Sempurna….

Posted on 15 September 2008

9



Tepat di malam ke-15 bulan Ramadhan ini. Cahaya bulan benar-benar bulat sempurna. Gumpalan-gumpalan awan putih terhampar indah menyebar, menjadi latar belakang teater tunggal sang purnama yang mempertontonkan kemilaunya. Lingkaran warna pelangi pun tersemburat pada gumpalan awan, mengelilingi sang purnama. Benar-benar indah sempurna. Dan menjadi lebih sempurna, bahkan istimewa karena di hari ini telah terjadi moment yang bagiku sangat mengharukan, yang menggoncang-goncang nurani terdalamku.

Jika ada mesjid yang aku cintai setelah Daarut Tauhiid, maka mesjid itu adalah Manarul Amal. Ya… sebuah mesjid di sebelah selatan Jakarta. Cukup besar dengan dua tingkat di dalamnya. Bagian tengahnya membentuk sebuah kubah besar, sehingga bila dari dalam aku mendongakkan kepalaku maka serasa ada dalam setengah bola raksasa.

Seperti biasa, hari Sabtu dan Minggu adalah agendaku untuk sowan ke mesjid ini. Sekalipun itu hanya sekedar mampir. Selama bulan ramadhan ini, setiap hari selalu ada kegiatan buka puasa bersama. Ya.. walaupun itu hanya berupa ta’jil, makanan-minuman kecil pembatal puasa.

Menjelang berbuka, tak segan-segan aku lantunkan tilawah Al-Quran-ku melalui load speaker mesjid ini. Itung-itung memakmurkan mesjid sekalian mengejar target 2 kali khatam Al-Quran selama Ramadhan. Nada Syeikh Mashari Rasyid al-Afasy yang paling aku senangi, karena selain lebih kalem, lebih enak di dengar, juga pas dengan suaraku yang sedikit nge-bass. Tak banyak hal yang spesial yang terjadi sampai menjelang berbuka puasa. Hingga tibalah waktu shalat maghrib akan didirikan.

Sesosok akhwat berjilbab lebar, sekonyong-konyong menghampiri sang imam yang kebetulan saat itu masih ada di belakang. Singkat sekali katanya, “Pak.. ada temen yang mau masuk Islam”. Aha.. aku ternyata pandai menguping juga yach! Samar, tapi dengan sedikit penggambaran gerak-gerik sang akhwat, aku rasa itulah kata yang diucapkannya.

Sang imam pun dengan jelas menjawab, “Baiklah. Nanti setelah shalat maghrib ya!”. Dengan rasa penasaran yang amat, ingin sekali aku melihat wajah mualaf beruntung itu. Yang telah mendapatkan hidayah. Berkah Ramadhan. Rasa penasaran itu telah mengubur konsentrasi shalatku, jadi mungkin jauh dari khusyu. Setelah sang imam selesai memimpin jamaah shalat, ia memberi isyarat kepada si akhwat yang ada di belakang untuk menghadirkan sosok mualaf itu. Kontan, seluruh mata jamaah tertuju pada manusia yang tengah beruntung itu. MasyaAllah, ternyata seorang perempuan. Dari raut wajahnya, kemungkinan besar ia masih gadis. Seumuran denganku mungkin.

Gadis beruntung itu melenggang ke hadapan sang imam dengan kepala tertunduk bersama sang akhwat yang mengantarnya. Jamaah membukakan jalan. Gadis itu telah mengenakan jilbab, hitam. Bukan hanya kerudungnya, tapi seluruh pakaiannya, serba hitam. Sangat kontras perbedaan antara pakaian dan kulit wajahnya yang putih bersih. Si akhwat menyerahkan selembar kertas. Oh.. mungkin biodata si gadis mualaf itu. Sang imam dengan seksama membaca kertas yang diberikan kepadanya. Jamaah penuh harap menanti moment bersejarah ini. Tak lama sang imam bertasbih, “subhanallah”. Begitu jelas, menggetarkan. Pandangan sang imam menebar ke seluruh jamaah yang bermuara pada gadis mualaf itu.

“Coba ceritakan bagaimana kamu mendapat hidayah ini?” tanya sang imam. Gadis mualaf itu masih tertunduk. Belum ada suara yang dikeluarkannya. Suasana hening. Jamaah penasaran dengan jawaban yang akan diberikan. Tapi dia masih diam membisu. Lebih tepatnya gemetaran. Bibirnya seakan ingin mengucapkan sesuatu namun tak kuasa. Air mukanya mulai nampak. Ah… aku makin tegang menyaksikan adegan ini. Sayang, aku bukan ada di barisan paling depan, hingga tak bisa menangkap seluruh isyarat tubuhnya secara sempurna.

