Archive for the ‘Opini’ Category
Copy Paste VS Budaya Ilmiah
Blogwalking pekan ini membuahkan banyak sekali inspirasi untuk membuat tulisan. Kali ini inspirasi itu datang dari Rindu. Salah satu blogger yang saya kenal tahu dan jarang sekali memberikan tanggapan atas komentar-komentar blogger lain yang masuk. Wajar-wajar saja bukan? Karena itu adalah hak dan pilihannya. Namun ada satu hal yang saya acungi jempol untuk blogger yang satu ini. Sejak saya tahu blognya, saya baca tiap postingannya. Tidak ada satu pun postingan “kacangan”. Benar-benar luar biasa. Dan karena keluar-biasaannya itulah makanya wajar pula bila akhirnya, Rindu punya banyak fans. Bukan hanya fans yang rela mampir di blog yang bernuansa gelap-gelapan, fans yang setia memberikan komentar pada setiap postingannya meskipun tak berbalas, tapi juga fans yang tanpa sepengetahuannya meniru mentah-mentah buah pikiran dan hasil renungannya. Fans terakhir itu pun entah disengaja ataupun tidak, mengutip semua tulisan-tulisan tanpa seijin si empunya blog.
Bukan begitu De?
Copy-Paste. Sebuah istilah yang muncul untuk menerangkan aktifitas duplikasi data dalam komputer. Namun sekarang istilah ini menjadi sangat umum untuk menerangkan aktifitas penggandaan atau peniruan sesuatu dari ujung hingga ke pangkal. Dan copy-paste ini nampaknya telah menjadi budaya yang mengakar di bangsa kita. Sah-sah saja sebenarnya, bila si pemberi copy-an mengijinkan, dan si pemaste tidak lupa diri kepada si pemberi copy-an.
Kosong Bukan Berarti Tak Bermakna
Kosong tidak selalu hampa
Tak semua makna terungkap lewat kata
Bahkan hikmah pun bisa datang dari sesuatu yang tak kasat mata
Tuhan itu tak nampak di mata
Lantas beranikah kita lantang berkata
“Tuhan tidak ada?” [Astaghfirullah..]
Sesuatu yang kosong dan tak kasat mata
Bisa menjadi sesuatu yang teramat berharga
Tergantung bagaimana kita memberinya makna
Tak semua yang tak terlihat, tiada
Tak semua yang kosong, tak bermakna
Kawan…
Bukalah hatimu
Sibaklah tabir samudera ilmu
Reguklah hikmah dari Tuhanmu
[bersambung....]
Saya pernah membuat tulisan yang berjudul “Mudah-mudahan Kembali Suci“. Tulisan tersebut merupakan pengejewantahan dari secuil bait-bait di atas. Banyak yang mengira, saya tidak menulis apa-apa pada postingan tersebut. Padahal ada kalimat yang mengisi postingan tersebut. Di postingan itu juga, saya “sedikit” menampilkan narsis picture. Nyatanya, hampir tidak bisa dilihat oleh siapapun.
Adakah yang berhasil melihat sesuatu yang tidak nampak itu?
Aa Gym dimata Insan Sains
Tulisan ini telah dimuat di www.pintunet.com (dengan sedikit revisi)
Astaghfirullah…… rabbal baraaya…
Astaghfirullah…… minal khathayaa… (2x)
Barang siapa… Allah tujuannya…
Niscaya dunia… akan melayaninya…
Namun siapa… dunia tujuannya…
Niscaya kan letih… dan pasti sengsara…
Diperbudak dunia… sampai akhir masa…
Entahlah berapa banyak orang yang mengenal syair diatas. Pun saya tak tahu berapa banyak orang yang tersentil dengan syair tersebut. Yang jelas saat menulis tulisan ini di malam yang sepi sambil mendengarkan nasyid tersebut tiba-tiba air mata saya berlinang, seakan-akan tersodorkan sebuah cermin yang memperlihatkan betapa wajah yang selama ini sibuk mengejar kebahagiaan, ternyata hanya memperpayah diri meraup kebahagiaan semu. Syair ini pula yang makin dimaknai makin menembus ke dasar hati terlebih mengorek-ngorek timbunan memori dimana sang penyair telah menorehkan sebuah kenangan manis bagi si penulis ini.
