Archive for the ‘Personal’ Category
I’m Home…

Malam ini saya menemukan satu buku harian saya yang hilang. Pengalaman hidup saya selama tahun 2006 yang lampau. Lembar demi lembar patuh membalik mengikuti sapuan jemari. Tertahan sejenak, mengurai kalimat demi kalimat hingga tergambar gerak. Dalam sebuah ruang yang kita sebut ruang sejarah. Kadang bibir tersimpul senyum, terkadang mata yang dibujuk cengeng. Kadang mengharu biru, namun kadang menyesakkan batin.
Ah.. buku harian yang indah. Di mana saat itulah saya pertama kali jatuh cinta. Penuh bunga-bunga, meski di buku harian yang sama rasa itu tiba-tiba menjadi danau air mata, karena cinta itu pun harus kandas pada akhirnya. Tapi ada rasa syukur, karena rasa itu telah membuat kami dewasa dan bergerak terus lebih baik. Ada pula pengalaman ketika saya ketakutan dimaki-maki pemabuk, meski pada ujung buku harian, pemabuk tersebut bertaubat minta diajari shalat. Ada pula nama-nama yang tercatat jelas disana, yang tiap nama itu membangkitkan pelangi emosi tersendiri dalam jiwa saya.
Mengaitkan peristiwa demi peristiwa dalam buku harian tersebut telah membangkitkan kenangan yang mungkin sangat mahal bagi saya pribadi. Hingga saya menyadari ada satu buku harian digital yang nyaris saya lupakan. Yaitu BLOG. Ya.. sudah lama saya meninggalkan blog saya. Ada semacam kerinduan yang membuat saya ingin membaca ulang beberapa postingan. Tidak lupa komentar-komentar yang masuk. Ugggh… luar biasa. Inilah mungkin karunia memory yang Allah berikan. Saya merasa bahagia membaca kembali pengalaman saya di ruang sejarah ini. Meski ada pahit yang tidak bisa saya lupakan. Dan hari ini, saya akan kembali menempati rumah maya ini. Dengan segala suka dan duka yang ada di dalamnya. (Insan Sains)
Jakarta, 30 September 2009, 21:57 WIB
Mengembara…
“Hiduplah engkau di dunia seperti orang asing, atau orang yang sedang dalam perjalanan. Jika sore tiba, jangan tunggu datangnya waktu pagi. Dan jika pagi tiba, jangan tunggu datangnya sore hari. Gunakan waktu luangmu sebelum datangnya kesempitan. Dan gunanakanlah hidupmu sebelum datangnya kematian”
Saya rasa nasihat diatas sudah cukup dijadikan sebuah alasan bagi saya untuk berpindah dari rumah yang pernah menjadi kesayangan saya ini. Saya pamit, dan saat ini meneduhi rumah lain yang bernama, “SAGASU“.
Terima kasih untuk setiap komentar yang diberikan, dan mohon maaf bila ada khilaf.
Regards,
-Insan Sains-
Saya Kembali
Saat saya ingin pergi meninggalkan rumah ini
Ada sahabat-sahabat terbaik yang menginginkan saya kembali
Tapi saya menutup mata
Saat saya tidak ingin meninggalkan goresan tinta lagi disini
Ada yang menginginkan saya tetap menulis
Tapi saya menutup telinga
Saat saya ingin menyimpan semua rasa yang menggelora, sendiri
Ada yang menginginkan saya tetap mencurahkan isi hati disini
Tapi saya tidak mempedulikan
Saat saya ingin lebih banyak beramal di dunia nyata
Ada yang menginginkan saya tetap berbagi ilmu dan hikmah
Tapi saya tidak menggubris
Saat saya benar-benar ingin meninggalkan semua hal ini
Allah menuntun saya untuk kembali menulis dengan hati untuk berbagi ilmu dan hikmah
Saya terkesiap…
Saya kembali ke rumah ini, karena Allah
Saya kembali ke sini, karena mengharapkan keridhaan Allah
Ya Rabbi, saya mengikuti apa yang Engkau tunjukkan
Maka karuniakanlah aku cintaMu
* * *
Saya minta maaf untuk semua komentar yang belum ditanggapi selama saya pergi. Hanya beberapa orang saja yang saya balas melalui email.
Terima kasih untuk rekan-rekan yang terus memberi support. Mulai dari rekan blogger. Terima kasih atas kesediaannya untuk terus mampir dan melongok rumah ini. Kepada rekan-rekan kampus yang terus memberi support dan mendoakan agar tugas akhir saya segera selesai. Kepada rekan-rekan kantor yang menyenangkan, dan selalu menanti saya berkata sesuatu. Juga terima kasih untuk sang Murabbi yang senantiasa mengisi sisi batin ini yang kerap kali surut oleh gemerlap dan hiruk-pikuk dunia.
