Hukum Newton I = Hukum Perubahan Aklaq

Posted on 27 April 2008

3



Pasti masih ingat dong dengan salah satu teorema Fisika yang telah banyak mengubah peradaban dunia. Salah satunya adalah teorema yang diungkapkan oleh Newton. Dalam Hukum Newton Pertama, disebutkan :

Lex I: Corpus omne perseverare in statu suo quiescendi vel movendi uniformiter in directum, nisi quatenus a viribus impressis cogitur statum illum mutare.

Every body perseveres in its state of being at rest or of moving uniformly straight forward, except insofar as it is compelled to change its state by force impressed

bahwa : Benda yang diam akan terus diam, dan benda yang bergerak akan terus bergerak, hingga ada gaya luar yang mempengaruhinya. Atau jika ingin enak memandangnya, bisa dilihat dari persamaan kalkulusnya.

Benda yang saat ini dalam keadaan diam, akan terus diam. Sampaaaaai…. benda tersebut kita berikan gaya (misalnya berupa dorongan). Nah.. akan tetapi pada hukum pertama Newton ini pula, disebutkan bahwa benda yang bergerak pun akan terus bergerak. Lalu kenapa ketika kita telah mendorong sebuah benda, benda tersebut tidak bergerak terus?

Jawabannya adalah karena ada gaya gesek yang ditimbulkan antara permukaan dengan benda yang sedang bergerak tersebut. Di dunia ini, tidak ada permukaan rata atau halus yang dapat mengeliminir gaya gesek (bahkan kaca sekalipun memiliki gaya gesek walaupun ukurannya kecil sekali). Sekali lagi, kalimat lengkap dari hukum Newton I adalah : Benda yang diam akan terus diam, dan benda yang bergerak akan terus bergerak, hingga ada gaya luar yang mempengaruhinya.

Sekarang, apa hubungannya Hukum Newton I ini dengan perubahan akhlaq?

Dulu ketika, saya harus tugas di Tangerang selama beberapa bulan, dimana saya harus berangkat pukul 5 pagi. Rasanya sangat mudah untuk bangun jam 3 pagi, melaksanakan sebentar shalat tahajud, tilawah Al-Quran, kemudian pergi ke mesjid untuk shalat Shubuh berjamaah, bahkan kadang-kadang menyempatkan berolah raga. Kebiasaan itu pun berlanjut terus cukup lama, sekalipun kerjaan saya pindah kembali ke Jakarta, dimana jarak kontrakan dan kantor hanya ditempuh dalam waktu 5 menit (dengan berjalan kaki).

Sekali lagi, hukum Newton Pertama itu, membuktikan kekekalan hukumnya dalam segala hal. Seseorang yang terbiasa bangun pagi, akan terus dapat bangun pagi. Dan kini, kelengkapan hukum Newton tersebut, meyakinkan diriku. Beberapa bulan yang lalu saya ditimpa sebuah “tragedi” yang membuat satu hari (saja) dalam hidup saya menjadi sedikit pemalas. Mula-mula malas untuk membaca buku, kemudian berlanjut menjadi malas untuk shalat tahajud, kemudian malas untuk tilawah, dan sekarang, malas untuk bangun pagi. Seusai shalat shubuh, empuknya kasur ternyata mampu merayuku untuk meneruskan tidur pagiku, walaupun hanya satu jam.

Hm… sialnya Hukum Newton itu pun berlaku disini, sesuatu yang dalam keadaan diam (stagnant) akan terus dalam keadaan diam, hingga ada gaya luar yang mempengaruhinya.

Yups, hari ini harus membuat sebuah perubahan kecil, membentuk sebuah gaya yang akan mempengaruhi kebiasaan burukku itu. Apa kuncinya?

PAKSAKAN! Karena yang paling berat untuk melakukan gaya itu adalah waktu-waktu awal saja. Bayangkan ketika mendorong sebuah meja yang cukup berat. Awalnya dibutuhkan tenaga ekstra untuk mendorong meja besar itu, tapi setelah meja itu mampu bergeser (walaupun sedikit), maka tubuh kecil kita pun dapat membuatnya terdorong amat jauh.

Jadi…..
Jika hari ini Anda seorang pemalas maka selamanya Anda adalah orang pemalas
Jika hari ini Anda jarang membaca Al-Quran maka selamanya Anda tidak akan pernah mengkhatamkannya
Jika hari ini Anda sering berbohong maka selamanya Anda menjadi pendusta
Jika hari ini Anda menjadi pencuri kecil-kecilan maka selamanya Anda akan menjadi pencuri
KECUALI…
Sampai ada sebuah gaya yang bertolak belakang dengan sifat buruk Anda tersebut
Untuk memunculkan gaya tersebut dibutuhkan tenaga ekstra hanya di awal.

Yuk.. sama-sama memperbaiki diri dengan menerapkan Hukum Newton I ini.

Ditandai: , , ,