Aku dan Tempat Nafkahku (Part III)

Posted on 28 Agustus 2008

12



Aku hampir tak punya otak waras. Benar-benar peristiwa yang memalukan. Hanya gara-gara miscommunication. Untunglah di saat seperti itu, bukan aku sendirian yang mengalaminya, melainkan bersama ke empat rekanku. Suasana yang seharusnya menegangkan itu kini telah berubah menjadi tawa nyinyir yang kadang merangsang gelak tawa bersama. Hampir saja kami berpikir untuk tidak pulang ke rumah, jika tidak berjiwa besar untuk menerima rasa malu tersebut. Ah… akhirnya dengan tekad yang sudah membulat utuh, aku putuskan harus pulang dulu, biarlah orang lain akan berkata apa. Aku akan tetap menunggu satu minggu keberangkatanku ke Jakarta dengan sabar.

* * *

Hari keberangkatan yang dijanjikan pun tiba. Dengan menggunakan kereta api kami berlima plus pemilik toko komputer itu, sebutlah bapak Ateng akhirnya tiba di stasiun Gambir, Jakarta. Cukup lama aku tercenung dan menerawang ingin menggambarkan suasana saat itu kepadamu kawan. Sayang, nihil. Memoriku ini tak cukup kuat untuk mengingatnya. Bahkan aku pun tak mampu mengingat saat pertama kaliku bertemu dengan seseorang yang cukup tua bernama bapak Subakat, yang datang menjemput kami menggunakan mobil. Dan belakangan aku ketahui, bahwa beliaulah pemilik tempatku magang (PT. Pusaka Tradisi Ibu). Ah.. penyakitku yang satu ini ternyata tambah akut, “susah ingat dan mudah lupa”. Tapi biarlah, ini sudah jatah memori yang Tuhan karuniakan kepadaku.

Sepanjang perjalanan dari stasiun Gambir itu pikiranku melayang mengagumi betapa Jakarta adalah surganya gedung-gedung pencakar langit, jalan-jalan besar dengan mobil berseliweran di mana-mana. SUGOI! (baca : Great! dalam bahasa Jepang). Namun tiba-tiba byaaaar… Lamunanku terbangun kala mobil yang mengantar kami melewati jalanan yang hanya bisa dilewati oleh satu mobil dan hanya terlihat rumah-rumah biasa. Tak beda dengan pemandangan di kampungku. Mataku ku kucek-kucek. Memastikan aku tidak sedang bermimpi. Apakah aku masih berada di Jakarta?

Tiiiittt.. Tit.. Tiiiiiiiitttt... Mobil itu membunyikan klakson di depan sebuah pagar hitam setinggi 3-meteran. Tak lama seseorang dibalik pagar hitam itupun membukakan. Mobil pun masuk ke dalam. Aku yang setengah penasaran itu berbisik halus kepada temanku Radi si aburizal backrie jr. yang ada disebelahku, “bukannya tadi kita mau diajak ke kantornya? kok kita diajak ke rumahnya?”. Belum sempat backrie jr. itu berekspresi apalagi menjawab, bapak Subakat yang ada di jok depan menoleh kebelakang dan angkat bicara, “Nah.. ini dia kantor kita.”. Kantor?? tanyaku dalam hati sambil menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang kering karena kaget. Ku lihat seksama dan memastikan sekeliling tempat yang dikatakan “kantor” ini. Ah… ternyata pikiranku terlalu melayang tinggi… Jakarta dan tempatku magang tidak seperti dugaanku sebelumnya kawan.

Matahari hari itu mulai merangkak menuju peraduan. Langit seperti kanvas yang diguyur cat hitam. Kami semua turun dari mobil. Bapak Subakat mengantar kami memasuki kantor yang sudah gelap itu, menyalakan lampu dan memperkenalkan ruangan yang akan kami gunakan. Ku perhatikan dengan seksama seluruh isi ruangan tersebut. Tak lebih dari 4 komputer saja yang ada. Dua digunakan sebagai komputer administrasi, dan dua lagi tak jelas penggunaannya. Sebentar… sebentar… aku pun memincingkan mata ke sebelah pojok ruangan. Ku lihat sekitar 5 buah CPU yang tertumpuk dan masih teronggok begitu saja. Dari jauh dapat kupastikan, ke-5 CPU tersebut bukanlah CPU terbaru, paling banter Pentium III. Loh tahu darimana? Tentu dari bentuk casingnya. Aku pernah melihat bentuk CPU yang serupa di gudang sekolah. Disana tertumpuk CPU-CPU lama yang kebanyakan tidak bisa digunakan lagi. Diam-diam aku menertawakan dalam hati ke-5 CPU itu. Sayangnya yang aku tertawakan justru disediakan untukku salah satunya. Nasiiiib.. nasiiiib.

