Inikah Rasanya Perut Si Miskin?

Posted on 3 Oktober 2007

1



becak

Masih ingatkah Anda dengan berita di televisi tentang siswa Sekolah Dasar yang mencoba bunuh diri karena tidak mampu membayar uang ekstrakulikulernya sebesar Rp. 2.500? Heryanto, namanya. Kejadiannya persis ketika Ramadhan (1425 H kalau tidak salah).

Peristiwa yang cukup ganjil dan menyedihkan bagi kita semua. Anak seumuran Heriyanto (seorang siswa SD) terpikir untuk bunuh diri?

nasi akingSaya pun tidak akan bisa lupa, ketika melihat seorang ibu beserta bocah ciliknya memakan “nasi aking. Nasi yang seharus-nya tak layak lagi untuk dikonsumsi manusia. Nasi basi yang dicari di tempat sampah (mungkin sisa nasi Anda kemarin), kemudian mereka kumpulkan dan keringkan di terik matahari. Setelah benar-benar kering seperti beras kembali, kemudian dibersihkan dan ditanak ulang seperti beras biasa. Anda bisa bayangkan bagaimana baunya? Bayangkan pula untuk memakan nasi tidak layak saja, mereka harus menunggu 1-3 hari.

Bahkan pernah suatu ketika, ada satu stasiun televisi swasta yang mewawancarai keluarga pemakan nasi aking ini, dan memperagakan cara pembuatannya. Ketika sang pewawan-cara yang cantik mencoba mencicipinya, terlihatlah di depan kamera ia mual-mual dan hampir beberapa kali muntah sehingga matanya memerah dan berair dikarenakan menahan rasa mualnya. Padahal ia hanya mencicipi tidak kurang dari beberapa butir saja.

Saudaraku….!

Ini adalah sekelumit potret kemiskinan di Indonesia. Dan kenyataannya masih banyak keluarga-keluarga miskin yang nasibnya tidak jauh berbeda dengan keluarga Heryanto, dan keluarga pemakan nasi aking tadi.

Saudaraku…!
Shaum mengajarkan kita bagaimana merasakan perut orang-orang lapar. Tapi sayangnya, kita malah sibuk memikirkan makanan pembuka shaum apa yang cocok dan enak, padahal bagi mereka, jangankan sepotong gorengan pengganjal perut, untuk mengetahui apakah di sore hari mereka bisa makan atau tidak, mereka tidak tahu pasti.

Saudaraku…!

Uang Rp. 2.500, mungkin tidak seberapa ber-arti bagi kita, tapi tidak begitu bagi keluarga Heryanto. Uang sebesar itu bisa untuk jatah makan seluruh keluarga mereka selama satu hari. Sehingga lebih memilih mengorbankan uang ekstrakulikuler Heryanto tidak terpenuhi daripada perut mereka yang tidak terisi.

Jadi pertama, beramal dan bersedekahlah berapapun jumlahnya. Apa yang menurut kita kecil dan tidak berarti, bisa jadi bagi orang lain merupakan suatu berkah luar biasa.

Kedua, jangan sia-siakan makanan Anda. Di luar sana banyak yang bermimpi bisa makan “nasi sungguhan, bukan sekedar nasi aking.

Sembahlah Allah dan janganlah kamu memper-sekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang ibu-bapakmu, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, ……….”

(QS. An-Nisa, 4:36)

Wallahu ‘alam bishawab.

Iklan
Posted in: Opini