacam kekecewaan, mungkin. Adalah hal yang wajar karena komunitas ini terdiri dari banyak karakter, suku yang berbeda dan isi kepala yang tentu berbeda pula.

Merambat pada usia kesekian, kegalauan seorang Insan tak lebih kepada pencarian pasangan hidupnya kelak yang rela bersanding membagi bahagia dan lara secara bersama-sama. Jika saja saya mau sedikit membuka diri, Insan lebih condong menyukai wanita berkepribadian lembut, berjibab, cerdas, dan tentu…, cantik.

Sosok ‘safina’ bisa jadi khayalan yang kelak jadi kenyataan dan bisa menjadi pendamping sejati seorang Insan jika saja opininya disandingkan dengan nalar saya. Kenapa bermuka kotak? Wanita bermuka kotak digambarkan sebagai pribadi yang tegar menjalani goncangan hidup. Tegas jika berkeyakinan. Caroline Zahri, adalah model sekaligus presenter yang bermuka kotak tadi. Sangat disayangkan jika Anda tak tertarik dengan pesonanya!

Patut Kang Insan catat, safina yang kelak akan mengisi hidup Akang terdiri dari beberapa abjad yang didominasi huruf ‘a’. Saya berusaha untuk menggali khayali menjadi realitas kendati tak seutuhnya mendekati kebenaran. Tapi perlu juga disadari dan sejenak berpikir waras, wanita bermuka kotak itu bukanlah tokoh kartun bernama Spongebob. Sungguh, saya tak berani berkhayal terlalu dalam jika seorang pria ganteng harus bersanding dengan tokoh piktif bernama ‘spongebob’ tadi.

Sekarang saatnya komentar dari saya terhadap tulisan akang tersebut :

Saya tak ingat berapa puluh tulisan saya yang ada di pintunet (atau mungkinkah sudah meratus?). Saya kurang memperhatikan jumlah tepatnya. Saya sangat memahami kenapa akang selalu mengambil opini teratas sebagai awalan akang memasuki dunia si tokoh yang dimaksud. Jadi wajar, bila opini saya tentang si notebook cantik, Afina. Bukan Safina ya kang. Afina. Tanpa S. Soalnya kalau ditambahi S, tentulah akan menjadi dingin. Dan saya tidak menyukai perempuan berdarah dingin.πŸ˜€

Entahlah… Sejak kolom TKPI mengudara, dan si tokoh pertama akang kupas habis. Bener-bener habis, karena saya tak pernah membayangkan bahwa dari secuil tulisan member-member di “rumah abu-abu” itu, akang memberanikan diri untuk “menelanjangi” sisi kepribadian tokoh tersebut. Dan keberanian itu pun tidaklah sia-sia, karena ternyata sang empunya nama meng-iya-kan “terawangan” akang tersebut yang diutarakannya melalui kolom komentar.

Sejak saat itu, ada rasa khawatir dalam diri saya. Akankah saya mengalami nasib yang serupa? “Ditelanjangi” habis-habisan. Dan kenyataannya benar. Setidaknya sebagiannya mendekati benar. Apa yang akang katakan, bahwa saya sering kikuk ketika berada di atas “mimbar”, tidaklah salah. Seberapapun sering “mimbar” itu saya hadapi, selalu ada rasa tidak percaya diri menyeruak. Duh.. apakah perlu dijelaskan alasannya? Tak perlu nampaknya ya kang!

Dalam beberapa paragraph yang akang tulis saja, saya sudah mengambil anggapan, mungkin saja akang tahu lebih banyak tentang saya, daripada yang akang tulis diatas. Dan tentunya, akang menemukan kelemahan saya di banyak sisi. Dan mungkin karena penjagaan aib itulah yang membuat akang tidak menuliskan semuanya dalam tulisan akang tersebut. Benar tidak kang?