Tidak lupa permintaan maaf kepada sahabat-sahabat pengajian saya. Maafkan saya yang beberapa pekan ini sering tidak hadir karena tugas luar kota. Mudah-mudahan ngajinya tetap istiqamah meskipun tanpa kehadiran saya. Sekelam apapun masa lalu, berjalanlah kedepan, dan senantiasalah memperbaiki diri kawan-kawan.
Permintaan maaf juga untuk pak Edi karena jarangnya waktu untuk bertemu. Sehingga belum bisa memenuhi keinginan pak Edi untuk belajar shalat. Teringat saya saat pak Edi terseok dalam keadaan mulut berbau alkohol minta diajari shalat dan ingin keluar dari hidup yang membuatnya tidak tentram. Tangisan pak Edi saat itu seakan melunturkan semua ketakutan dan kata-kata pedas yang selama bertahun-tahun terlontar kepada saya. Mari kita tinggalkan kehidupan preman ke kehidupan tentram dan aman dalam naungan Islam ya Pak…!
Maaf pula untuk pak Abdul Azim yang meminta konsultasi untuk controlling power-plant alias PLTD-nya menggunakan PLC. Ternyata masih ada pertanyaan ya? Saya baru membaca email terakhir pak Abdul di Surabaya ini yang meminta nomor handphone saya. Maafkan saya, karena sudah beberapa hari tidak membuka accout email di google, jadi baru tahu hari ini.
Begitu pula untuk Putrisia mahasiswi UGM, maafkan saya belum bisa menulis tentang Jaringan Syaraf Tiruan sebagaimana requestnya. Nampaknya pembicaraan di YM terakhir, dapat saya simpulkan bahwa Putrisia masih kebingungan untuk mengubah variable sistem ke dalam bentuk matriks. Kapan-kapan saya akan carikan ebook yang cukup simple ya.
Maaf juga untuk para moderator dan member di Forum Sains, saya baru bisa aktif lagi beberapa hari terakhir ini. Dan itu pun hanya sekedar menjawab pertanyaan dan menanggapi artikel-artikel dari member yang lainnya. Sampai saat ini belum sempat meng-upload tulisan-tulisan baru lainnya, khususnya untuk 5 subkeilmuan yang dipercayakan kepada saya.
Kepada rekan-rekan alm(pintunet), saya mohon maaf karena tidak bisa ikutan kopdar di Plasa Semanggi kemarin. Tadinya ingin memberikan kejutan dengan tidak memberi kabar, tahunya saya mendapat tugas ke Surabaya. Maaf ya temanz….
Maaf dan terima kasih untuk orang yang (mudah-mudahan) mempertemukan saya dengan Allah bersama-sama. Selamat menyelesaikan tesisnya, mudah-mudahan dapat selesai semester ini. Dan mudah-mudahan Allah yang Maha Memiliki Kekuasaan senantiasa memberikan kesehatan agar mampu menjadikan tiap desah nafas menjadi ibadah, memberikan kekuatan agar dapat menyempurnakan ibadahnya. Kembali saya mengajak untuk terus meluruskan niat, karena semakin tulus niat kita, godaan syetan akan senantiasa lebih gencar lagi. Keep smile ya. Mudah-mudahan sakit yang dirasa menjadi penggugur dosa. Tetap sabar, dan kuatkan kesabarannya ya, mudah-mudahan menjadi amalan yang akan mengantarkan kita bertemu Rabb kita.
Saya kembali ke rumah ini, dan insyaAllah tidak ingin meninggalkannya…
Surabaya, 23:55 -Insan Sains-
It’s a Nice Conversations
Diproteksi: Kehabisan Ide dot Com
Orang Terakhir
Di satu bulan terakhir ini, sudah 5 undangan bersarang di meja kerja saya. Undangan pernikahan tepatnya yang saya maksud. Terakhir kali, saya datang ke walimah-an teman saya yang bernama Basar Saeful Muluk, di Cililin. Sebuah resepsi yang sederhana namun sangat memberi kesan bagi saya. Bukan hanya hari itu saya mesti pulang pergi Jakara-Bandung-Cimahi-Cililin, bertemu teman-teman lama, dan tentunya peristiwa terguyurnya Afina dengan segelas bandrek susu. Panas tentunya bandrek susu tersebut.
Ah.. tapi yang jelas ada kesan yang sangat dalam di acara resepsi tersebut yang sungguh tidak bisa saya ungkapkan.
Nah, kemarin (Minggu, 26 Oktober 2008) ada sebuah peristiwa menghadiri walimah-an yang sangat memberi kesan juga bagi saya.
Aduuh.. San.. kapan sih ada peristiwa yang biasa-biasa aja di mata kamu?
Semuanya kok tetap memberi kesan.
Hehehe… Life is Beautiful bukan?
Jadi ceritanya begini…
Baca entri selengkapnya »
Perpisahan (lagi)
To : *******-san (insan sains, red)
Hereby, I give u your book.
“Life is beautiful”, but I found it more beautiful outside *** (your paradise, red)
I know the decision to get out from here sooner is hard,
but i’ll never regret 4 what I’ve choosen.
