Manisnya Buah Kejujuran

Posted on 7 September 2008

9



Ibu Nurhayati. Salah satu guru SMPku. Beliau mengajar mata pelajaran keterampilan Tata Busana. Berpostur tubuh sedang, dengan rambut sebatas bahu. Tak berkacamata. Satu hal yang paling aku ingat dari beliau, sorot matanya yang tajam. Tak ada yang berani berulah dengan guru yang satu ini. Persis kelinci yang takut dimangsa elang. Teman-teman bilang, ngeri. Dan kengerian ini pun akan bertambah mencekam kala sang guru memasuki ruangan. Suara hak sepatunya terdengar jelas, pletak.. pletok… pletak.. pletok. Kegaduhan anak-anak bandel sekalipun tiba-tiba lenyap. Kelas benar-benar sunyi.

Selain guru yang terbilang galak, ibu Nurhayati juga sedikit pelit dengan nilai. Kami sekelas sepakat menyebutnya, guru killer. Jangan pernah mencari masalah dengan guru yang satu ini. Apalagi membuat beliau murka. Sudah banyak “korban” yang aku lihat sendiri dan berakhir memilukan. Jadi aku bertekad dalam hati, meskipun aku tidak menyukai mata pelajaran keterampilan ini, setidaknya aku tidak membuat masalah dan selalu patuh untuk mengumpulkan tugas-tugasnya.

Oia.. aku lupa memperkenalkan diriku. Aku seorang anak laki-laki berumur 14 tahun. Sejak pertama kali memasuki Sekolah Lanjut Tingkat Pertama di kawasan Bandung Utara, aku memiliki obsesi untuk mencapai sebuah kesempurnaan. Aku selalu ingin nilai raportku jauh diatas rata-rata. Aku tidak sudi membiarkan angka merah, bahkan angka sembilan terbalik (baca : enam) sekalipun bertengger di raportku. Terlalu memalukan bagiku. Sebagian orang menganggapnya muluk, tapi bagi bocah seperti diriku itu adalah pembuktian eksistensi diri. Aku memang terlahir dari keluarga miskin, tapi aku ingin menunjukkan bahwa kemiskinan bukan halangan untuk berprestasi, dan meraih kesempurnaan tentunya. Idealis sekali, bahkan terkesan perfeksionis, tapi itulah diriku. Maklum, masih bocah.

Dua tahun sudah aku mengejar obsesiku itu. Semuanya sukses. Wajar bila beberapa guru mengagumi prestasiku. Kini giliran di tahun ketiga, tahun kelulusanku. Sekarang aku duduk di kelas 3B. Aku masih berharap mampu meraih kesempurnaan itu. Hingga akhirnya pelajaran Tata Busana memberi tugas untuk membuat sepotong celana pendek. Lebih tepatnya celana hawaii. Celana yang panjangnya nanggung. Bukan sebetis sebagaimana celana pendek, tidak juga panjang seperti celana panjang. Tetapi celana yang panjangnya menutupi lutut. Waktu yang diberikan untuk menyelesaikannya sebanyak dua minggu.

Siswa-siswa dituntut untuk mengukur, membuat pola, menggunting, sampai kepada menjahit dengan tangan sendiri. Sang guru pun memberikan contoh pola celana yang bisa dijadikan panduan. Tapi memang karena otakku kurang begitu encer untuk hal-hal beginian, maka pola itu ibarat gambar abstrak yang sama sekali tidak aku pahami sedikit pun. Hanya satu hal yang mendorongku untuk menyelesaikan tugas ini, obsesiku.

Aku pun mulai mengukur lingkar pinggang, lingkar pinggul, dan panjang celana. Kemudian menerapkannya ke dalam sebuah pola. Kain bahan pun mulai aku beli. Tak lupa karet dan tali celana untuk mengencangkan, serta segulung benang dan tentunya jarum jahit. Bahan celana pun aku gunting sesuai pola. Kini kebingungan yang selanjutnya adalah menjahitnya. Bagian mana yang harus digabung dan dijahit? Grrrrhh.. aku sama sekali tidak mengerti. Dengan kebingungan itu pun aku menjahitnya. Dan tentu hasilnya bisa diperkirakan. Gagal.. Tak menarik, Tak bisa digunakan. Aneh.

