Aku dan Tempat Nafkahku (Part II)

Posted on 11 Agustus 2008

13



Tepat tujuh tahun yang lalu, aku masih menyandang status sebagai siswa berseragam putih abu-abu pada jurusan teknik elektronika tingkat 4. Tak ada yang spesial pada diriku, kecuali orang lain mengenalku sebagai orang yang murah senyum dan punya lesung pipi. Namaku mulai mencuat kala aku menjadi rohis yang diberi nama FDI. Dan lagi-lagi hampir tidak ada di sekolah yang berukuran 3 hektar itu yang tidak mengenalku semenjak aku menjadi ketua dari organisasi semi militer yang paling disegani dan paling “wah” kala itu, pasalnya sejak saat itu aku sering tampil di depan publik, entah karena harus mengkoordinir upacara setiap senin, ataukah karena acara seremonial penyerahan piala-piala dari event-event yang sering organisasi yang diamanahkan kepadaku itu ikuti. Ah… aku mungkin terlalu berlebihan menceritakannya. Yang jelas di samping itu aku pula memiliki kedekatan dengan beberapa guru, gara-gara pernah menjadi wakil siswa teladan untuk tingkat Jawa Barat secara tidak sengaja. Loh kok tidak sengaja? Ya, karena seharusnya yang ditunjuk adalah ketua OSIS, namun karena sesuatu hal, tiba-tiba dirikulah yang tanpa persiapan ini lolos beberapa seleksi yang tidak pernah aku bayangkan bisa melewatinya.

Sebagai seorang siswa teknik elektronika, aku memang tidak cukup cerdas untuk menyaingi kepintaran beberapa teman sekelasku. Tapi setidaknya aku mengetahui, betapa beruntungnya aku bisa mengenal teman-teman sekelasku selama 4 tahun yang saat ini menyimpan kenangan tersendiri di hatiku. Di sekolah itu pula aku sempat mempelajari bahasa pemprograman, tapi hanya secuil, sebatas pengetahuan dasar, tidak lebih. Sehingga aku pun tak berniat untuk mendalaminya lebih lanjut, terlalu memeras otak kawan!, aku lebih senang berkutat masalah hardware dan rangkaian-rangkaian elektronik. Namun walaupun begitu, aku termasuk dalam segelintir siswa yang dianggap patut dicontek ketika ujian bahasa pemprograman tiba, maka tak heran jika akhirnya sekolah memilihku untuk magang sebagai programmer komputer. Weks, sebuah hal yang sebenarnya tidak begitu aku suka.

Juli 2001, tersebutlah namaku dalam daftar 5 siswa yang ditugasi Praktek Kerja Lapangan (PKL) atau istilah lain disebut dengan magang di sebuah perusahaan di Jakarta. “Hah.. Jakarta? Kenapa harus aku yang ke sana?” tanyaku dalam hati. Di saat yang lain mengharapkan bisa mendapatkan tempat PKL di luar kota (mungkin demi sebuah gengsi), aku justru malah lebih memilih perusahaan yang ada di tempatku dilahirkan, Bandung nu gemah ripah loh jinawi. Ah.. jiwa pengelanaku memang kerdil kawan..! Tak seluas Colombus dalam mengitari lautan dunia dengan gagahnya, dan tak pula semegah Niel Amstrong kala menjelajahi gugusan bintang di langit dan dengan bangganya menginjakkan kaki di bulan. Tidak…! aku sama sekali tidak seperti mereka. Aku lebih memilih tetap dekat dengan keluarga tercinta (ayah dan ibu)-ku dan berlindung dibalik ketiaknya selain bisa bersama dua adik yang bisa aku “aniaya”. Hm.. aku mungkin memang manusia pengecut yang pernah ada di dunia, nyaliku hanya sebesar biji jagung yang dihadapkan pada ladang yang luasnya tak terkira.