Selang beberapa lama, bibir mungil merah jambu itu mulai berkata walaupun tetap gemetaran. “Saya mimpi”, jawabnya terbata. Ah… matanya mulai basah dan berkaca-kaca. Perasaannya telah mendahului kata-katanya. Mungkin ia sedang mengumpulkan kekuatan untuk mengatakan sesuatu yang baginya amat besar luar biasa. Sesekali dia menengadah keatas, mencoba menahan air mata yang hampir saja menetes. Dia mencoba tegar. Jamaah makin penasaran dengan jawaban lanjutannya, mimpi apa gerangan yang telah membuat gadis ini menanggalkan agama nenek moyangnya?

“Saya bermimpi mendengarkan bacaan Al-Quran.” jawabnya sepenggal. “Ya.. bacaan yang suaranya persis sama dengan yang dibacakan menjelang buka tadi”, lanjutnya sedetik kemudian. Kompak, beberapa teman yang mengenalku langsung menengok ke arahku. Tak kuhiraukan, karena kini aku terpana menyaksikan gadis itu tengah berlinangan air mata. Subhanallah, seperti inikah cara Allah memberikan hidayah-Nya? Dari sebuah mimpi saja mampu memporak-porandakan keyakinan terhadap agama nenek moyangnya. Subhanallah… Allahu Akbar. Jika Engkau mau tentulah seluruh manusia kau berikan hidayah, namun Engkau hanya memilih orang-orang yang Kau cintai. Sujud syukurku untuk-Mu ya Rabb.

Suasana yang lebih mengharukan segera dimulai. Sang gadis mualaf dituntun sang imam mengucapkan dua kalimat syahadat. Kalimat yang menjadi pintu gerbang keislaman seseorang, yang menjadi inti ajaran Islam, yang mampu membuat perubahan total pada diri seseorang. Terbata-bata, gemetaran, salah ucap. “asa du ala” ucapnya lirih. Sang imam pun berulang kali meluruskan bacaannya, “asyHadu alla…… ilaaHa illallaHu….”. Sambil menahan tangis yang nyatanya bobol juga air matanya, gadis itu akhirnya berhasil mengucapkan dua kalimat syahadat. Tangis haru berpadu takbir, bergema di mesjid itu. Sekujur tubuhku merinding. Jika kau pikir aku tak menangis juga, kau salah. Hatiku benar-benar rontok. Sungai kecil di sudut mataku tak mampu aku bendung. Haru yang luar biasa.

Gadis itu seakan mengingatkan akan keislamanku selama ini. Kalimat yang selama ini aku baca berulang kali dalam shalat yang nyatanya hampir tak banyak memberikan aku kesadaran bahwa akulah manusia beruntung yang memikul dua kalimat syahadat itu. Kalimat yang sejatinya mudah diucapkan tapi nyatanya sangat berat untuk dilaksanakan. Hal inilah yang membuat mengapa paman Muhammad yang tercinta, yang membantu perjuangan Muhammad dengan harta dan jiwanya, menolak mengucapkan dua kalimat syahadat sampai akhir hidupnya. Padahal dengan kalimat itu, nabi Muhammad dapat memberikan safaat untuk menolongnya di hari penghisaban. Tapi apa yang dipilih Abu Thalib? Ya… ia memilih untuk menolak. Bukankah cukup menggerakkan bibir semata? Apa sulitnya? Itu pun walau hanya diakhir nafasnya? Di penghujung nafasnya Abu Thalib malah berkata. “Duhai anak pamanku, aku rela membantu perjuanganmu membela agama dari Tuhan yang kau yakini, tapi jangan paksa aku untuk mengucapkan kalimat yang bertentangan dengan ajaran nenek moyangku”

Abu Thalib adalah orang Arab. Dia tentunya mengetahui dan memaknai kalimat syahadat itu bukan kalimat biasa. Kalimat itu bukan sekedar kalimat untuk diucapkan, melainkan ada konsekuensi yang mesti ditanggung setelah mengucapkan dua kalimat syahadat ini. Kalimat yang paling berat itu adalah mengakui bahwa Allah itu adalah satu-satunya Illah. Dalam bahasa Arab, Illah itu setidaknya memiliki 4 makna :

  • tenang dan tentram : Ya.. seseorang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat, maka itu berarti dia menyatakan diri tiada yang membuat hatinya tentram dan tenang kecuali Allah
  • aman terlindungi : Siapapun yang mengucapkan dua kalimat syahadat, maka ia menyatakan bahwa hanya Allahlah tempat berlindungnya. Yang dengan itu dia merasa aman.
  • rindu : Jika kita mengucapkan dua kalimat syahadat, maka kita menyatakan tiada yang paling kita rindukan dan harapkan kecuali saat-saat perjumpaan dengan Allah
  • cinta : bahwa ketika dua kalimat syahadat terucap, berarti kita menyerahkan sepenuhnya kecintaan hanya kepada Allah.