Aku pecahkan celenganku untuk membeli bahan-bahan lagi. Aku harus mencobanya sekali lagi, pikirku. Ah… tapi ujungujungnya malah lebih parah. Gagal lagi. Hari pengumpulan tugas pun makin mendekat. Tinggal 2 hari lagi. Hampir semua teman-temanku sudah mengumpulkan. Celana hawaii yang sudah dinilai itu dikembalikan. Aku kalap. Akankah nilaiku kali ini jatuh, gara-gara tidak mengumpulkan tugas ini. Padahal tugas ini adalah tugas yang mendapat persentase terbesar untuk penghitungan nilai akhir di raport. Tiba-tiba terpikirlah sebuah ide. Lebih tepatnya ide busuk. Aku meminta tolong ke salah satu temanku yang sudah mengumpulkan. Hendra, dia teman di kelas 3D. Aku meminjam celana buatannya. Kemudian mengumpulkannya kembali ke sang guru killer itu. Sudah banyak celana yang dikumpulkan. Jika satu kelas saja katakanlah 20 orang sudah mengumpulkan. Bagaimana dengan 7 kelas. Tentunya sudah mencapai 140 celana. Jadi tidak mungkin guru itu mengingat satu persatu celana yang sudah dikumpulkan. Oh.. simple bukan caraku? Tanpa harus keluar uang, dan jerih payah yang lainnya.

Tapi sang guru itu tentunya lebih pintar dariku. Beliau telah memperhitungkan dan tentunya telah berpengalaman menghadapi “kejahatan-kejahatan” muridnya. Besoknya, ketika aku mengikuti pelajaran Fisika. Ibu Nurhayati mengetuk dan membuka pintu kelas. Spontan seisi kelas kaget bukan main. Yang lebih kaget tentunya diriku. Terlebih beliau menyebut namaku untuk menemuinya saat jam istirahat. Geger…! Seisi kelas geger, mendengar pengumuman singkat yang tidak diundang itu. Pastinya seisi kelas bertanya penuh keheranan dalam hati mereka. Dan sudah pasti pula, aku tahu penyebabnya. Sial..! Apakah benar, rencana licikku ketahuan? Ah… aku mulai kalang kabut. Jantungku langsung berdetak dua kali lebih cepat dari normal. Deg deg.. deg deg..! Tegang bukan main. Aku banyak berdoa dalam hati ketika seharusnya aku memperhatikan pelajaran Fisika yang sebenarnya lebih aku sukai.

Dengan hati yang dag.. dig.. dug.. aku menuju ruang guru. Ah.. aku hampir sinting dibuat oleh layangan pikiranku yang membayangkan betapa aku akan menjadi bulan-bulanan guru killer itu. Pintu ruang guru aku ketuk. Perlahan aku buka. Kulihat beliau sedang bergurau dan tertawa renyah dengan beberapa guru lainnya. Ah.. ternyata, sekiller apapun guru, tetap saja di depan teman-temannya beliau akan berlaku menyenangkan. Namun kegembiraannya seakan diusik ketika pelupuk matanya melihat kedatanganku. Wajahnya kini menjadi datar. Bibirnya kembali menyempit. Tatapannya seperti biasa. Tajam. Uh.. ngeri.. Aku pun mulai mendekat ke depan mejanya. Aku menjadi makin gemetar, tatkala melihat celana hawaiiku. Ups… lebih tepatnya, celana hawaii hasil karya temanku. Celana itu kini tergeletak diatas mejanya.

Kulirikkan mata ke sekeliling. Wuiih… mata guru-guru yang berada di ruangan itu kontan menyaksikan pertunjukan langka ini. Pemerannya tentulah sang guru killer dan aku si siswa malang. Suasana begitu sunyi. Hampir tak terdengar canda-canda guru yang sekilat tadi aku dengar.

“Ini celana yang kamu kumpulkan?”, sambut ibu Nurhayati.

“Iya” jawabku dengan nada hati-hati. Bibirku gemetar.

“Buatan kamu sendiri?” lanjutnya meng-interogasi tanpa basabasi.

Tak pelak lagi, bibirku kelu. Apakah mukaku pucat? Duh, aku tak bisa bercermin, tapi aku rasakan dingin yang menggigil di sekujur tubuh. Tanganku dingin. Kaki apalagi. Tak tahu lagi apa yang mesti aku katakan. Sudut pandanganku ku layangkan pada guru-guru yang tengah menyaksikan adegan tegang siswa yang setidaknya menjadi kebanggaan beberapa guru tersebut. Harga diriku pasti jatuh kali ini, pikirku. Mau mengakui kesalahan atau tidak, debat pikiranku. Aku dalam posisi yang serba salah. Perlu jiwa besar untuk bisa mengakui kesalahan. Bukan begitu kawan? Sayangnya, aku lebih memilih melanjutkan kebohongan dan penipuan itu. “Iya” jawabku terbata-bata.

