Penganiayaan (terus-terusan) di angkutan umum Jakarta

Posted on 12 Juli 2008

4



Tulisan ini telah dipublikasikan di http://www.pintunet.com

Hari itu ( Sabtu, 31 Mei 2008 ) aku berangkat ke kampus sambil niat mengisi waktu luang dengan membaca buku di angkot. Matahari Jakarta seperti biasa menunjukkan kegarangannya, menyengat ubun-ubunku hingga terasa mendidih, namun dengan setia aku menunggu angkot yang akan mengantarkanku menuntut ilmu itu.

Lagi-lagi, untuk yang kesekian kalinya, aku dibuat tertawa nyinyir melihat angkot berwarna hijau-putih itu menampakkan diri. Bukan hanya gara-gara angkot yang akan kunaiki itu sudah butut bukan kepalang melainkan juga tengah dijejali orang-orang. Dengan mengucap basmalah kulandasan kaki kanan kemudian kaki kiriku di pintu mini bus reot itu. Kulihat sejenak sekeliling, tengah penuh sesak, seandainya pun ada kucing di tengah-tengah kerumunan ini, maka dipastikan binatang malang itu telah mati terhimpit dan menemui ajalnya.

Semua kursi tak berbusa itu telah penuh diduduki, keringat di kening dan sepanjang leher orang-orang yang duduk itu mengisyaratkan betapa mereka telah duduk lama disitu dan merasakan pengap yang luar biasa. Make-up seorang gadis remaja yang mungkin akan pergi bersama pacarnya itu telah memudar disiram keringat dan tersapu basuhan tangannya. Pun tak ketinggalan lebih menderita lagi orang-orang yang berdiri, termasuk diriku, bukan hanya keringat yang mengucur di sekujur tubuh yang tentunya menambah “harum” aroma angkot jadul itu, tapi juga wajah kusut menahan pegal tangan yang telah lama bergelantung di besi panjang, dan juga kaki yang silih berganti kesemutan. Di angkot yang sudah karatan itu pula kami harus berbagi udara yang sama, apa yang kuhirup adalah yang dikeluarkannya, dan yang dihirupnya adalah udara yang ku keluarkan. Inilah cermin salah satu transportasi umum (yang mungkin) terbanyak di ibu kota negara kita kawan!

Tapi tunggu,
bukan itu satu-satunya kemalangan mereka, lebih tepatnya kami (karena aku pun makin lama makin merasakan apa yang mereka rasakan). Angkot itu berjalan seperti keong, lamban sekali. Ku lihat seorang tukang sampah menarik gerobaknya, dan si angkot super lemot ini tidak bisa menyusulnya sedikitpun. Maka jangan heran, mobil dan motor yang berbaris di belakang angkot ini, tak henti-hentinya membunyikan klakson dengan kesal. Tapi tentunya yang berhak kesal itu adalah kami bukan?, waktu telah terbuang, kaki pegal-pegal, ditambah bunyi klakson tidak karuan. Komplit sudah…! Ku perhatikan, tiap orang yang memiliki jam tangan, sudah berkali-kali melongok menit-menit yang ia lalui. Keluh kesah terdengar disana sini meskipun samar, tapi anehnya kenapa tidak ada yang berani menegur si sopir? (termasuk diriku)

Sang sopir seakan menikmati perjalanan santainya itu. Tak sedikit pun ia hiraukan klakson-klakson yang meneriakinya. Entahlah apa yang ada dalam pikirannya, apakah ingin membuat penumpangnya santai?, hingga saking santainya membuat kami memaki-makinya dalam hati, ataukah karena ingin menarik penumpang lebih banyak lagi? walaupun nyatanya tidak ada sama sekali. Tak lama di tengah kebisuan kami, si kenek yang kurus ceking itu berteriak, ” 42…42…42… ” Spontan seluruh mata tertuju padanya, bak artis di tengah penggemarnya. Namun serentak keseimbangan kami oleng, kami tersentak kebelakang sejadi-jadinya karena jiwa pembalap sang sopir kini telah bangkit. Dengan sekonyong-konyong, dia menancap gas. Tak dia hiraukan jalanan lurus ataukah berliku, speedometer-nya tetap pada angka yang sama. Kami pun berpegang erat pada apapun yang kira-kira bisa kami jadikan tumpuan agar tak terpelanting. Perasaan tegang menyelimutiku, begitu pula mungkin pada penumpang yang lainnya. Kami berharap angkot ini memang dikemudikan oleh seorang pembalap kelas kakap yang tidak akan melakukan ketololan, sebab nyawa kami jadi taruhannya saat ini. Dan sekali lagi, tidak ada satu pun orang yang berani menegur sang pembalap jadi-jadian ini.