Keempat makna itulah yang akan menimbulkan sikap penghambaan. Setiap orang akan menghamba, tergantung kepada siapa ia serahkan keempat perasaan tersebut. Aku kembali bertanya kepada diriku, siapakah yang lebih aku cintai, siapakah yang paling aku rindukan, siapakah yang membuatku tenang, aman terlindungi? Kepalaku hanya bisa tertunduk malu, mengingat diriku masih gandrung terhadap dunia. Aku takut tergolong orang-orang munafik, yang mengaku Allah sebagai Illah, namun dalam penerapan ternyata illah-illah itu banyak sekali, bisa orang yang kucintai, bisa harta yang kudambakan, bisa benda yang kuinginkan, dan bisa segala macam lainnya. Astagfirullah… Ampuni ya Rabb.

* * *

Gadis mualaf itu kini memiliki nama muslimah yang diberikan oleh sang imam saat itu juga. Nama panjangnya tak mampu aku ingat, yang pasti melekat diingatanku adalah ZAHRA. Indah nian nama ini. Sang imam pun kemudian memimpin doa untuk ke-islam-an dan ke-istiqamahan gadis mualaf ini. Jamaah mengamini. Pikiranku jauh melayang pada sosok seorang perempuan yang dulu juga seorang mualaf, Meutia Halimah. Teringat bagaimana sedihnya dia menceritakan pengalaman hidupnya menempuh hidayahnya. Keluarganya memutus hubungan darah dengannya karena dianggap telah melecehkan agama nenek moyangnya. Meutia terusir, dirinya terlunta-lunta di jalan. Tak ada sanak saudara yang menerimanya, tak ada jaminan makanan pengisi perutnya, baju pun seala kadarnya. Nyaris tak ada yang mempedulikan. Hingga akhirnya seorang akwat menemukannya dan merasa iba melihat kondisinya yang tanpa perlindungan.

Satu hal yang aku sesalkan, ketika aku mengetahui kondisinya, dimana setidaknya aku dapat memberikan perlindungan kepadanya, membantu menjaga keislamannya. Aku malah diam, tak mengambil kesempatan itu. Hal apakah yang membuatku enggan untuk menikahinya, melindunginya? Masa lalunya yang buruk kah? Bukankah Allah memaafkan kesalahan hamba jika dia tidak mengetahuinya? Ya.. itulah satu-satunya penyesalanku. Namun pikiranku kembali terpusat kepada gadis mualaf yang kini ada di hadapanku. Apakah gadis mualaf ini pun mengalami nasib yang serupa?

Sang imam selesai mendoakan. Jamaah bubar dengan keharuan mendalam. Hanya aku yang masih mematung, menengadahkan tangan, menambah doa untuk gadis mualaf ini. Gemuruh batin berguncang hebat di dadaku. Inikah saatnya aku mengulurkan tangan untuk gadis ini, melunasi penyesalanku dahulu? Ah.. apa gerangan yang merasuk kedalam batinku hingga terbersit niatan seperti ini? Jangan-jangan… diam-diam aku terpesona dengan parasnya? Astaghfirullah. Aku berlindung dari niatan syahwati ini ya Allah.

Ya.. aku juga takut jika aku melaksanakan dorongan hati ini, malah menimbulkan prasangka yang macam-macam pada benak orang lain. Agama gadis ini belum seberapa, kenapa memilih untuk menikahinya? Mungkinkah aku tergoda oleh kecantikannya? Bukan.. sekali-kali bukan karena itu aku ingin menikahinya. Aku hanya ingin memberikan perlindungan kepadanya, bersama-sama menyempurnakan hidayah yang kami terima ini. Apakah aku salah?

Ah… tiba-tiba aku teringat akan sebuah hikmah,

Riya itu adalah meninggalkan kebaikan karena manusia.
Sedangkan melakukan kebaikan karena manusia adalah syirik.

Byar…! Kata-kata itu benar-benar mencerahkan. Ku sempurnakan doaku, kubulatkan tekad untuk menjaga keislaman dan keistiqamahan gadis mualaf ini. Mudah-mudahan Allah ridha. Aku pun langsung berlari mencarinya. Seluruh sudut mesjid aku telusuri. Nihil, dia tidak ketemu. Aku tanya kepada orang-orang yang masih ada di mesjid, mereka bilang tidak ada.

Ya jelas saja tidak ada, wong cerita ini juga fiksi belaka. ^_^ Jangan serius amat membacanya! Dah kemaleman nih, ngantuk. Begini aja yach…!!!
*PEACE* ^_^ SEMPURRRRRRNA….!

Posted in: Cerpen