Jawaban yang sebenarnya, hati kecilku menolaknya. Obsesiku mungkin telah mengalahkan nuraniku. Yang terpikir dalam benakku saat itu, bagaimana menghindari nilai aib agar tidak bercokol di raportku. Aku tidak ingin raportku ternodai dengan nilai aib, gara-gara satu mata pelajaran ini. Aku tak sudi melihat angka lebih kecil dari angka 7 dalam raportku. Tidak…! Dan aku ingin segalanya sempurna. Ini adalah tahun terakhirku, aku tidak ingin gara-gara tugas ini aku gagal menghadiahi orang tuaku dengan raport seorang perfeksionis. Pikiran inilah yang telah membuatku buta, hingga memaksa lidahku yang kerap kali diajari untuk jujur, namun kali ini bobol juga. Inilah kebohongan pertamaku. Lebih tepatnya, kebohongan pertama yang aku ingat.

Aku yang menyangka rencana penipuan itu akan berhasil, ternyata salah besar. Kebohongan dan penipuan itu dibongkar mentah-mentah di depan guru-guru yang selama ini mengagumiku. Sambil meluapkan kemarahannya, terlebih karena beliau merasa ditipu, beliau menunjukkan sebuah tanda yang mengisyaratkan bahwa celana itu pernah dinilainya. Sebuah coretan spidol permanen warna merah. Tak kasat mata. Karena letaknya tersembunyi dibalik lipatan celana. Beliau mengatakan dengan nada kemarahannya bahwa semua celana-celana yang telah dinilai selalu diberinya tanda merah itu.

Bangunan harga diri yang selama ini aku bangun di sekolah itu, serasa runtuh seketika. Rasanya percuma semua nilai sempurna yang pernah aku dapatkan. Apalah artinya semua itu, jika sekarang guru-guru itu memandangku sebagai pembohong. Lebih sadisnya, seorang penipu. Aku jadi teringat sebuah pepatah, “sekali lancung ke ujian, seumur hidup tak dipercaya orang”. Ternyata pepatah ini ditujukan pula untuk diriku. Dan aku pula yang mengalaminya.

Betapa malunya aku saat itu. Kepalaku hanya bisa tertunduk. Bibirku benar-benar gemetaran. Gara-gara lidah yang tak bertulang ini, aku harus menanggung beban mental seberat ini. Aku lebih shock lagi ketika bu Nurhayati mengancam akan memberikan nilai 4 untuk raportku. Sebuah kursi terbalik. Bukan hanya karena aku yang tidak mengumpulkan tugas, tapi ditambah lagi karena ketidakjujuran diriku.

Aku tak bisa membayangkan betapa memalukannya melihat nilai aib itu ada di raportku. Terlebih bagaimana aku mempertanggung jawabkan pada orang tuaku. Apakah aku mesti berbohong lagi? Ataukah mengakui bahwa anaknya telah membohongi gurunya? Sampai kapan kebohongan ini akan terus berlanjut?

Aku keluar dari “panggung” menegangkan itu dengan wajah muram, penuh sesal. Lunglai, sedih. Hilang sudah harapanku untuk menjadi siswa perfect. Bertahun-tahun aku bangun kepercayaan dan harga diriku. Kini, hanya dengan satu ucapan, “iya” yang tidak kurang diucapkan dalam 1 detik. Semuanya beranjak menuju kehancuran. Yang lebih menyakitkan dan memalukan adalah, bagaimana aku menyembunyikan wajahku ketika bertemu dengan teman-teman. Bagaimana aku menyembunyikan wajah dari guru-guru yang selama ini mempercayaiku?

Sungguh sebuah penyesalan yang bukan main. Tapi rasanya sudah tak berdaya guna penyesalan itu. Toh, tetap tidak akan mengubah sesuatu yang buruk menjadi baik. Semalaman aku tidak bisa tidur membayangkan segala hal mengerikan dan memalukan yang mungkin akan terjadi. Ah.. akhirnya aku tersadar. Manusia adalah makhluk dinamis, tidak seperti malaikat dan setan yang merupakan makhluk statis. Aku hanyalah manusia biasa yang pasti melakukan dosa. Tapi bukankah sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang bersalah kemudian dia bertaubat? Ya… aku memang telah berbohong. Aku memang telah menipu. Tapi bukankah ini kesempatan bagiku untuk menjadi sebaik-baiknya manusia? Hu um. Tak perlu disesalkan. Sudah cukup kebohongan yang aku lakukan ini. Tak perlu dipertahankan supaya tidak menjalar ke kebohongan-kebohongan yang lain.

