Ramadhan dan Kerinduanku

Posted on 5 September 2008

9



Tulisan ini terinspirasi dari postingan dua sahabat blogger saya. Sist Ney dan Sist Rindu. Kalau pun ada kebaikan yang kelak berbuah pahala dari postingan ini. Tentunya saya berdoa semoga mereka berdua pun mendapat pahala dua kali lipatnya (bahkan lebih).

Kawan…!
Ramadhan sudah menginjak hari ke-5. Empat gelintir hari sudah menggelinding meninggalkan kita. Tak akan kembali. Tak akan pernah ditemui lagi. Empat hari itu telah menjadi buku yang siap diterbitkan. Yang bakal kita dapatkan gratis. Yang mencatat segala hal baik yang kita lakukan. Juga tentu keburukan-keburukan yang diperbuat. Akankah ke-empat buku itu kita terima dengan tangan kanan? Ataukah dengan tangan kiri kita?

Ramadhan sudah menginjak hari ke-5. Coba kita singkap lubuk hati kita yang terdalam. Tanyakanlah dengan sopan kepadanya,

“Bagaimana perasaanmu di hari ke-5 ini?”

Apakah dalam jiwamu masih bersemayam rasa rindu? Kerinduan yang menyeruak tatkala Sya’ban meminta pamit, dan Ramadhan mulai merangkak naik. Apakah masih ada kerinduan dalam jiwamu, yang membuat dirimu bahagia, Bahagia yang bukan kepalang. Bahagia ibarat bertemu dengan seseorang yang terpisah oleh dimensi jarak dan waktu. Rasa kangen yang terpuaskan karena bertemu dengan sosok yang dirindu. Rasa yang sedemikian hebat, hingga tak satu pun kosa kata yang mampu menggambarkannya. Dan pertanyaannya,

“Apakah rasa rindu itu masih ada dalam jiwamu?”

Ah… kerinduan itu akan tetap menjadi kerinduan yang tiap tahun akan berulang. Kerinduan itu hadir karena kita tidak pernah memilikinya. Kerinduan itu lahir, karena kita tidak berada dekat dengannya. Ramadhan berganti ramadhan. Entah berapa ramadhan yang telah aku lalui. Tentu mudah jika menghitungnya hanya mengurangi umurku yang menjelang seperempat abad ini dengan umur ketika aku mulai baligh. Tapi bukan itu esensi pertanyaannya. Ramadhan datang silih berganti tiap tahunnya. Tapi aku masih saja merindukannya.

Rindu…

karena aku belum memilikinya.

Rindu…

karena aku belum dekat dengannya.

Rindu..

karena aku belum menyatu dengannya.

Kerinduanku hanya sebatas mengharapkan kehadirannya. Betapa bahagianya bukan? ketika bertemu orang yang telah lama kita rindu? Ah.. air mata bahagiapun tak tertahankan ketika bertemu dengannya. Sayangnya, setelah bertemu. Makin lama berjumpa. Rasa rindu itu perlahan ber-metamorphosis. Kita menyebutnya, biasa-biasa saja. Nothing special, orang barat bilang. Hambar. Cobalah tengok mesjid-mesjid. Begitu penuh sesak. Membludak. Eiiit…tapi pada awal-awal bertemu dengan bulan yang dirindu. Cobalah tengok sekarang, apalagi nanti pertengahan, apakah mesjid itu akan tetap penuh sesak dipenuhi orang-orang yang merindu? Lagi-lagi tawa nyinyir mulai menyimpul. Ah… itulah kerinduan karena sudah jemu bertemu. Sekalipun dengan orang yang dirindu.

Kawan…!
Sudah be-ramadhan ramadhan kita lalui. Namun di hari perpisahan itu, kita pun akan selalu. Dan selalu terulang. Rasa sesal yang teramat dalam. Karena ternyata bulan yang dirindu akan kembali menjauh. Dan menyesalkan pertemuan yang disikapi biasa-biasa saja. Sesal karena tidak bisa memaksimalkan pertemuan singkat itu dengan sesuatu yang berbobot. Sesal karena tidak bisa memberikan yang terbaik saat pertemuan itu terjadi.

Lagi-lagi… Kita pun akan merindukannya. Karena apa? Karena kita tidak memilikinya. Ya.. selama ini kita selalu merindukan ramadhan, karena kita belum berhasil me-ramadhan-kan diri kita. Kita masih me-ramadhan-kan fisik kita. Kita masih me-ramadhan-kan ramadhan. Namun kita belum me-ramadhan-kan jiwa kita. Kita belum me-ramadhan-kan ruh kita. Maka pantas, begitu ramadhan berakhir, rasa rindu itu pun kembali muncul. Rasa tidak memiliki, rasa tidak menyatu. Ramadhan belum bersemayam dalam jiwa kita.

Kawan…
Masih tersisa 25 hari. Akankah kita biarkan jiwa ini kembali kehilangan bulan yang dirindu? Jangan…! Jangan biarkan kerinduan dan kehilangan ini terulang. Jadikanlah Ramadhan adalah milikmu. Semaikanlah dalam jiwamu, spirit ramadhan. Spirit yang mampu menghidupkan hari-hari, jam-jam, bahkan detik-detik yang kau miliki menjadi ramadhan sepanjang hidupmu. Kawan…! Marilah kita ramadhankan lahir dan batin kita. Fisik dan Ruh kita. Mari kita miliki ramadhan. Agar kita tidak lagi kehilangan, yang membuat kita merindukannya. Mari kita semaikan spirit ramadhan dalam jiwa. Agar kita tercelup dengan sebaik-baik celupan. Yaitu celupan taqwa. (insansains)

“Ya Rabb.. berikan kepada kami kekuatan

untuk me-ramadhan-kan jiwa kami”

Ditandai: ,
Posted in: Renungan