Acara perkenalan dengan tempat kerja kami selesai. Saatnya kami harus tidur untuk istirahat dari perjalanan yang cukup melelahkan ini. Kami memang dijanjikan mendapat mess. Tapi siapa menyangka, ternyata kami harus melalui malam pertama di langit Jakarta di sebuah mushala kantor. Sebuah mushala yang tidak tertutup. Tidak mempunyai pintu. Satu sisi dibiarkan terbuka, tanpa dinding. Tapi lumayanlah untuk merebahkan badan setelah shalat jama’ maghrib dan isya itu. Malam itu pula, kami menjadi pendonor darah secara terpaksa. Nyamuk-nyamuk itu menyambut kami dengan girangnya bak menemukan makanan yang masih segar. Tak lupa udara Jakarta yang walaupun malam tapi masih terasa gerahnya. Aku pun yang notabene cepat sekali untuk mengeluarkan keringat, tak kuasa lagi membendung peluh keringat yang keluar deras bercucuran. Terutama keningku. Ah.. tapi toh, akhirnya aku bisa tertidur juga.

* * *

Hari pertama berada di kantor pun dimulai…

Kami berlima diperkenalkan terlebih dahulu dengan karyawan-karyawan di kantor. Mereka semua sangat menyenangkan, penuh kekeluargaan, tidak ada tuh yang namanya main sikut-sikutan, cari muka di depan atasan. Tak ada. Semuanya berjilbab, kecuali dua orang laki-laki di sana kawan, satu sudah menikah, dan satu lagi masih bujang. Jadi jika ada kontes laki-laki terganteng di kantor saat itu, maka tentu aku masih masuk 10 besar walaupun aku berada di nomor 7. Tak apalah, aku tetap akan mensyukurinya. Wajahku memang tidak ganteng-ganteng amat, tapi amatlah salah kalo dibilang jelek. Alhamdulillah ya Allah. Perbaguslah akhlaqku sebagaimana Engkau membaguskan rupaku.

Acara selanjutnya kami dibiarkan memperawani CPU-CPU yang telah disediakan sebelumnya. Hah.. memperawani? Memperawani CPU yang sudah tidak perawan tepatnya. Ah… tapi kenapa aku harus mengeluh, pikirku. Toh jika dibandingkan dengan komputer yang pertama kali dibuat. CPU pentium III ini sudah ratuan bahkan ribuan kali lebih cepat. Anggap saja aku bukan hidup di abad 21, melainkan di abad ke-19. Jadi apa yang aku dapat adalah yang terbaik di jaman itu.

Hari pertama di kontrakan…

Jika saat ini bagi yang magang sudah tersedia mess yang nyaman dan ber-AC. Jangan bayangkan kami pernah menikmatinya. Dengan menggendong ransel besar, juga membawa tas jinjing yang tidak kalah besarnya, di tangan yang lain kami pun memanggu sebuah kasur lipat yang telah dibelikan sebelumnya. Persis pengungsi mungkin. Kami berjalan dari kantor menuju kontrakan yang kurang lebih 500 meteran dengan diantar oleh satu-satunya karyawan bujang disana. Aku mulai tertawa nyinyir dalam hati kala berhenti di kontrakan yang akan kami tinggali. Sebuah ruangan memanjang yang kurang lebih berukuran 3×6 meter. Satu kamar mandi 1×1.5 meter, sisanya disekat dengan sebuah papan tripleks. Dinding yang kotor, lantai yang bolong-bolong, debu dimana-mana, juga sarang laba-laba di sudut-sudut ruangan. Aku hampir tertawa lepas menyaksikannya. Tertawa karena merasa betapa bodohnya diriku memandang Jakarta sebagai kota yang metropolis. Ahh… masih jauh bang. Se-modern-modernnya sebuah kota, tetap saja ada masyarakat yang terpinggir.