Esok harinya, Sabtu. Hari dimana hari terakhir pengumpulan tugas Tata Busana itu. Dengan menggenggam sesuatu aku berjalan menghampiri guru Tata Busana itu. Tak lagi aku sanggup memandang suasana ruang guru saat itu. Tak sedikit pun aku ingin menoleh wajah guru-guru yang ada di ruangan itu. Yang aku tuju hanyalah, guru killer itu. Di depannya, aku angkat kepalaku perlahan hingga terlihat wajah seperti biasa. Dingin. Bibirku hampir tak kuasa berkata apa-apa di depannya. Tapi akhirnya, dengan terbata-bata aku meminta maaf kepada beliau atas kebohongan yang aku lakukan dan mungkin dianggap sebagai penipuan. Jika kemarin aku hanya diam saja dan beliau yang banyak bicara, sekarang malah sebaliknya. Aku yang lebih banyak berbicara kepadanya, dan beliau lebih banyak mendengarkan.

Aku melihat, sorot matanya masih tajam. Aku faham, mungkin kebohongan itu telah melukai hatinya. Aku pun menjelaskan bagaimana sulitnya aku memilih antara kejujuran dan mempertahankan perfeksionitasku. Pembicaraan pun aku akhiri dengan menyerahkan dua potong celana yang gagal aku buat.

“Bu… mungkin memang sudah tidak ada artinya lagi bagi ibu. Toh ibu akan menghadiahi saya angka 4 untuk nilai raport saya. Insyaallah saya terima, dan mungkin akan saya kenang sebagai hadiah paling berharga yang saya dapatkan di sekolah ini. Angkanya memang kecil, tapi kenangan dan pelajaran yang ada di dalamnya jauh lebih besar dari akumulasi nilai-nilai sempurna saya yang lain. Tentunya ada satu pelajaran hidup yang saya dapatkan. Tapi juga tidak salah bila saya mengumpulkan karya saya di hari terakhir pengumpulan ini. Diterima atau tidak, itu adalah hak ibu. Yang jelas, saya sudah berusaha dan inilah kemampuan saya. Sekali lagi mohon maaf atas kebohongan yang saya perbuat kemarin.”

Tak pelak lagi, tanggul kecil di sudut mataku mulai bobol. Bukan karena cengeng kawan, tapi lebih karena rasa sesal. Menyesal telah mengecewakan banyak orang. Hanya gara-gara si lidah yang tidak bertulang ini.

Tanganku yang terulur menyerahkan dua potong celana hawaii itu bersambut. Ibu Nurhayati mengambilnya. Menerawangnya. Hingga ketiak beliau terangkat. Suasana pun pecah seketika. Kali ini bukan karena kemarahan guru killer itu. Tapi penuh gelak tawa yang diderukan oleh semua orang di ruangan itu. Tentunya terkecuali diriku, yang penuh keheranan. Bu Nurhayati pun tertawa. Dan baru kali ini aku melihat tawa seorang guru yang dianggap sebagai guru killer. Di depanku lagi. Dan tawa itu pun makin mengeras dan makin tak tertahan, kala bu Nurhayati mengangkat celana hawaii kedua dan menerawangnya. Kontan, semua guru-guru pun tertawa geli mengikutinya.

Ooo.. sekarang aku faham. Guru-guru itu menertawakan hasil karyaku. Tentunya wajar. Karena memang itulah celana paling aneh yang pernah ada. Lingkar pinggangnya memang sesuai ukuran pinggangku. Tapi tidak bisa dipakai, karena ujungnya terlalu sempit. Mirip perpaduan celana pendek orang dewasa dan celana anak balita. Pokoknya aneh bin gak bisa dipakai. Tapi yang jelas, walaupun awalnya ada rasa malu untuk mengakui, kini hatiku lebih tentram.

Aku tinggalkan ruangan guru itu dengan rasa damai. Aku sudah tak peduli lagi dengan nilai perfectku. Toh, hari ini aku telah mendapatkan pelajaran yang mungkin orang lain mendapatkannya pada umur 20 atau 30 tahunan. Atau mungkin saat-saat menjelang nafas terakhirnya. Puji syukur untuk Allah yang telah mengkaruniakan kepadaku kekuatan untuk mengakui kesalahanku.

