Saat Kenyang Menyerang

Posted on 14 September 2008

4



Kenyang adalah kata yang sering digunakan untuk menggambarkan perut yang terisi penuh makanan. Dan kekenyangan, lebih penuh lagi (overload), hampir-hampir tidak mampu bergerak. Di hari yang hampir mencapai separuh bulan ramadhan ini, aku mengalami yang namanya kenyang. Bukan kekenyangan. Bermula dari acara buka puasa bersama yang diadakan oleh teman-teman kantor. Acara yang hampir bisa dikatakan mendadak. Tapi untunglah, akhirnya jadi juga. Acara buka puasa bersama yang menurutku terlalu royal. Ibarat para tahanan yang selama bertahun-tahun memakan nasi aking, tiba-tiba di hari kebebasannya melahap berbagai makanan lezat yang selama ini diharapkan.

Antara syukur dan bingung yang tak terukur. Syukur karena inilah nikmat yang ditujukan kepadaku salah satunya. Juga bingung, karena dibalik kenikmatan ini tentunya masih ada sepenggal perut yang jangankan menyantap makanan yang saat ini sedang kami lahap. Memimpikannya saja, mereka tidak berani. Bukankah bulan ramadhan ini bulan solidaritas? Jadi patutkah aku menyantap makanan-makanan lezat hingga kenyang, sedangkan masih ada sesosok kering kerontang yang hanya berbuka dengan segelas air minum. Itupun hasil meminta-minta.

Ah… tapi lupakan saja renungan itu, toh hari itu aku pun terlanjur ikut-ikutan memenuhi perutku dengan makanan yang serba mewah. Benar-benar kenyang bukan main. Dan rasa kenyang itu masih saja hinggap hingga datang waktu sahur. Jadi bisa dibayangkan, kenyang seperti apa yang aku rasakan saat itu. Jika tidak ingat sabda rosul yang mengatakan bahwa ada keberkahan dalam makan sahur, maka mungkin aku lebih memilih melanjutkan tidur hingga adzan shubuh tiba. Keberkahan. Ya.. siapakah yang tidak ingin mendapatkannya? Bermodal keinginan mendapatkan berkah itulah, akhirnya 5 butir buah kurma muda menjadi bagian penambah rasa kenyang itu. Ditambah dua gelas air tentunya.

Sambil menunggu waktu shubuh, aku membaca terjemahan Al-Quran. Belum lima menit berlalu. Tiba-tiba kelopak mataku mulai memberat. Berkali-kali aku mencoba mengangkat tirai mataku, menyempurnakan bulatan hitamnya hingga alis pun ikut terangkat. Tapi nihil usahaku itu. Jendela duniaku ini menginginkan suasana gelap, tertutup rapat. Akhirnya aku pun menyerah. Kali ini tidak apalah sesekali aku menuruti kemauan mataku ini. Badanku pun terebah pasrah. Mata tertutup lelah.

Sambil diiringi shalawat yang didengungkan di loadspeaker mesjid, aku berusaha tetap tersadar agar tidak ketinggalan shalat berjamaah di mesjid. Shalawat itu benar-benar merdu sekali. Padahal suara loadspeaker itu benar-benar cempreng. Ah… inilah penyakit ngantuk, keributan saja terdengar seperti orang nyanyi, bagaimana dengan bacaan shalawat? Pasti merdu meninabobokan. Sesekali aku dengar sahut-sahutan suara adzan. Lagi-lagi di alam mimpi, suara itu ibarat konser musik klasik.

Mimpi itu segera pecah seketika kala suara iqamat benar-benar nyata terdengar. Kontan, kesadaranku langsung kembali seketika, loncat bangun dari tempat tidur, kaget bukan main. Tanpa pikir panjang, aku segera ambil air wudhu. Dan itu nampaknya itu adalah wudhu terkilat yang pernah aku lakukan. Fantastis. Dengan muka yang masih awut-awutan aku hendak memasang sarung. “Ah.. lama..”, pikirku. Akhirnya celana panjang jadi sasaranku. Sekejap kulirik wajahku di cermin, rambut kusut bukan main. Dengan sisir alami alias lima jari tangan kurapikan sekadarnya. Kopyah menjadi penutup sempurna rambut kusutku itu. Baju koko aku ambil dari gantungan, dan aku kenakan sambil berlari ke arah mesjid yang berjarak 100 meteran itu.

Samiallahu liman hamidah” Suara sang imam memimpin bangkit dari rukuk rakaat pertama. Sudah dipastikan aku ketinggalan rakaat pertama. Makin panik, apalagi setelah terdengar suara jamaah yang mengucap “amin” untuk rakaat kedua. Lariku makin kencang sambil mengancingkan satu demi satu kancing baju koko. Tidak kurang dari 6 buah kancing. Makin deg-deg-an, karena sang imam melanjutkan dengan hanya membaca surat pendek. Tak ada jalan lain, lari lebih cepat lagi. Sambil tergopoh-gopoh aku memasuki pintu mesjid. Entahlah sendal jepitku mungkin dalam posisi tidak karuan. Terbalik, dan menjauh satu sama lain. Untunglah aku bisa memasuki shalat di ayat terakhir surat Al-Kafirun itu.

Alhamdulillah, walaupun aku hanya mendapat satu rakaat berjamaah. Itu pun dengan nafas yang tersenggal-senggal, jantung berdebar, dan darah yang memanas. Ah… pastinya jauh dari khusyu. Jauh dari shaf terbaik. Tapi setidaknya aku berhasil menghadiri jamuan shubuh yang disuguhkan Allah melalui malaikat-malaikatnya yang bertebaran menyebar rahmat dan kasih sayang-Nya yang hanya ditujukan bagi mereka-mereka yang berjamaah shubuh.

Dengan langkah yang nyantai melenggang kembali ke kontrakan, aku mengambil pelajaran berharga, “Kenyang itu nikmat tapi efeknya bisa laknat

Posted in: Personal