PR untuk Para Pemimpin Parpol

Posted on 14 April 2008

0



Surat

Jakarta, 13 Maret 2008

Assalamu ‘alaikum wr.wb.

Saudara-saudara sekalian, para pemimpin partai yang terhormat, terima kasih atas kesediaannya menyuguhkan waktu berharganya untuk duduk bersama memenuhi undangan ini.

__________________________________________________________________

Para pemimpin partai yang terhormat, melihat realita kehidupan di negara tercinta ini, rasanya nurani merintih, menyaksikan kemiskinan masih menghantui masyarakat kita, sepenggal perut saat ini mungkin sedang perih menahan rasa lapar, rengekan bocah-bocah mungkin saling bersahutan memelas sesuap nasi basi, pun banyak si tua renta yang terkapar dengan tubuh kering kerontang, menggigil di kolong-kolong jembatan. Bencana alam pun datang tak kunjung usai, berbagai konflik tak ayal lagi bermunculan, huru hara terjadi dimana-mana, perbedaan kecil sering kali meminta tumbal nyawa mereka yang tak berdosa.

Kepada siapa lagi rakyat mengadukan nasib malangnya? Sekedar melihat secercah senyum masa depannya. Kepada siapa lagi? selain kepada Anda, wahai pemimpin-pemimpin yang dipilih rakyat.

Di lain pihak kita pun menyaksikan menjelang kampanye 2009 mendatang ini, banyak partai-partai bermunculan, puluhan….! bahkan ratusan. Apapun niatan dibalik semua itu, yang jelas bila kita mencoba berprasangka baik, bisa jadi kemunculannya dikarenakan rintihan nuraninya yang pedih dan prihatin atas nasib serta masa depan bangsa yang suram. Kita semua sama-sama ingin bekerja menopang bangsa agar tidak jatuh dalam kehancuran. Kita pun ingin turut membangun kembali Indonesia. Namun sayang, semua ini ibarat ratusan lidi yang saling terpisah dari ikatan. Banyak tetapi tidak berdaya guna, sebukit buih namun terombang-ambing.

Maaf beribu maaf, kita seringkali mengubur luasnya persamaan yang dimiliki, namun perbedaan yang tak sekulit ari diperuncing. Partai-partai besar terpecah, sayangnya hanya karena perbedaan yang sangat sepele, partai-partai baru pun tak ingin ketinggalan menunjukkan eksistensi dan keragamannya. Perbedaan seperti apakah yang membuat kita enggan untuk bersatu? Bukankah kita sama-sama ingin membangkitkan kembali tanah lahir kita, bukankah kita sama-sama ingin melihat kejayaan bangsa, bukankah kita sama-sama ingin memakmurkan masyarakat tercinta ini. Lalu perbedaan seperti apakah yang lebih besar dibandingkan cita-cita mulia ini?

__________________________________________________________________

Sudah cukup menjadi momok bagi kita, bahwa keberagaman partai telah menjadi dinding pemisah bahkan penyulut permusuhan. Partai-partai yang berkampanye hendak mengangkat martabat bangsa, pada akhirnya hanya mengangkat popularitas perseorangan. Tidakkah kita merindukan persatuan yang bukan sekedar retorika penghias pidato kenegaraan belaka? Tidakkah gema ikrar Sumpah Pemuda memenuhi relung hati kita untuk kembali mengikat persatuan, membuang jauh-jauh perbedaan, meleburkan diri dalam persamaan bangsa, bahasa, dan cita?

Saudaraku, para pemimpin yang dipercaya rakyat, demi terciptanya persatuan, dan demi menghilangkan kebingungan masyarakat akan banyaknya partai yang mengatasnamakan membela rakyat maka sudilah kiranya dengan ikhlas untuk meleburkan diri dalam suatu ikatan yang akan mempertautkan lidi-lidi yang tercerai berai ini menjadi sebuah kekuatan yang maha dahsyat untuk mewujudkan sebuah impian yang sama-sama kita rindu, yaitu Indonesia yang makmur.

Jika diantara Anda menginginkan amanah kepemimpinan berada dipundak Anda, maka demi Allah dan dengan rasa hormat saya akan tanggalkan jabatan ini, dan dengan ikhlas akan mendampingi Anda dalam suka dan duka menyongsong cita-cita luhur ini…..”

___________________________________________________________________

Sayangnya pidato seperti ini hanya ada dalam mimpi seorang insan sains, kalaupun terjadi mungkin hanya akan mendapat lemparan cercaan karena dianggap “mengkebiri” kebebasan berpendapat. Masing-masing golongan menganggap merekalah yang paling benar. Padahal mungkin saja golongan yang satu memang benar, tapi bisa jadi mengandung kesalahan. Dan golongan yang lain salah, tapi bisa jadi mengandung kebenaran. Tidakkah kita ingin saling melengkapi?

A = 10.000.000 + 252
B = 10.000.000 + 15
C = 10.000.000 + 423
D = 10.000.000 + 122
E = 10.000.000 + 98
dst…

Masing-masing golongan lebih menonjolkan nilai remeh perbedaan, dibanding nilai besar persamaannya. Padahal sekalipun seluruh nilai perbedaannya digabung (252+15+423+122+98), masihlah secuil dari nilai persamaan yang besar (10.000.000). Bukankah nilai yang besar ini sama dengan CITA-CITA luhur bangsa untuk MENUJU INDONESIA yang MAKMUR?

Iklan
Posted in: Politik