Riwayat sang Jenius dan istri cantiknya

Posted on 18 Juli 2008

3



Tulisan ini telah dipublikasikan di http://www.pintunet.com

Januari lalu, saya mencari penjelasan tentang teori bilangan (walaupun saya bukan seorang matematikawan, tapi lebih karena rasa ingin tahu saja). Seperti biasa, paman Google dalam sekejap memberitahu ratusan bahkan ribuan referensi bacaan. Ada satu link yang menarik perhatian saya, http://www.abeautifulmind.com). Dengan rasa penasaran saya mulai menelusuri situs tersebut. Ternyata judul sebuah film yang cukup terkenal. Ha..ha..ha.. norak sekali yach baru tahu!! Sinopsisnya cukup menarik, sehingga keesokan harinya saya langsung mendownloadnya.

Film ini merupakan kisah nyata seorang pria yang dikarunia berbagai kelebihan. Mulai dari wajah yang tampan, perawakan yang tegap dan gagah, serta kejeniusan yang luar biasa. Bahkan seiring bertambahnya waktu, dia dikaruniai pula istri yang selain cantik juga terbilang sangat cerdas, dan dari keluarga konglomerat. (Subhanallah, komplit banget tuh nikmat). Feeling saya, harusnya orang seperti dia dibuatkan biografinya. Dan ternyata dugaan saya benar, ada dalam bentuk novel. Tak ragu lagi saya membelinya di toko buku online kepercayaan saya (tentunya dengan harga diskon dan diantar ke rumah ^_^). Sebelum saya menonton filmnya, saya lebih tertarik menyelesaikan novel karangan Silvia Nassar tersebut terlebih dahulu (maklum senangnya baca sih, apalagi kan novel biasanya lebih lengkap dari filmnya)

Sedikit komentar antara Novel dan Filmnya
______________________________________________________________________________

Seperti yang dimaklumi bersama, bahwa adalah sebuah kesulitan untuk mendeskripsikan sebuah novel kedalam bentuk film. Banyak peristiwa-peristiwa, adegan-adegan yang tidak mampu untuk divisualisasikan. Film ini pun tidak ubahnya seperti hal diatas. Ada beberapa adegan yang ketika saya membaca novelnya, ingin saya lihat, diantaranya masa kecil dan kenakalan-kenakalan remajanya, serta hubungannya dengan keluarga yang ternyata tidak diulas di film ini. Walaupun demikian, cukup menariklah untuk ditonton, selain memberikan kita gambaran tentang kehidupan orang yang telah berjasa dalam kehidupan kita (secara tidak langsung), juga film ini mengandung unsur-unsur teladan yang patut ditiru. (Tapi kalau mau lebih gamblang lagi, ya beli aja novelnya. ^_^, di toko yang berdiskon yach supaya lebih hemat!)

Nilai positif yang saya dapat
______________________________________________________________________________

Dua karakter kuat dalam film ini, mungkin tidak akan hilang dari ingatan saya. Apalagi saya menontonnya tak kurang dari 8 kali (mumpung sejak awal Februari lalu ada tugas luar kota, jadi waktu malam digunakan untuk nonton film-film yang sebelumnya saya kumpulkan dan menurut saya mengajarkan moral dan menambah pengetahuan). Dua karakter itu adalah :

Karakter pertama : Nash
John Forbes Nash Jr. seorang jenius yang menghasilkan banyak sekali karya, diantaranya : penemu Teori Permainan (Game Theory), penemu perilaku rasional, matematikawan yang menjabarkan ekuilibrium atau kesetimbangan Nash yang merupakan solusi ekonomi yang lebih canggih daripada metafora Invisible Hand oleh ekonom terkemuka Adam Smith, Nash pula pernah mengembangkan metode-metode penyelesaian diferensial parsial yang lebih sempurna.

Pria tampan nan gagah ini merupakan salah satu mahasiswa Princeton University yang memulai kuliahnya pada September 1947. Di sekolah para jenius itu, Nash sekamar dengan Charles, teman terbaik yang banyak mendukung studinya. John Forbes Nash Jr. yang memiliki nama kesayangan Jonny ini memiliki obsesi untuk menemukan sebuah teorema hasil pemikirannya sendiri (original thinking) tanpa terpengaruh dan bergantung pada teorema yang telah ada. Dia lebih suka belajar dan bereksprimen sendiri ketimbang hadir di kelas yang menurutnya memuakkan.

