Ipung

Posted on 27 Agustus 2008

14



Judul : Ipung
Penulis : Prie GS
Penerbit : Republika
Tahun : 2008
Genre : Novel Remaja
Tebal : 194 Halaman
ISBN : –

Tunggu…. biarkan bibir ini mengembangkan senyumnya. Masih terpatri dengan pesona cerita yang dibangun budayawan nyentrik –mas Prie– dalam novel remaja ini. Satu kata, “excelent”, benar-benar luar biasa, ada rasa haru, lucu, bangga, bahagia, komplit deh. Awalnya beranggapan novel ini mirip cerita-cerita remaja ABG yang klasik dan penuh dengan roman percintaan. Ah.. ternyata salah…! Memang bumbu percintaan itu ada di novel ini, tapi bukan hal ini yang hendak digali oleh sang penulis piawai ini. Melainkan semangat hidup yang penuh dengan pesan-pesan moral ditambah sedikit humor segar.

Kepiawaian dan keluasan pengalaman penulis pun jelas terlihat. Konflik-konflik yang dibangunnya tidak membosankan, dan apik tertata. Cukup banyak novel yang miskin konflik sehingga terasa hambar, namun ada juga yang terlalu banyak konflik sehingga terkesan berbelit-belit dan tidak tentu arah. Novel ini bisa dibilang benar-benar pas. Mantap. Tak hanya itu, jarang ada novel yang mampu menjaga dan mengembangkan karakter-karakter pemainnya. Novel berjudul Ipung ini benar-benar memperhatikan hal tersebut. Pembaca akan melihat dengan jelas karakter-karakter lain selain Ipung dan Paulin, seperti : Pak Bakri, Marjikun, Pak Bahrun dan Surtini benar-benar dijaga dengan baik.

Dalam segi bahasa, jelas tidak perlu diragukan lagi kualitas novel ini. Seperti hal-nya tulisan-tulisan Mas Prie yang lain, semuanya serba sederhana, tapi menyelipkan makna yang dalam. Tak salah bila kemudian di halaman awal dihadirkan prolog dari penulis yang namanya melejit dengan novel “Ayat-Ayat Cinta”nya, Habiburrahman El-Shirazy. Dalam sisi design cover pun, cukup menarik dan menggambarkan isi cerita novelnya.

Tokoh utama itu sendiri bernama Ipung, seorang anak kampung. Dan mungkin sedikit kampungan. Yang terbawa nasib baik untuk sekolah di sekolah favorite, SMA Budi Luhur, bahkan lebih dari itu, anak ceking dan terkesan acak-acakan ini masuk pula ke dalam kelas unggulan. Ya.. kelas unggulan, bukan kelas biasa. Sebuah gengsi tersendiri tentunya, bukan hanya bagi anak kampung seperti Ipung ini. Tapi benarkah prestasi ini didapat hanya karena nasib baiknya?

Karakter Ipung mampu menyihir pembacanya untuk diam-diam mengidolakan kehadiran remaja seperti ini. Apakah remaja seperti Ipung benar-benar ada? Seorang remaja yang dekat dan berbaur dengan kemiskinan. Seorang remaja yang bentuk fisiknya tidak terlalu menarik. Badan yang kurus ceking, wajah yang tidak cukup untuk dibilang ganteng, namun salah bila dibilang jelek, pas-pas-an lah. Tapi ternyata dibalik kemiskinan dan segala kekurangannya itu, Ipung tidak pernah merasa rendah diri, tidak pernah merasa minder untuk mengakuinya. Baginya tak ada beda, kaya atau miskin, ganteng atau jelek, yang ada adalah dia harus berjuang memberikan yang terbaik.

Aura inilah yang ternyata memberikan Ipung kekuatan untuk menyihir karakter-karakter lain dalam cerita ini untuk tidak mungkin bila tidak mengagumi Ipung. Tak terkecuali, gadis primadona SMA Budi Luhur tersebut, Paulin. Entah setan apa yang merasuki Paulin, hingga gadis secantik dia, punya orang tua kaya raya, mau-maunya mengejar si kerempeng Ipung habis-habisan. Tak hanya gadis primadona yang berhasil Ipung sihir, guru tergalak di SMA itu pun luluh dengan kecerdikan dan sikap polos nan tenang Ipung. Nama Ipung justru makin meroket, mengalahkan popularitas nama sekolah unggulan itu sendiri. Ipung masuk majalah remaja populer, lebih dari itu Ipung diterima menjadi reporter majalah MM. Dari kegiatan sebagai reporter inilah Ipung akhirnya bisa membiayai sekolahnya sendiri, bahkan mengirimkan wesel untuk orang tuanya.

