Nasyid lagi : Ramadan

Posted on 9 September 2008

5



Dengerin nasyid lagi yuk…!

Masih dalam tema Ramadhan, dan rasanya masih banyak ide untuk menulis sesuatu. Saking banyaknya, bingung ide mana yang mau dijadiin tulisan untuk diposting di blog. Pengennya sih bikin cerpen lagi, soalnya ide ceritanya dah numpuk banyak nih. Tapi sayang… bikin cerpen bisa nguras waktu banyak. Belum lagi perlu ngebayangin jadi sosok yang ada dalam cerita itu. Weeeggh… masih berat, terutama bagi amatiran kayak saya. Bisa-bisa kalah saingan posting nih sama tetangga sebelah. Padahal sudah mentargetkan 20 tulisan selama Ramadhan ini. Tinggal tersisa beberapa hari lagi.

# Loh.. masih tersisa waktu 21 hari lagi bukan?

Iya sih…! Tapi kan, tanggal 17 Ramadhan udah bebas dari pekerjaan. Dan mau langsung pulang ke Bandung, dan menghabiskan 10 malam Ramadhan terakhir di masjid tercinta, Daarut Tauhiid Bandung. Mau ikut gak? Eh.. kok jadi kemana-mana sih tulisannya! Balik lagi ke nasyid yang mau dikupas.

Nasyid berjudul Ramadan ini diproduksi oleh Gulf Media, yang disenandungkan oleh seorang munsyid Kuwait yang bersuara jernih, Mishari Al-Arada. Lirik nasyid ini dalam bahasa Arab. Eit.. eit.. eit.. jangan ada yang minta dipostingkan lirik nasyidnya yach? Soalnya kosa kata bahasa Arabnya masih cetek. hehehe😀. Yang jelas, enak di denger. Gak percaya? Silahkan dengerin sendiri! Oiya… dan acungan jempol untuk visualisasi dalam nasyid ini. Bener-bener bikin saya merindukan Ramadhan yang seperti itu.

Cerita dalam nasyid ini bermula dari seorang ibu muda (yang cantik, yaiyalah.. mana ada ibu-ibu ganteng..!) yang membangunkan anaknya untuk sahur. Ah.. jadi ingin.. (eh.. jadi ingat!, maksudnya ingat ibu)

Satu adegan ini mengingatkan saya akan suasana shaum di rumah, yang sudah tujuh tahun tidak saya dapatkan. Ya.. sahur bersama orang-orang tercinta. Tidak diatas meja makan dengan segala macam makanan yang serba ada. Melainkan hanya beralaskan tikar dan dengan makanan yang seadanya, tapi sungguh saat-saat sahur adalah saat-saat terindah di pagi buta. Melihat adik-adik yang makan sambil terkantuk-kantuk, melihat ibu yang dengan sabar dan telaten menyiapkan dan menyajikan makanan. Canda tawa kadang membumbui sahur kami. Hiks.. hiks.. Duh.. kok jadi ngedadak cengeng begini sih. Luv you mom!

Subhanallah.. cantiknya!! Maksudnya yang sebelah kiri. Kalau ibunya (yang sebelah kanan) itu sedang mengakhiri shalat dengan salam. Makan sahur usai, kemudian dilanjutkan dengan shalat Shubuh.

Hari-hari Ramadhan adalah hari-hari terindah yang bisa diisi dengan tilawah Al-Quran dan kebaikan-kebaikan lainnya. Dan sang istri seperti biasa, dengan wajah yang senang, penuh senyum melaksanakan tugas mulianya, menyediakan makanan berbuka untuk keluarganya, ayah, suami, dan anak-anaknya. (Duh… kapan yach?)

Tibalah saat-saat berbuka yang dinantikan, yang menjadi salah satu kegembiraan seorang muslim setelah berpuasa. Lafadz doa pun terdengar, memanjatkan puji-pujian untuk Sang Pemberi Nikmat dan Sang Pemberi Janji akan surga dan segala kenikmatannya. Tiga butir kurma menjadi pelepas lapar, saksi  bahwa seorang hamba mencontoh sunnah rosul.

Duh.. duh.. duh… No comment banyak untuk gambar yang ini. (Kenapa juga di ambil screenshootnya?)

Waktu malam digunakan untuk tarawih dan memperbanyak shalat sunnah lainnya. Mendekatkan diri kepada Allah. Yang Maha Rahman. Yang Maha Rahim.

Tak lupa menghabiskan dan menjemput malam yang lebih baik dari 1000 bulan dengan amal-amalan  shaleh lainnya, salah satunya tilawah Al-quran. Kemudian aktifitas seharian itu diakhiri dengan mengistirahatkan badan untuk memulihkan tenaga agar bisa kembali beribadah esok hari.

Happy Ramadhan.

Selamat Memaksimalkan Shaummu, kawan!

Posted in: Film & Music