Bertahun-tahun sudah Nash di Princeton, tapi obsesinya belum juga terealisasikan. Nash mulai kalut, teman-teman dan profesor pembimbingnya merasa bahwa itu adalah suatu hal yang menyusahkan diri, kenapa tidak mencari yang mudah saja, toh gelar doktornya masih dapat diraih? Untunglah Nash yang hampir putus asa itu memiliki teman sekamar yang selalu membesarkan hatinya. Charles sering mengajak Nash ke bar. Namun siapa sangka di bar tersebut justru Nash berhasil menemukan solusi untuk teorema yang selama ini dia cari-cari. Sebuah teorema tentang kesetimbangan yang teruji lebih baik dari teoremanya ekonom terkemuka Adam Smith. Saya masih teringat bagaimana ekspresi Nash ketika itu, saya seolah-olah merasakan perasaan Nash saat itu, mungkin persis ketika saya berhasil menemukan sebuah solusi untuk problem solving algorithm, atau bahkan Nash jauh lebih bahagia lagi.

Akhirnya Nash lulus dan mendapatkan gelar doktornya dengan sempurna. Bagi orang sejenius Nash, pastilah banyak institusi yang mencarinya. Namun dia lebih memilih tawaran menjadi staf pengajar di universitas cukup terkenal, MIT. Ups lupa, menceritakan satu hal. Tidak ada gading yang tak retak. Begitu pula Nash, dia tidak suka bersosialisasi, sedikit sombong sehingga menganggap rendah orang lain. Hal inilah yang membuatnya kurang disukai oleh teman apalagi mahasiswa-mahasiswanya. Sikapnya sering acuh tak acuh.

Cerita klimaksnya terjadi ketika dimasa gemilangnya, Nash mendapat ujian hidup dimana ia terserang sebuah penyakit Skizofrenia. Penyakit yang menguasai benaknya. Nash sering mengalami halusinasi yang membuatnya dianggap gila oleh orang lain. Dia ditugasi menjadi agen pemecah kode rahasia yang dikirimkan Rusia pada majalah dan surat kabar untuk mencegah terjadinya perang nuklir. Atas tugasnya itulah Nash sering diincar oleh pasukan musuh. Namun sekali lagi, itu hanya ada dalam benak John Nash. Bagi Nash hal itu adalah nyata.

Penyakitnya kian lama kian parah, walaupun Nash sudah beberapa kali keluar masuk rumah sakit jiwa dan menjalani terapi kejut, Nash belum juga sembuh. Titik baliknya terjadi pada sebuah kejadian dimana Nash mendorong istri dan anaknya dengan bermaksud menyelamatkan mereka dari tembakan, Nash akhirnya sadar bahwa ada yang salah dalam pikirannya (mind). Namun Nash tidak mampu berbuat apa-apa, hidupnya tetap dihantui oleh otoritas benaknya. Kariernya ambruk, ia hampir dilupakan, bahkan mahasiswanya seringkali mengolok-olok tingkah lakunya.

Nash pun dengan keras hati, mencoba melawan halusinasinya. Kadang ia harus bertindak tidak sesuai dengan hati nuraninya, dan itu dilakukannya semata keinginannya yang kuat untuk sembuh. Mencoba membedakan kenyataan dan dunia halusinasinya. Setelah perjalanan yang amat panjang, di sisa-sisa umurnya, akhirnya Nash mendapatkan berbagai keajaiban. Selain sembuh dari penyakit yang membuatnya tak berdaya itu, Nash juga pada Desember 1994 dianugerahi hadiah Nobel atas karyanya yang terdahulu.

______________________________________________________________________________

Karakter kedua : Alicia
Bukan Alyssa yach! (Kalau ini mah, entah anak kesayangannya siapa yach? ^_^). Alicia Larde adalah gadis tercantik di MIT saat itu. Tidak hanya cantik parasnya, dia pun paling pandai diantara mahasiswi yang lain. Gadis serba mapan ini, tersihir oleh pesona Nash. Wajar kali yach! Siapa lagi yang tidak mau sama pria super komplit seperti Nash?

Suatu saat Nash datang ke kelasnya (seperti biasa) dengan membawa buku sangat tebal. Nash segera menutup jendela-jendela kelas untuk mengurangi suara bising dari luar, padahal saat itu cuaca sangat panas. Tentu saja hal ini membuat mahasiswanya kegerahan, sehingga tidak sedikit yang meminta agar jendela dibuka kembali. Namun Nash seolah tidak menghiraukannya.

Alicia dengan pembawaan karakter tenang, kemudian berdiri. Dengan sepatu hak hitamnya yang khas dan menambah feminim parasnya, berani membuka jendela satu persatu. Nash awalnya merasa kesal, namun Alicia menunjukkan kepandaiannya dalam berbicara sehingga Nash terdiam lalu segera melanjutkan kuliahnya, namun sang mahasiswi tak sedikit pun melepaskan pandangannya hingga duduk memandangi sang dosen pujaannya.

