Dibalik Satu Masalah terdapat Banyak Solusi

Posted on 22 Mei 2008

7



Di saat harga minyak makin membumbung tinggi. Di saat banyak orang mengkhawatirkan kehidupan dirinya esok hari dengan kenaikan harga BBM. Saya lebhi memilih tidak cukup ambil pusing dengan yang satu ini. Berjalanlah…! Mau naik ya naik, mau tidak jadi ya tidak jadi. Toh yang mengatur hidup bukanlah para pejabat pengambil keputusan. Toh bila pun saya harus mati kelaparan, Allah yang telah menentukan. Yang penting bagi saya, bagaimana hari yang saya jalani ini mendapat ridha dari Allah. Yang terpenting adalah bagaimana saya mati dalam keadaan ber-jihad (walau tidak bisa mati terhunus pedang, tapi insyaAllah bersungguh-sungguh menuntut ilmu demi kemajuan umat tergolong pula dalam jihad).

Saya yakin bahwa Allah-lah penggenggam tiap ubun-ubun semua insan. Dialah yang Maha Menentukan takdir seseorang. Jadi kenapa mesti ragu dan pesimis menatap masa depan. Saya memaknai benar firman Allah, “dibalik kesulitan ada kemudahan”. Allah telah menulis dan menetapkan, tinggal bagaimana kita mengambil sikap. Ah.. sudah ah.. kepanjangan nantinya. Sekarang, ingin menggali ilmu lagi.

Allah menciptakan semua yang ada di alam ini dengan SEMPURNA. Tidak ada yang sia-sia satu pun penciptaannya, tidak ada satu noktah pun yang cacat. Kitalah sebagai khalifah di bumi-Nya yang harus mengali terus dan memanfaatkannya sebaik mungkin. Berkaitan dengan sumber energi, saya terkesima oleh semangat pemuda Palestina, yang kemarin mengganti bahan bakar mobil dari bensin menjadi baterai. Sungguh luar biasa, dalam tekanan biadab Israel, subsidi BBM di sendat, tapi justru hal itu dapat membangkitkan pemuda-pemuda Palestina untuk makin melejitkan potensinya. Ada banyak sumber energi yang sebenarnya bisa kita olah, manfaatkan, diantaranya air, angin, matahari, tumbuh-tumbuhan, bahkan kotoran sekalipun bisa dibangkitkan menjadi sumber energi.

Kali ini matahari menjadi sorot pembicaraan saya. Dulu saya terkaget-kaget ketika salah satu paman saya menggunakan sebuah kalkulator. Tak percaya setengah mati, kalkulator itu bisa beroperasi tanpa sumber energi berupa batu baterai. Kini setelah salah satu pita kebodohan itu terlepas, saya jadi ingin menertawakan saat-saat dulu, betapa bodohnya, ternyata sumber energi kalkulator itu dari cahaya, yang dikenal dengan istilah solarcell / photocell. Solarcell ini awalnya digunakan pada kalkulator, satelit dan pesawat-pesawat luar angkasa.

Prinsipnya adalah sederhana, memanfaatkan keajaiban sebuah bahan. Salah satunya, dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah SILIKON. Sebuah atom yang banyak tersedia di alam. Ambillah segenggam pasir kuarsa, berapa harganya? (mungkin bagi kita tidak berharga) Tapi pasir tersebut setelah diolah, diambil atom silikonnya kemudian di oksidasi, maka jadilah banyak hal, yang paling ajaib adalah, pasir tersebut kini telah menjadi processor, komponen-komponen elektronik (termasuk diantaranya solarcell). Subhanallah…!!

Sebuah solarcell sebenarnya memanfaatkan keajaiban atom silikon tersebut, dimana dua tipe bahan yang berbeda, tipe-P dan tipe-N direkatkan, maka pada lapisan antara kedua bahan tersebut akan terbentuk sebuah lapisan kosong, depletion layer, yang membuat atom-atom tidak bisa mengalir antara kedua bahan tersebut.

Namun, ketika ada sebuah energi dari luar yang cukup dapat merangsang bahan tersebut untuk meloncatkan atomnya melewati depletion layer itu, maka terbentuklah aliran elektron dan aliran hole yang kita fahami sebagai gejala kelistrikan. Energi dari luar itu, salah satunya adalah cahaya matahari.

Tidak begitu besar, arus dan tegangan yang dihasilkan oleh solarcell ini, tapi bukan berarti tidak mungkin untuk menjadikannya sebagai energi alternatif bukan? Jawabannya simple, gabungkan saja ribuan solarcell untuk membentuk ladang photovoltaic, maka se-kampung bisa memanfaatkan listrik yang diperoleh dari cahaya matahari.

Hal ini bukanlah hal yang baru, toh di negara-negara maju seperti Jepang, Jerman, Amerika, Australia, Spanyol, dan negara-negara eropa lainnya telah memanfaatkan teknologi ini. Ups.. lupa denk…! di sebagian wilayah Indonesia pun sudah ada yang memanfaatkannya loh. Teman saya bahkan menjadi leader untuk proyek tersebut di daerah terpencil yang belum terjamah listrik.

Kalau kita melihat dari negara-negara yang telah memulai proyek ini. Di Moura Photovoltaic Power Station dibangun ladang solar panel terbesar di dunia dengan target asupan energi sebesar 62 Mwp. Di Serpa Solar Power, Eropa, 150 hektar tanah dibuat area untuk memasang 52.000 panel photovoltaic yang bisa menghasilkan 11 MegaWatt. Di Saxon, Jerman, dapat menghasilkan 40 MegaWatt di area Waldpolenz Solar Park dengan 550.000 unit photovoltaic. Di Spanyol bahkan dibangun ladang photovoltaic di tiga wilayah sekaligus yang rata-rata, 22 MegaWatt. Dan di Australia dengan biaya USD 420 juta dibangun ladang photovoltaic yang bisa mencapai 154MegaWatt di lokasi yang dinamakan Victorian Power Station. Ladang ini bisa memenuhi kebutuhan listrik untuk 45.000 rumah.

Kelebihan dari penggunakan ladang photovoltaic ini diantaranya adalah : bebas polusi, emiso karbon sampai nol persen. Dan jika dibandingkan dengan sumber energi nuklir, maka teknologi photovoltaic masih jauh lebih murah. Namun, jika dilihat kelemahannya, maka tentu kita akan berpikir biaya awal yang tentunya sangat mahal (walaupun untuk beberapa tahun kemudian hal ini tentunya memberikan penghematan yang luar biasa). Kelemahan yang lainnya adalah tidak tersedianya energi matahari saat malam, dan sedikit pasokan saat cuaca mendung. Hal ini mengharuskan membuat pula sistem penyimpan daya. Terakhir adalah dibutuhkan inverter untuk mengkonversi tegangan dari DC ke AC.

Jadi mengkhayal pengen buat rumah yang bisa memanfaatkan energi matahari ini. ^_^

Sumber :
wikipedia.org
okzone.com
howstuffworks.com

Iklan