* * *

Hari pembagian raport pun tiba. Semua orang tua diundang untuk menerima langsung raport yang menunjukkan prestasi anak-anaknya di sekolah. Mungkin ini adalah cara ampuh untuk mendorong orang tua agar menyemangati dan memperhatikan anak-anaknya untuk giat belajar. Mana ada orang tua yang mau menerima “ceramah” dari wali kelas. Tidak ada orang tua manapun yang tidak merasa malu, jika anaknya dikatakan berlaku negatif, bengal, pemalas selama berada di sekolah. Atau setidaknya kata-kata tersebut telah diperhalus oleh sang wali kelas. Walaupun sensasinya tetap saja terasa kasar di hati si orang tua. Kata yang seyogyanya menampar orang tua dan kata yang seharusnya berarti “Anda sebagai orang tua tidak memperhatikan anak Anda dengan baik”.

Ya.. itulah sensasinya ketika acara pembagian raport. Tak sedikit bila sensasi ini membuat otak teman-teman saya berputar. Mencari solusi supaya selamat dari cercaan dan amukan orang tuanya yang merasa dipermalukan di sekolah. Mending jika dimarahinya di rumah. Bagaimana kalo dijewer dan dimaki-maki di depan teman sekelas dan orangtua-orangtua murid yang lain. Ugggh.. memalukan bukan main. Itulah sebabnya, tak sedikit ada murid yang mencari “orang tua pinjaman”, atau yang lebih gampang minta bantuan kakaknya yang sedikit bisa diajak kompromi dengan sebungkus rokok.

Aku yang biasanya PD ketika seremonial pembagian raport itu, kini suasana hati saat itu sangat bertolak belakang. Tegang minta ampun, membayangkan betapa wajah ibuku akan ikut memerah tatkala melihat nilai aib berwarna merah itu lengket di raport anak kesayangannya. Nilai yang nyentrik dibandingkan nilai-nilai yang lainnya. Aku pun tak tahu, apakah ibuku akan marah jika anaknya mendapat nilai aib itu? Tapi yang jelas, beliau pasti malu bukan main dihadapan wali kelasku itu. Apa yang akan aku katakan nanti? Ah… lamunanku tiba-tiba terusik kala temanku menyumpal mulutku yang tengah termangap dengan sebuah pisang goreng. Gggrrrrr.. kalau tidak sedang tegang, mungkin aku akan ikut memakan pisang goreng itu, tentunya setelah membalas menjitak kepalanya. Tidak ada yang lebih membuatku lega, selain raport itu sudah diterima dan ibuku sudah meluapkan perasaannya. Baru aku bisa makan dengan tenang kembali.

Jauh di kursi bagian belakang, aku melihat wali kelasku sambil tersenyum menyerahkan raport berwarna kuningku itu. Tak jelas apa yang mereka bicarakan. Sambil menunjuk-nunjuk lembaran raport, wali kelasku terus tersenyum. Kontan ibuku juga membalasnya dengan senyum. Ah… tak jelas senyum apa itu? Senyum bangga? Senyum menahan malu? Iiigggh.. ngeri. Suasana tambah tegang saja. Aku menggosok-gosok tanganku yang mulai kedinginan.

Lima menit berlalu. Ibu pun beranjak dari kursi depan wali kelas itu. Keluar kelas tujuannya. Wajahnya menengok ke sebelah kanan. Senyumnya masih datar dan seadanya. Matanya mencari-cari anak yang kini raportnya tengah digenggamnya. Aha… itu dia! Tangannya melambai. Mengisyaratkan aku harus keluar kelas, mengikutinya. Duh.. Tuhan…! Jika memang harus dimarahi, jadikan mood marah ibuku ada di rumah. Aku pun dengan berat dan masih tegang menyusul ibuku yang telah meninggalkan ruangan.

Terang sekali. Bukan karena cahaya matahari yang lebih mengalahkan pencahayaan di dalam ruangan. Tapi karena diluar ibu sudah menantiku dengan senyuman khasnya. Senyum yang tak mungkin lepas dari ingatanku. Manis sekali. Ah.. syukurlah..! Tidak apalah aku dimarahi disini, karena senyumnya lebih indah kawan. Membuat hatiku cukup berbesar hati menerima nasihatnasihatnya. Ibu membuka halaman terakhir prestasiku di sekolah ini. Memperlihatkannya padaku. Aku memperhatikan dengan seksama. Fokusku mencari nilai sialan yang telah membuat ibuku ini malu. Heran…..!