Kontrakan itu berdempetan dengan rumah-rumah yang lain. Begitu sesak. Hingga kami tak lagi kebagian tempat untuk menjemur pakaian. Tak usah dibayangkan, karena kami tak kehilangan akal. Separuh ruangan itu kami gunakan khusus untuk jemuran-jemuran, satu ruangan sisanya untuk tidur, makan dan bercengkrama. Sayangnya sekarang udara dalam kontrakan itu menjadi lebih lembab. Sungguh berbahaya bagi paru-paru kawan.

Kondisi ini tak terlalu mengagetkan bagi diriku. Toh aku terlahir dari keluarga yang sangat sederhana dalam artian yang sebenarnya. Jadi aku terima dengan lapang dada pula kesederhanaan ini. Toh, tak jauh beda. Ah… kok pikiranku jadi melayang ke ibu dan bapakku? Salam keselamatan untukmu duhai Ibu, Salam kehangatan untukmu duhai bapak!

* * *

Pekerjaanku adalah membuat sebuah program ERP (Enterprise Resource Planning). Sebuah software aplikasi yang digunakan untuk mengatur seluruh asset perusahaan, mulai dari uang, manusia, mesin hingga produk dan jasa yang dihasilkan hingga mampu merencanakan dan memperkirakan kondisi perusahaan beberapa tahun yang akan datang sehingga bisa dijadikan dasar bagi management untuk mengambil keputusan bisnis. Bukan program kecil-kecilan memang, bahkan termasuk program papan atas. Perusahaan software house sekelas Zahir pun belum mampu membangun seperti yang diinginkan perusahaan, sehingga terpaksa mengambil langkah untuk membuat software sendiri. Tapi jika dibandingkan dengan software house di luar negeri, tentu software yang dibuat ini belum ada apa-apanya.

Ada satu hal yang membuat aku merasa minder ketika pertama kali ditugasi hal ini. Pertama, karena aku sama sekali tidak tahu menahu mengenai sistem dan workflow sebuah bisnis. Banyak istilah-istilah yang pastinya aku tidak ketahui, mulai dari istilah-istilah akuntansi, administrasi, produksi, dan istilah-istilah lainnya. Ditambah lagi yang menjadi kendala utama adalah, software yang digunakan untuk membuat aplikasi ini benar-benar diluar pelajaran sekolah. Aku sama sekali belum mengetahuinya, Fox Pro. Ya.. nama yang bagiku benar-benar asing. Apa yang bisa aku kerjakan disini? Bila alat untuk mengerjakannya sendiri aku belum mengetahui cara menggunakannya.

Ada dua pilihan bagiku. Pertama, mengundurkan diri, karena setelah dipikir-pikir tak sedikitpun dan dari sisi manapun dimana aku memiliki peluang untuk mengerjakannya. Kedua, melanjutkan magang ini dan menganggapnya sebagai pagar tantangan dan pintu kesempatan untuk belajar. Dan kamu tahu kawan, mana yang aku pilih? Ya… nomor dua. Satu lagi pelajaran hidup yang aku ingat

“Kita bisa saja takut terhadap suatu hal, tapi lari dari ketakutan bukanlah solusi”.

Tiga bulan aku mempelajari seluk beluk software Fox Pro. Beberapa buku aku lahap habis. Lebih sering aku habiskan waktu di kantor hingga malam, bahkan kadang-kadang sampai tertidur di kantor. Beruntunglah, diusiaku yang 17 tahunan itu otakku masih bisa diajak kompromi, sehingga bulan berikutnya mulai mengembangkan program ERP yang dimaksud. Oia… Kami cukup beruntung kala itu, karena mendapat uang saku sebesar Rp. 200 ribu. Lumayanlah.. Walaupun biaya hidup ternyata masih jauh lebih besar dari itu apalagi kalau masih sering pulang pergi Jakarta-Bandung, sehingga kami pun masih mengandalkan penyambung nyawa dari orang-orang tua kami.

Sssst…. dalam satu sisi, aku merasa diperalat bahkan lebih sadisnya di-romusha (baca : diperbudak). Bayangkan saja, program yang harganya muahal minta ampun, hampir setara dengan membeli 10 perusahaan kecil-kecil, ternyata bisa dikerjakan oleh bocah-bocah ingusan yang cuman dikasih uang saku Rp. 200 ribu. Berapa ratus kali lipat tuh penghematan yang bisa didapat? Tapi sekarang saya sudah ngantuk dan bingung mau menceritakan yang mana lagi. Jadi kapan-kapan disambung lagi… ^_^

to be continued

Iklan
Ditandai: , , ,
Posted in: Cerpen