Sialnya, sebesar apapun penolakanku kepada pihak sekolah, tetap tidak lebih besar kala menghadapi wali kelas yang keukeuh (baca : bersikeras) memaksaku untuk pergi bersama 4 orang lainnya. Beliau malah sudah mempersiapkan surat pengantar dan memberitahukan bahwa awal Agustus sudah diminta untuk memulai petualangan kami. “What? Awal Agustus?”, itu berarti hanya tersisa satu minggu untuk mempersiapkan segalanya. Pikiranku mulai kalang kabut dengan berita itu. Secara mental tentu aku belum siap menerimanya, tapi mau diapakan lagi, ternyata inilah episode hidup yang harus aku lalui.

Pelajaran pertama dalam kehidupanku adalah, “Kita memang bisa menolak, tapi tinta takdir telah mengering kawan!” Maka kita pun akhirnya akan mengikuti jalan takdir tersebut, baik dengan suka hati maupun terpaksa. Ada tiga hal yang paling berat aku tinggalkan, yaitu :

Pertama, kedua orang tuanya.
Jelas aku amat menyayangi keduanya. Walaupun bapak sering bersikap keras kepadaku (maklum bapakku anak seorang ABRI), tapi begitu membayangkan wajahnya, air mataku langsung saja menetes. Apalagi membayangkan wajah ibuku yang teramat sayangnya padaku, yang secara diam-diam sering memperhatikanku saat tertidur. Love you mom..!

Kedua, Daarut Tauhiid
Jelas aku merindukan tempat mencari ilmu seperti ini. Tempat dimana aku bisa lebih dekat dengan jiwaku, mengenal diri lebih dalam, memahami tujuan kemana aku harus pergi, serta berlomba-lomba dalam hal kebaikan dengan santri-santri yang lainnya.

Ketiga, Latihan Kungfu
Belum genap satu tahun aku memulai berlatih kungfu. Aku begitu menikmatinya. Tiap malam sehabis pulang sekolah aku sempatkan untuk berlatih pada seorang yang cukup tua namun sangat bijak. Banyak filosofi hidup yang aku tangkap darinya. Begitu pula aku merindukan tiga orang teman latihan kungfuku. Ah.. lagi-lagi aku harus meninggalkan mereka pula.

* * *

Acara perpisahan pun digelar. Tanpa sepengetahuanku, nenek dan kedua orang tuaku mengundang kerabat tertua dari kampung sana-sini untuk datang ke rumah. Hugggh… betapa kagetnya diriku saat melihat mereka semua berkumpul di rumah, layaknya keluarga besar. Satu persatu mulai dari buyut mendoakan dan memberikan nasehat dan “wejangan-wejangan”nya, mulai dari nasehat spiritual, nasehat penyemangat, sampai kepada nasehat untuk bersiap-siap berkeluarga. Hm… aku hanya bisa tunduk, manggut-manggut, dan meng-iya-kan setiap perkataan mereka yang sambil mengusap-ngusap kepalaku. Suasana pun kadang menjadi hening dan tiba-tiba berubah menjadi haru kala terdengar samar isak tangis terutama dari ibu dan nenekku. Betapa sendunya suasana saat itu kawan. Ah.. aku tak ingin menceritakannya lebih jauh, air mataku terlalu mudah keluar untuk hal-hal seperti ini.

Ups.. satu lagi kawan…! Ternyata si manusia pengecut ini diam-diam memiliki penggemar setia. Mendengar keberangkatanku awal Agustus, penggemar setiaku ini mungkin tak lagi bisa membendung rasa rindunya yang sudah membucah. Tak sanggup lagi dia bersembunyi dibalik rasa suka yang ditutup-tutupinya itu, terlebih dia tidak ingin cintanya sekedar bertepuk sebelah tangan. Akhirnya dia pun mengutus seseorang untuk mempertemukan kami. Subhanallah, ternyata yang naksirku tak kalah cantik dengan Zaskia Mecca. Perempuan itu berkerudung rapi, tak sedikit pun dia umbar perhiasan wanita yang membuat laki-laki bisa tergila-gila, wajahnya putih bersih, ayu, geulis (baca : cantik) khas mojang priyangan. Ah… tapi dasar aku yang tolol, bukannya bersyukur mendapat durian runtuh dan bidadari jatuh dari langit, aku malah menolaknya secara halus. Dasar manusia bodoh! Padahal kalau mau cari yang serupa, pastilah sangat langka. Entahlah bagaimana perasaan gadis itu kala mendapat penolakan dariku itu. Tapi mungkin inilah sebabnya, saat ini ketika aku menaruh hati pada seseorang, hanya berhenti sampai mengagumi, bukan karena ditolak secara langsung dengan lisan, tapi ditolak secara halus dengan sebuah label “not available”. Mungkin inilah yang dinamakan dengan karma, kawan.

