Hadirkah hatimu dalam shalat?

Posted on 12 September 2008

6



Sudah menjadi momok saat shalat tarawih di bulan Ramadhan tiba, banyak dari kita berlomba-lomba mencari mesjid yang paling cepat bacaan Al-Qurannya. Tarawih sudah menjadi ajang perlombaan lari sprint. Kalau ada, tentulah memilih rakaat yang paling sedikit, dan bacaan Al-Quran yang paling pendek plus paling ngebut. Shalat benar-bener telah menjadi aktifitas yang menjemukan.

Shalat seakan-akan telah menjadi beban. Rasa ingin terbebas dari kewajiban yang dirasa menyiksa dan menyusahkan. Cobalah rasakan bersama saat-saat shalat akan berakhir. Kalimat salam serasa menjadi simbol kebebasan. Salam telah menjadi titik terakhir perjuangan, terbebas dari ibadah yang memberatkan. Terbebas dari ancaman siksa neraka bila tak melakukan. Betapa banyak orang yang bahagia ketika shalatnya telah berakhir bukan?

Sungguh ironis. Padahal shalat diperintahkan Sang Pemberi Titah bukan untuk memberatkan ummat-Nya. Tidak sama sekali. Justru sebaliknya. Shalat dimaksudkan agar ummat-Nya bisa menumpah ruahkan segala asa, bertegur sapa, memohon pertolongan dari Zat Yang Maha Memiliki segala sesuatu. Shalat seharusnya dapat membuat hati insan yang mendirikannya diliputi ketenangan. Bukan sebaliknya, ketenangan yang harus diraih agar bisa mendirikan shalat. Karena tenang adalah salah satu hasil dari shalat.

Rosul saw, pernah bersabda kepada Bilal, “Wahai Bilal, jadikanlah shalat sebagai istirahatmu”. Lalu bila kita bercermin ke dalam diri kita. Benarkah shalat telah menjadi rest area bagi perjalanan panjang kita? Sudahkah shalat memiliki greget untuk memperbaiki suasana hati kita? Jika jawabannya adalah belum, maka bisa jadi kita belum mendirikan shalat yang sempurna.

Hanya ada satu jalan agar meraih shalat yang sempurna. Khusyu. Ya.. hanya dengan kekhusyuan-lah shalat mampu berdaya guna. Menghembuskan ketenangan bagi yang mendirikannya. Namun sayangnya, khusyu telah menjadi kata yang seyogyanya hanya bisa diraih oleh para ulama dan para kyai. Khusyu menjadi sebuah kata yang teramat mustahil bagi orang awam seperti kita. Sejak kita mulai belajar shalat, kita jarang bahkan tidak pernah diajarkan bagaimana untuk meraih shalat yang khusyu. Kita hanya diajari bagaimana melakukan gerakan-gerakan dan bacaan-bacaannya semata. Dan sang guru pun telah menghukumi bahwa khusyu sangatlah susah untuk kita dapatkan.

Kita pun akhirnya terdoktrin untuk melakukan gerakan shalat, sujud dan rukuk. Namun tanpa ruh. Shalat hanya dilakukan sebagai penggugur kewajiban. Maka pantaslah bila shalat yang semestinya dapat mencegah seseorang dari perbuatan keji dan munkar, ternyata tak mampu berbuah apa-apa. Ibadah yang benar-bener kering kerontang. Pohonnya tegak, namun tak berhijau daun. Batangnya bercabang tapi tak menghasilkan ranum buah.

Kawan…! Pernahkah kau jatuh cinta? Pernahkah kau menyenangi seseorang? Engkaukah yang menciptakan rasa cinta itu? Engkaukah yang menumbuhkan rasa senang dihatimu itu? Sekali-kali bukan. Rasa itu muncul begitu saja. Tak pernah kita paksa. Tak pernah kita buat-buat. Begitupun dengan shalat kita. Allah tidak pernah menuntut kita untuk meng-khusyu-kan diri dalam shalat. Karena khusyu adalah rasa yang kelak akan tumbuh kala kita menghadirkan hati dalam tiap gerakan shalat, dalam tiap tasbih yang kita ucap.

Datanglah kepada Allah apa adanya dalam shalatmu. Akuilah bahwa dirimu adalah insan yang ada dalam kegelapan yang menunggu penerangan, insan yang lupa yang menunggu peringatan, insan yang bodoh yang menunggu pengajaran, insan yang gelisah yang menunggu diturunkan ketenangan. Hadirkan hatimu dalam shalat, lepaskanlah beban-beban pikulanmu yang berat, datangilah Allah dengan ruhmu, biarkan tubuhmu mengikuti dengan simbol gerakan-gerakan shalat. Dan rasakanlah… Mudah-mudahan khusyu itu telah bersemayam dalam jiwamu.

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu, yaitu orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah,2 : 45-46)

Sumber : diambil dari beberapa buku panduan shalat (khususnya karangan Al-Ghazali dan Abu Sangkan)

Posted in: Renungan