1 – 2 = 11

Posted on 29 April 2008

6



Segala puji bagi Allah yang Maha Luas Pengetahuan-Nya, yang telah menganugerahkan dua genggam “daging ajaib” kepada kita. Pertama, adalah hati, tempat insan melabuhkan rasa, pembeda antara yang baik dan yang buruk, pemilih antara yang haq dan yang bathil. Kedua, adalah otak, tempat manusia mencurahkan ilmu dan akalnya, jalan bagi sang hati menuju kepada kesucian, dan katalisator pengetahuan yang tersemburat dalam sains.

Teramat sombong siapapun yang menganggap dirinya benar, dan teramat nista bagi siapapun yang selalu menyalahkan orang lain yang tidak sefaham dengannya. Perbedaan pendapat telah banyak mengatarkan kita kepada peperangan antar saudara, saling tuding, saling hujat, akhirnya saling bunuh. Pun orang tua yang selalu merasa benar sendiri, telah banyak membuka ketidakharmonisan dalam keluarga.

Kita terlalu banyak melempar kata, hingga lupa tugas mendengar. Kita terlalu sering menilai orang, hingga lupa menghitung diri. Bukankah Allah telah menganugerahkan satu lubang mulut saja untuk berucap, dan Dia melipatgandakan lubang untuk mendengar.? Tapi mengapakah, justru lubang pendengaran kita masih saja sepi, malah lebih banyak menyusun antrian untuk mengucap ribuan kata.

Sang Maha Pencipta telah menganugerahkan kepada kita dua genggam “daging ajaib” ini. Yang masing-masing dari kita diberikan “warna” yang tidak sama dalam memandang dunia. Yang dengan warna-warni itu, Sang Pencipta “mengharap” kehidupan menjadi lebih indah, walaupun bukan sekelas Surga.

Bagaimanakah menurut Anda, jika saya mengatakan bahwa 1 – 2 = 11 (satu dikurang dua sama dengan sebelas)?

Apakah Anda kaget terheran-heran?
Ini wajar

Apakah Anda akan menjauhi saya?
Ini mungkin masih mending

Apakah Anda akan menghardik saya?
Ini juga masih belum parah

Ataukah Anda akan menghakimi, dan “menghilangkan” diri saya karena takut anak-anak, dan saudara-saudara Anda mengikuti saya?
Wah, terlalu membesar-besarkan kali ya!

Persoalan diatas adalah secuil contoh kecil perbedaan pendapat yang sering kali tidak disikapi secara arif oleh kita. Dalam dunia riil permasalahannya tidak lagi semudah persoalan yang saya ungkapkan, bisa jadi lebih kompleks bahkan dapat menyulut emosi. Sekali lagi, kita telah terkurung oleh cara berpikir kita, dan melupakan bahwa orang lain pun memiliki pemikiran yang beragam. Pendapat kita memang benar, tapi bisa jadi mengandung kesalahan. Pendapat orang lain pun bisa jadi salah, tapi mungkin mengandung kebenaran.

Hal terbaik yang diajarkan oleh Rosulullah adalah Mufakat. Sebuah keputusan, kesimpulan yang diambil atas pemahaman beberapa pihak dalam memandang sesuatu hal. Seorang bijak berkata, dua otak lebih baik daripada satu. Ini menunjukkan kepada kita, sebuah keharusan untuk memahami pola pikir orang lain, dan untuk bisa memahami tersebut dibutuhkan kemampuan empati (alias mendengarkan dengan seksama dengan segenap rasa dan akalnya).

Paragraf lanjutan yang akan saya tulis ini berisi pendapat saya tentang judul yang saya berikan. Apakah Anda termasuk orang yang sudi mendengarkan pendapat saya, ataukah Anda telah mengambil keputusan dan mem-vonis saya? Pilihan itu ada di tangan Anda. (Tapi saya yakin, Anda akan membacanya ^_^)

Jika saya adalah seorang manager yang sangat menghargai waktu, maka 1 – 2 = 11 adalah benar. Kenapa? Karena jika : jam 1 kurang 2 jam sama dengan jam 11.

Jika saya seorang perancang algoritma komputer, maka 1 – 2 = 11 adalah benar. Kenapa? Karena bila 1 – 2 adalah -1 (dalam bentuk bilangan desimal), tapi karena di komputer tidak ada angka minus dan hanya mengenal angka biner maka hasilnya adalah 11 (dengan 2 digit biner).

Keduanya adalah buah pemikiran saya, Anda sebagai makhluk yang unik (tidak ada yang serupa) maka tentu punya pendapat lain. Yang jelas, 1 – 2 tidak mutlak nilainya -1 (minus satu). Bahkan sangat mungkin segala hal yang ada dialam ini, tidak persis dipandang sama oleh semua orang. Jadi marilah kita hentikan sikap merasa benar sendiri! Toh yang Maha Benar yang tidak pernah luput dari noktah kesalahan hanyalah Allah. Tiada Tuhan Selain-Nya.

Jika kita menghadapi anak yang berkata, “Pot bunga itu bisa bicara

Jika kita menghadapi teman yang membutuhkan pinjaman uang, tapi kita melihatnya masih mapan bahkan sempat mentraktir teman-teman yang lain.

Jika kita menghadapi atasan yang menurunkan gaji semua karyawan

Jika kita menghadapi bawahan yang tidak menyelesaikan tugas sesuai prosedur

Bagaimanakah sikap Anda menghadapi kondisi seperti itu? Telinga ataukah Lisan yang Anda jadikan “penuntun” dua genggam “daging ajaib” kala itu? Ataukah Anda memilih yang ketiga, OTOT?

Selamat membuka diri dan hati Anda untuk mendengarkan pendapat orang lain.

Iklan