Kemudian mengenai mundurnya saya dari pintunet (ketika rumah abu-abu itu masih hidup). Kalau kecewa sih tidak kang. Hanya saja merasa kurang puas. Hehehe.. apa bedanya yach? Kalau begitu, hal ini sekaligus sebagai klarifikasi untuk teman-teman member di pintunet (terutama para member di Lingkaran Kepercayaan : teh Apriel, mba Rina, SUHU, mba Oline, mas Yudis, kang Pandu, “bang Briliant”, mas Azalea, mba Nisa, mba Nonk, mas Ari, mas Chox, ada yang kelewat tidak?) perihal ketidakaktifan saya disana.

Akang tentu faham perasaan seseorang yang membuat sebuah tulisan. Ada beberapa hal yang dikorbankan oleh kita untuk membuat secuil tulisan itu. Saya tak pernah mengharapkan bayaran atas tulisan-tulisan saya. Toh memang, uang dari pintunet hanya cukup untuk ntraktir teman-teman saya semangkuk bakso. Dan lagi pula menulis adalah salah satu kesenangan saya. Tapi jika tulisan itu tidak pernah dimuat tanpa sebuah pemberitahuan alasan dibalik tidak dimuatnya tulisan itu. Itulah yang membuat hati saya sedikit dongkol. Bukan hanya satu-dua kali. Akhirnya daripada tulisan saya itu mubadzir. Saya mencari “selingkuhan” pintunet. Akhirnya dijodohkanlah saya dengan wisata-buku. Disana saya bisa mengirimkan resensi-resensi buku yang pernah ditolak pintunet. Sejak saat itulah saya lebih sering me-resensi dan nge-blog. Walaupun tak bisa dipungkiri, saya memang masih sering ngintip tulisan-tulisan, komentar dan tanggapan member-member yang saya kagumi.

Nah.. sekarang komentar saya terhadap si perempuan bermuka kotak itu. Saya tak kuasa menahan gelak tawa ketika akang mulai bermain-main dengan “terawangan” akang. “Muka kotak” dan “huruf vocal A”. Hehehe.. aduh… akang.. akang…! Iyeu mah leres kang…! Abdi tos teu kiat nahan seuri meh teupati ngabarakatak. Walaupun saya tak percaya sedikitpun dengan dua ciri-ciri itu. Tapi saya benar-benar tersihir untuk memperhatikan setiap orang yang bermuka kotak dan namanya lebih banyak menggunakan huruf vokal “A”. Dan setiap kali saya sadar atas apa yang saya perbuat, saya terus menertawakan diri saya sendiri. Dan tidak lupa nama “jing_hsu” melekat di pikiran saya. Aduh.. aya-aya wae si akang mah.

Oia… sssst.. ini mah antara kita aja ya kang. Mudah-mudahan tidak ada yang melihat tulisan ini (belagak bego dikit). Ini mengenai Caroline Zahrie. Saya benar-benar baru tahu nama yang akang sebutkan itu. Sampai-sampai saking penasarannya, saya bertanya kepada teman-teman kantor saya, yang kebetulan lebih banyak ibu-ibu, dan senang nonton TV. Mereka sepakat untuk memberikan label “cantik”, dan semua label lain yang nampaknya diinginkan oleh pria. Tapi saya benar-benar, tak punya penglihatan yang sama dengan teman-teman saya itu. Saya sendiri, jadi garuk-garuk kepala. Apa ada yang salah dengan diri saya? hehehe… Tapi tentu saja, cantik tidaknya seseorang, adalah relatif. Bukan begitu kang?

InsyaAllah, saya inginnya sih menyegerakan memenuhi sunnah rosul tersebut (tapi bukan berarti tergesa-gesa). Walaupun belum menemukan tanda-tanda dari bidadari yang akan dijemput. Tapi yang jelas, bukan dengan Caroline Zahrie, apalagi si tokoh fiksi Sponge-Bob.

Hatur nuhun kang, kanggo opini na. Nu matak abdi janten seueur “ngaca” ditambih sok cecerengesan nyalira..πŸ˜€

Terus berkarya kang…! Gimana kerjaan sebagai editornya? Saya bermimpi, suatu saat saya dan akang sedang minum teh, di sebuah tempat yang asri, sambil ditemani notebook untuk berdiskusi dan meng-edit “calon” buku saya. ^_^

Posted in: Personal