Suatu ketika Alicia masuk ke ruangan Nash, sambil menyerahkan tugas, Alicia mengajak sang dosen untuk makan malam. Begitu kaget plus senangnya Nash mendengar hal tersebut. Nash tidak mengira sama sekali ada mahasiswi yang tertarik kepadanya. Yang lucunya, Nash malah belum tahu nama Alicia saat diajak makan malam tersebut. Singkat cerita, Nash akhirnya menikahi Alicia sekitar tahun 1953. Satu pasangan yang serasi. Yang satu professor yang tampan dan satu lagi fisikawan muda yang cantik.

Apa sih yang diinginkan seorang istri setelah memiliki suami yang diidam-idamkannya? Tentunya sebuah keluarga yang bahagia, suami yang terus menyayangi dan melindunginya. Namun semua itu hanya dirasakan sekejap saja oleh Alicia, semua yang diimpikannya terenggut oleh penyakit yang menyiksa sang suami, yang menjatuhkan nama baik Nash, dan menelangsakan hidup mereka. Beruntunglah Nash, sebab selain didampingi oleh wanita tercantik parasnya, cantik kepandaiannya, juga cantik cinta kasih dan kesabarannya.

Disaat istri-istri yang lain mungkin sudah meninggalkan suaminya yang ‘gila’, Alicia justru sebaliknya berusaha menyembuhkan dan memberi semangat kepada sang suami. Alicia harus mengorbankan segalanya, mulai dari jabatan pekerjaannya yang terhormat, hartanya yang melimpah, dan menyerahkan sebagian besar waktunya untuk merawat Nash, dan tentunya (maaf) kebutuhan seksualnya yang terabaikan. Semua itu ia korbankan demi kesembuhan Nash, demi karier sang genius.

Siapapun yang jeli melihat karakter Alicia ini pasti akan terenyuh hatinya. Dan itupun diungkapkan oleh Nash disaat acara ceremonial penerimaan hadiah Nobel. Dengan nada bangga dan menahan tangis haru, Nash yang berdiri di depan podium mengatakan kepada ribuan ilmuwan-ilmuwan dan para hadirin bahwa dia dapat sembuh dan tetap hidup, tidak lain adalah karena perjuangan seorang wanita yang begitu tegar yang sangat berarti baginya, yaitu Alicia. Spontan Alicia tak dapat menahan linangan air matanya. Akhirnya karier yang ia korbankan, masa muda yang ia habiskan, tergantikan oleh kesembuhan sang suami tercinta. Sungguh wanita yang luar biasa.

Behind the Scene
______________________________________________________________________________

Walaupun tidak ada efek-efek animasi, efek kamera, apalagi action-action (bagi yang senang film animasi dan action), tapi ada beberapa hal yang patut dipuji untuk film produksi Universal Pictures dan Dream Works ini, diantaranya :

John Forbes Nash Jr. diperankan dengan sangat baik oleh aktor Australia Russel Crowe. Selain wajah dan perawakan yang cukup menyerupai John Nash, Russel Crowe dapat memerankan semua adegan-adegan dengan sempurna, baik ketika dia muda, maupun ketika menjadi seorang yang sudah lanjut. Ekspresinya top degh! Begitupun peran Alicia Nash yang dibawakan oleh Jennifer Connelly

Sang sutradara, mampu menghadirkan latar yang pas, walaupun ada adegan dimana Nash pergi ke bar dan menemukan teori untuk gelar doktornya disana. Padahal dalam novelnya, tidak diceritakan bahwa di kampus Princeton ada sebuah bar untuk berkumpulnya mahasiswa-mahasiswa, yang ada adalah jamuan teh antar pecinta teori permainan, dan matematikawan lainnya. Btw untuk latar yang lainnya, sip!

Theme song dan backsound-nya enak juga (emang makanan!!! ^_^), apalagi dapat membangkitkan perasaan haru ketika nada itu mengiringi pengucapan Nash saat menerima penerimaan hadiah Nobel. Hah, jadi membuat saya sedikit menangis haru juga.

Terakhir, salut pada team make-upnya yang mampu mengubah Russel Crowe yang ganteng dan berotot, juga Jennifer Connelly yang cantik dan kulit kencangnya menjadi bener-bener kelihatan tua dengan kulit yang tidak lagi elastis.

Walaupun beberapa cerita sedikit terdistorsi, tapi ini suatu tontonan yang cukup bermanfaat untuk disaksikan. Terutama bagi mereka yang berkecimpung di dunia psikologi, ekonomi, serta ilmu sains lainnya. Oh.. ya! Apalagi bagi kaum hawa, kapanlagi menyaksikan film tentang pria ganteng, gagah, jenius dan kaya ^_^ serta semua itu benar-benar ada dan terjadi

Iklan
Posted in: Film & Music