* * *

Hari keberangkatan pun tiba. Orang-orang di rumah sudah tak kuasa lagi menahan tangis, yang membuat seisi rumah seperti genangan air mata. yang juga akhirnya meresonansi diriku dan memaksa air mata ini jatuh terurai. Ku peluk setiap orang di rumah, nenekku, ibuku yang paling aku cinta, kemudian bapakku. Dan baru kali ini aku melihat bapak yang biasanya murka terhadap diriku kini sosok angkuh itu kini menangis lemas di bahuku. Jujur, aku pun tak kuasa lagi menahan panas kelopak mataku kala itu, ku peluk bapakku makin erat, dan pelukannya pun makin erat, kurasakan dekapan kasih sayangnya yang selama ini mungkin terpendam. Oooh… bapak.. ternyata lisanmu bisa kelu kala berpisah dengan anakmu ini. Aku hanya takut itu adalah pelukan pertama dan terakhir dari bapak kepadaku, dimana aku sangat merindukannya. Salam hormat dari anakmu ini untuk bapak yang dengan kegigihannya telah membesarkan diriku..!

Perjalanan pun segera dimulai. Akhirnya kami berlima : Agustianes Umbara Suwardi si profesor cilik, Eko Setyo Wibowo si manusia segala tahu, Livan Afriyanto si jenius ganteng, Radi Kurniadi si aburizal bakrie jr., dan terakhir diriku si bocah pengecut itu. Kami bertolak dari sekolah berangkat ke sebuah toko komputer “SIMA” dimana pemiliknya merupakan kenalan dari pemilik perusahaan yang akan kami kunjungi di Jakarta. Menurut keterangan sekolah, pemilik toko komputer tersebut diminta oleh pemilik perusahaan tempat kami PKL untuk mengantar kami ke tempat magang.

Singkat cerita sampailah kami di toko komputer yang dimaksud. Dan akhirnya bertemu dengan orang yang kami cari. Kawan… tahukah reaksi pertama dari bapak tersebut? Dengan terperangah beliau melihat kami datang dengan ransel-ransel besar seperti hendak berkemah. Kami berlima spontan saling tengok kanan kiri, menatap wajah penuh keheranan, mencium aura ketidakberesan ini. Satu pelajaran lagi dari peristiwa ini adalah : “Konfirmasilah sebelum bertindak”. Karena pemberitahuan berangkat awal Agustus itu adalah baru wacana bukan keputusan final. Pihak sekolah terburu mengambil kesimpulan dan kamilah yang ketiban sial.

Coba bayangkan betapa malunya jika aku harus kembali ke rumah karena alasan salah komunikasi. Huhu.. sudah tangis-tangisan tapi gak jadi berangkat. Hahaha.. kami terbahak-bahak membayangkan apa reaksi orang tua, tetangga, dan teman-teman sekelas kalo tahu hal ini. Dan yang jelas mau ditaruh dimana muka kami? Hahaha…! Hanya ada tiga kata untuk menggambarkan semua ini “kami sedang sial”. Ups.. mungkin itulah gunanya teman, kita bisa tertawa sekalipun berada dalam kemalangan. Tapi untunglah kami dijanjikan berangkat minggu depannya. Tapi apa yach yang akan kami lakukan selama satu minggu itu? Adakah plan B dari kami berlima? Ataukah kami kembali ke rumah masing-masing dengan menyembunyikan wajah?

to be continued…

Iklan
Posted in: Cerpen