Dan juga tak usah heran, bila akhirnya beberapa temannya ada yang merasa iri. Bahkan menghasut teman-teman yang lainnya untuk mempermalukan Ipung di depan umum. Tapi sekali lagi pembaca akan dibuat tersentak dan mungkin akan menitikkan air mata bangga ketika sang Ipung di tengah pengadilan massal, dipermalukan sejadi-jadinya di depan 200 atau 300-an siswa lainnya, diantara rasa marah, malu dan sedih, Ipung akhirnya mampu menguasai keadaan dan membuat lawan yang membencinya menjadi sayang, dan membuat kawan yang mengaguminya makin mencintai keberadaannya. Berikut kutipan kata-kata pembelaannya :

Aneh kalau kemiskinan saya harus dibuktikan. Dari dulu saya ke sekolah sudah naik sepeda. Ketika dulu sepeda saya dirusak Gredo..” Ipung menunjuk Gredo sopan. Gredo tergagap. “Dan barang kali Marjikun juga ikut merusaknya…” Ipung menoleh ke Marjikun yang juga tak kalah senewennya. “Saya menangis. Pak Bakri tahu tangis saya..” Ipung menoleh ke arah Pak Bakri, dan guru itu membalasnya dengan lambaian tangan.

Itu sepeda saya satu-satunya. Dan menyesal saya gagal menahan kemarahan. Maka saya lawan Gredo. Dia naik mobil, tapi dengan orang bersepeda saja iri!

Begitu juga Marjikun. Wajah dia dan wajah saya sama-sama tidak cakepnya. Tapi dia iri juga…

Saya marah karena hak saya diganggu. Kaya atau miskin, rasanya kita punya hak yang sama untuk marah. Saya tidak melihat alasan harus menahan marah gara-gara kemiskinan.

‘”Terus soal pertemuan saya dengan orang tua Paulin. Jelas saya minder. Sangat minder! Rumahnya sangat luas. Sangat besar. Saya tidak tahu bagaimana rumah itu dibangun. Berapa tukang yang harus dikerahkan? Saya bayangkan, kalau rumah itu dipetak-petak jadi perumahan tipe 21, pasti akan terkumpul seratus buah rumah. Jauh lebih banyak pembantu Paulin ketimbang anggota keluarga yang tinggal di dalamnya. Saya grogi berat….

Tapi lagi-lagi, saya punya hak untuk berjuang mengatasi rasa minder saya. Di depan pintu, saya termangu menatap karpetnya yang tebal. Haruskah saya melepas sepatu saya..

Ternyata saya putuskan tidak. Saya takut, tuan rumah akan lebih menghina saya kalau sepatu itu saya copot. Saya masuk sopan. Lagak saya biasa saja. Jelas itu akting, karena saya gemetaran. Tapi apakah penghinaan namanya kalau saya pura-pura tenang? Apakah orang kaya berhak menuntut saya untuk terbongkok-bongkok? Ah rasanya saya tidak dibayar untuk itu

Kemudian saya ketemu orang tua Paulin. Mami-Papi Paulin. Hanya menantu gila yang tidak grogi melihat calon mertua…

Tapi apakah semudah itu saya diterima sebagai calon menantunya? Tidak. Alot sekali penerimaan itu. Tapi apakah saya menyerah? Siapa yang mengharuskan saya untuk menyerah? miskin atau kaya. Siapa saja bisa melakukannya. Jadi…. Marjikun tak usah mengadili saya di tempat seperti ini kalau ingin mengobati rasa mindernya.”

Marjikun. Aku heran. Wajahmu mirip Mandra, apa yang kamu risaukan…

Lagi-lagi tawa mengocok perut siapa saja.

Saya yakin, karena Mandra minder, maka ia pilih jadi bintang sinetron. Karena saya minder saya nekat mencintai Paulin. Bukan sebaliknya.!

Kita sama-sama tidak cakep Marjikun. Tapi adalah suatu bukti, kalau Paulin mencintai saya. sekian!

Kalimat pembelaan itu benar-benar dahsyat. Lagi-lagi kita akan bertanya. Apakah sosok Ipung benar-benar ada?

Cerita dalam novel ini benar-benar membumi, agak susah untuk mencari kekurangan dalam novel ini. Kecuali saya setuju dengan pendapat kang Abik dalam hal keabu-abuan pengkategorian novel ini. Dibilang fiksi-islami, belum sepenuhnya. Tapi bila dibilang fiksi-remaja yang penuh intrik pacaran, tidak juga karena ada unsur moral dan religinya. Ahh.. tapi yang jelas, pembaca pasti masih dibuat penasaran dengan akhir cerita pada buku pertama ini. Masih terlalu banyak kemungkinan-kemungkinan pengembangan cerita. Apakah sang penulis mampu menghadirkan adegan lain yang tidak biasa? Kita tunggu saja di buku selanjutnya Ipung 2. (insansains)

Posted in: Buku