Thanks for d book
Nice to know u, pal.
Ganbatte!!!
Many thanks,
** (your friend, red)
Design Jaket
Postingan ini khusus untuk seluruh teman-teman tempat saya bekerja. Baca entri selengkapnya »
Selamat Lahir kembali Fin…!
Alhamdulillah hari ini, saya bisa bersama kembali dengan Afina untuk membuat tulisan. Setelah minggu kemarin, Afina diistirahatkan total. Saya benar-benar shock, ketika Afina terguyur Bandrek Susu saat kami pergi ke Lembang. Bukan main…! Di udara Lembang yang dingin itu, saya bersama teman-teman menghangatkan diri dengan meminum segelas bandrek susu plus jagung bakar dan ketan bakar. Merasa mendapat inspirasi untuk menulis, Afina yang selalu saya bawa kemana-mana itu langsung saya ajak menulis sesuatu. Tiba-tiba ketika sedang enak-enaknya menulis, seorang teman secara ceroboh menumpahkan bandrek susu. Byurrrrr…!!
Waaaagh… Afina langsung teguyur sekujur body. Hati saya sekarat bukan main. Untunglah saya masih sempat ‘menidurkan’ Afina sebelum tumpahan bandrek itu menelusuk ke ‘jantung’nya Afina. Kontan, wajah teman saya itu pucat bukan main. Merasa bersalah, merasa jadi orang tolol, dan tentunya merasa menjadi paling ceroboh saat itu. Ah.. saya bisa melihat pucat pasi wajahnya itu. Dan tentunya mudah sekali bagi saya untuk meluapkan kemarahan. Ah.. sudahlah…! Toh kalau pun memang Afina harus berakhir, itu pun sudah ada dalam takdir Allah. Tinggal bagaimana saya menyambut takdir tersebut.
Dengan mencoba memasang wajah tenang, urat-urat leher saya paksakan untuk santai. Berharap si teman saya itu, teresonansi untuk tenang pula. Namun gagal. Akhirnya, dengan berbohong saya berkata, “Tenang…. Ini mah gampang. Besok insyaAllah bisa dipake lagi”. Padahal dalam dada saya bergemuruh perasaan was-was. Benarkah masih bisa digunakan? Kalau tersiram air putih sih, tak jadi soal. Ini bandrek booooww…!! Akhirnya, tanpa banyak ekspresi muka, saya masukkan Afina ke ‘rumah’nya. Dan mulai melahap ketan bakar dengan sambal kacang (tidak pedas…!). Patut dicatat tidak pedasnya. Karena memang saya sangat tidak menyukai sambal. Dengan berlagak sudah melupakan kejadian tadi, dan menganggap enteng peristiwa tumpahnya bandrek itu, hati saya masih dag-dig-dug memikirkan bagaimana caranya menyembuhkan Afina.
Jawaban untuk sahabat maya saya : Jing_Hsu
Ini adalah tentang persahabatan kami di dunia maya. Seorang Jing_hsu dan insan_sains. Kedua-duanya adalah makhluk yang sama-sama senang menulis, dan sama-sama lahir di tanah yang sama, Sunda. Tapi masing-masing tak pernah sekalipun bertemu muka. Pertemuan kami hanyalah di dunia maya. Di sebuah “rumah abu-abu” yang saat ini telah tiada. Namun disana, persahabatan itu jauh melewati pulau-pulau, mampu menembus relung hati yang terdalam, hingga mengikat hati orang-orang yang kami temui.
Tulisan ini, saya buat khusus untuk kang Jing_hsu yang pada akhir-akhir Ramadhan, menyambungkan tali silaturahim, dengan sering ber-sms-an dengan saya (tahu darimana kang nomor handphone saya?). Tak hanya itu, dia pun memberitahukan “rumah baru”nya, setelah atas alasan yang tidak pernah diketahuinya (bahkan kami), dia di depak dari “rumah”nya sendiri.
Beberapa minggu yang lalu, saya pun mengunjungi “rumah” barunya tersebut. Dan sebagai suguhan pertamanya, sahabat saya tersebut menempelkan nama saya dalam dinding “rumah” barunya itu. Teringatlah saya pada hutang yang seyogyanya saya bayar pada seorang sahabat yang nama aslinya saja, tidak saya ketahui. “Jing_hsu” hanya ID unik itulah yang saya tahu tentang dia.
Baiklah kang…! Sesuai dengan apa yang akang utarakan di tulisan pertama akang. Saya sekarang mau menggenapkan semuanya. Mau melunasi hutang saya itu. Saya sedikit lupa opini yang akan tulis tentang saya. Situs tempat kita bernaung pun telah punah. Tapi untunglah ada om Google, sehingga saya bisa mendapatkan kembali tulisan akang yang ada di pintunet tersebut. Saya tuliskan kembali, sebagai kenang-kenangan ya kang…