Aku rebut dengan paksa raport itu dari ibu. Untunglah ibuku tidak kuat-kuat memegangnya. Sehingga tidak robek oleh tarikan tangan kasarku. Begitu tersentaknya diriku, nilai nyentrik itu tidak aku temui. Aku coba perhatikan lagi dengan seksama. Benar-benar tidak ada kawan. Ajaib! Mungkinkah salah memberi nilai? Mungkinkah guru Tata Busanaku telah salah menempatkan nilai ini. Bukan angka yang kecil. Sembilan. Angka terkecil di raportku itu saja angka delapan. Jumlah seluruh nilai adalah 102 dari 12 mata pelajaran. Dengan kelakuan diberi nilai B, kerajinan A, dan kerapihan B. Tak ada satu pun hari sakit apalagi alfa. Untunglah di negeri ini masih menganut sistem pendidikan yang mementingkan nilai akademis.

Sedikit sekali orang tua yang memperhatikan nilai kepribadian anaknya. Sehingga, saking dianggap remehnya hampir di seluruh lembaga pendidikan kita, nilai kepribadian hanya menyangkut kelakukan, kerajinan dan kerapihan. Tak lebih. Dan tak jelas tentunya. Wali kelas yang mengisinya pun, cukup membayangkan atau kalau mau gampang tinggal ngitung kancing antara A atau B. Tak perlu pusing-pusing. Jika nilai kepribadian itu diperjelas, tentu di raportku sekarang ada sebuah nilai yang paling aku takuti. Yaitu nilai kejujuran. Yang tentunya aku akan mendapatkan nilai minus.

Ah.. yang jelas, perasaanku saat itu sedang bercampur aduk. Antara rasa senang dan rasa bimbang. Benarkah apa yang aku dapat ini? Setelah minta diri dari ibuku. Aku langsung menuju ruang guru. Menemui sosok yang hari ini menjadi sosok misterius bagiku. Misterius karena baru kali ini aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri, beliau “menjilat lidah sendiri”. Yang katanya akan memberikanku nilai kursi terbalik (baca : empat). Tapi malah memberikan nilai terbaik bagiku.

Di ruangan itu, jumlah guru tak lebih dari jumlah jari tangan kanan. Ibu Nurhayati salah satunya. Kulihat dia sedang duduk, tersenyum-senyum kecil, sambil mengamati dan membolak balik celana hawaii. Celana hawaii itu tak asing. Ya.. karena akulah yang telah membuatnya. Tak banyak basa-basi aku langsung melemparkan sebuah pertanyaan pamungkas.

“Bu… tentang nilai Tata Busana untuk saya. Benarkah ibu yang memberikan nilai sembilan?”

“Ah… sudah Ibu duga kamu akan bertanya. Singkat saja. Kamu memang telah berbohong dan menipu. Persis seperti sebagian besar dari kalian.” jawaban pembukanya.

“Hoh”, aku terpelongo dengan pernyataannya.

“Ada yang beli celana jadi. Bahkan ada yang lupa bandrolnya belum dilepas. Ada yang dijahitkan ke tukang jahit. Jelas kelihatan, rapi sekali. Karena beda dong antara mesin jahit dan jahitan tangan sendiri. Atau mungkin ada yang minta bantuan orang tuanya. Tapi kamu adalah segelintir murid Ibu yang melakukannya sendiri. Walaupun kenyataannya gagal. Tapi kejujuran kamu untuk mengakuinya tentu itulah yang utama.” jelasnya.

Baru kali ini aku melihat senyumannya yang tulus, tatapannya yang teduh. Juga kata-kata yang meluluhkanku. Ternyata dibalik wajahnya yang membuat seantero murid sekolah itu menakutinya, ada kesejukan menyelimuti beliau. Ya tentu, karena beliau adalah seorang ibu pula. Ibu bagi anak-anaknya. Yang bisa jadi kami dianggapnya sebagai anak-anaknya sendiri. Ibu Nurhayati mungkin tak jauh beda dengan ibuku tentunya. Yang mengasihi anak-anaknya. Tentunya dengan caranya sendiri. Tapi kali ini aku lihat kasih sayang yang sama melalui senyumnya itu.


Beliaulah guruku. Yang bila aku mengingatnya, aku akan teringat akan pelajaran paling berharga. Dan sebuah kewajibanku untuk berbuat satu hal. JUJUR. Kadang jujur itu pahit di lisan, tapi ia menentramkan batin. Terima kasih bu…! (insansains)

Ditandai: , ,
Posted in: Cerpen