Entahlah, aku tak mengerti arti angka 42 atau angka lain yang diteriakkan si kenek, yang jelas, begitu dia berteriak, sebuah angkot yang sama muncul di belakang. Ya.. memang seperti itulah kawan bila angkot-angkot itu bertemu, jiwa pembalap mereka langsung bergelora. Sebuah balapan liar dengan menaikkan penumpang sebanyak-banyaknya dengan tetap berada di paling depan. Bila nyawa kami saja mereka anggap remeh apalagi kehormatan kami. Bila ada penumpang yang hendak naik, bukannya di gelar karpet merah menyambut kedatangan raja yang akan membayarnya, melainkan sebuah suruhan dan cacian, ” Cepat dong pak…! Lari…lari.. jangan pake lama “. Dan kami pun dijejali terus sampai membludak. ” Pak geser dikit dong, masuk sana masuk..! “. Padahal kami sudah rapat serapat-rapatnya. Pernahkah kawan melihat mobil pembawa ayam potong, dimana ayam-ayamnya terus dijejali ke kandang bambu yang sempit dan berlubang, hingga kepala ayam-kepala ayam itu menohok keluar dari lubang kecil. Ya.. kami tidak ubahnya seperti ayam-ayam malang itu.

Pun bila ada penumpang yang akan turun, maka kami harus dengan rela memaafkan jika ada kaki yang terinjak, kenyamanan yang terganggu, apalagi jika yang turun itu memiliki badan yang tergolong makmur (baca : gemuk). Dan sebelum turun, seperti biasa sang kenek menghadiahi kata perpisahannya yang populer ” cepat bu.. cepat…! ” sambil mengadu-ngadu uang logam dengan besi yang memanjang di angkot itu sehingga terdengar nyaring. Tapi kami sepakat, bila yang turun adalah nenek-nenek atau ibu-ibu yang membawa anak atau menggendong bayi, kami serentak unjuk gigi, ” tunggu.. tunggu.. orang tua… ” atau ” tunggu… tunggu… bawa anak “.

Kawan… di sinilah kami “dianiaya”, tapi anehnya kami tak bergeming. Seakan rela begitu saja menerima semua ini. Di sinilah tempat dimana intelektualitas tak berpengaruh apa-apa menghadapi dua sejoli yang secara umum tingkat intelektualitasnya lebih rendah daripada kami. Di sini pula tempatnya dimana kuantitas tidak menjamin kemenangan kelompok, buktinya kami yang secara kuantitas lebih banyak puluhan kali lipat, tidak berdaya menghadapi dua sejoli itu. Bila pun kami akan melawan, poster-poster mereka telah disiapkan, ” ANDA BUTUH WAKTU, KAMI BUTUH UANG

Entahlah kami harus mengadu kepada siapa kemalangan kami ini. Siapakah yang mau bertanggung jawab atas semua ini? Negara / pemerintah daerahkah? Yang tidak bisa memberikan transportasi yang layak. Ataukah pemilik angkutan perkotaan? Yang hanya mencari untung dan terus menaikkan uang setoran. Ataukah montir-montir? Yang selalu bisa menghidupkan mobil-mobil tua yang seharusnya sudah diistirahatkan. Ataukah para sopir? Yang hanya berusaha mencari uang untuk menutupi sewanya.

Sangat mudah bagiku untuk lari dari penganiayaan ini kawan!. Apalagi kredit motor di negara ini, mudahnya bukan main. Tapi bila aku benar-benar melakukannya, aku justru menambah deretan daftar penganiaya itu. Ya, penganiayaan terhadap bumi dan ekosistem. Kuraslah bahan bakar terus, sebarlah polusi dimana-mana, perbesarlah terus sumber pemanasan global, tak puas satu kendaraan, belilah lagi untuk anggota keluargamu yang lain. Tidak… tidak…! Aku sekali-kali tidak akan terbuai oleh keinginan menyamankan diri, dengan mengorbankan kehijauan bumi ini. Biarlah ubun-ubunku mendidih menunggu kedatangan angkot toh bisa kupakai topi, biarlah aku berdesak-desakkan dengan penumpang lain yang satu tujuan toh aku bisa memperbanyak teman, biarlah aku panas bermandi keringat toh itu pembuangan bakteri, biarlah sang sopir mengemudikan mobilnya seperti keong toh aku bisa belajar bersabar, biarlah sang sopir menjadi pembalap jalanan toh aku serasa bermain di film Speed, biarlah si kenek itu mencaci toh itu ladangku untuk ikhlas memaafkan.

Setidaknya aku (salah satu dari 6 milyar orang di planet yang bernama BUMI ini) telah menyumbang beberapa centimeter kubik dari seluruh alam ini, agar bumi tetap HIJAU.

Yeee.. akhirnya tulisan ini pun tak jelas arahnya, mau mengkritisi angkot ibu kota, ataukah tentang menjaga bumi agar tetap hijau. Ya sudahlah, anggap saja hari ini saya berbagi es teler.. (segala macam dicampur aduk) ^_^ Tuh kan, jadi lebih ngaco lagi…!! bawa-bawa es teler segala yang malah bikin ngiler.

Iklan
Posted in: Opini