Rasa kehilangan seorang mubaligh kelahiran tahun 1962 ini mulai menyeruak tatkala berita pernikahannya yang kedua dipaparkan media. Semenjak itu ceramah-ceramah segar yang aplikatifnya itu seakan-akan terbenam ditelan kemarahan orang-orang yang berpendirian bahwa rumah tangga adalah singgasana yang boleh dan hanya boleh diduduki untuk seorang suami dan seorang istri, tidak lebih (selain anak). Ah.. tapi saya tidak ingin mengulas moment ini terlalu jauh. Terlalu nekad jika saya ngotot hendak mengulas hal yang masih belum mempunyai titik pijak yang sama ini, ada bermacam-macam orang, bermacam-macam latar belakang pendidikan, bermacam-macam karakter, dan tentunya bermacam-macam cara pandang pula. Jadi lebih netral bagi saya untuk mengulas tokoh ini sebatas pengalaman saya bersua dengan beliau, tidak lebih!
* * *
Rahasia dibalik Nama Seseorang
Saking seringnya pergi ke luar kota, ada cukup banyak hal yang ingin diceritakan. Kali ini ada hal yang membuat rasa penasaran saya makin membucah. Tiap kali saya naik ke pesawat, khususnya Lion Air, tidak pernah saya jumpai kursi bernomor 13 dan 14. Apakah sebegitu menyeramkannya angka 13 tersebut? hingga teman dekatnya (angka 14) juga ketiban sial.
Berbagai literatur saya coba selidiki. Dan akhirnya mengarah pada satu tema, “Numerologi”, Yaitu sebuah ilmu yang mendalami karakter-karakter angka hingga bisa digunakan untuk memahami diri dan lingkungan. Para ahli numerologi percaya bahwa tiap orang mampu meningkatkan kebahagiaan dan kesuksesan dengan cara memahami angka-angka yang berpengaruh pada wilayah hidup orang tersebut.
“Ah… masa sih A, angka bisa mengungkapkan tentang diri kita? Aneh aja kedengarannya.”
Emang rasanya tidak masuk akal! Tapi persis seperti Feng Shui-lah atau cara mengetahui karakter orang melalui golongan darahnya seperti yang sudah dibahas waktu lalu. Percaya gak percaya yang penting mah kita sepakat bahwa untuk mengubah hidup kita tentunya harus ada usaha. Ya toh?
Katanya sih, tiap sesuatu yang melekat pada diri kita mencerminkan keseluruhan diri kita, saat ini maupun masa yang akan datang. Mulai dari tanggal lahir, nama lengkap, nomor handphone, nomor rumah, tanggal pertama kali masuk kerja, dan sebagainya. Huh… agak ganjil kedengarannya. Tapi justru karena keganjilan itu banyak orang yang penasaran dan akhirnya layanan sms-sms ramal banyak sekali bukan? Cukup ngasih tahu tanggal lahir dan nama lengkap saja. Gilaaa… masa dari nama dan tanggal lahir saja bisa ketahuan karakter orang dan masa depannya.
“Kalo Aa sendiri percaya gak?”
Nggak..! Tapi kalo buat iseng sih asyik juga. Mau coba? Kita mulai dengan nama lengkap kita. OK! Sekarang tuliskan nama lengkap diri maupun teman yang mau kita lihat karakternya. Em… siapa yach?
Baca entri selengkapnya »
Amankah belanja buku secara online?
Berawal dari kegemaran membaca buku, akhirnya menjadi gemar pula membeli buku, walaupun kenyataannya cukup banyak buku-buku yang masih “perawan” dan masih tersegel rapih. Tempat favorite saya untuk membeli buku adalah PALASARI (Bandung). Satu-satunya alasan saya selalu membeli buku di sana adalah karena harganya yang jauh lebih murah walaupun setidaknya harus tiga kali pindah tempat duduk (baca : angkot) dari rumah ke Palasari. Hampir semua buku baru didiskon 30-35% (tanpa ditawar), dan buku-buku lama bisa jauuuuuh lebih murah (kalo bisa nawar).
Jadi teringat masa-masa sekolah dulu! Demi memenuhi hasrat memiliki buku baru tiap bulannya, saya rela untuk menahan rontaan perut kala bel istirahat makan siang berbunyi. Namun rasa perih perut itu akhirnya selalu terobati tiap kali “memperawani” segel plastik buku-buku baru itu. Ibarat puasa sejak imsak hingga bedug maghrib, kemudian dijamu dengan kenikmatan berbuka.. Ah… betapa nikmat bukan? tiap tegukan air yang membasahi tenggorokan ibarat hijaunya pepohonan yang dirindu oleh orang-orang di padang pasir yang gersang. (gak terasa yach, shaum ramadhan sudah semakin dekat)
Back to topic!
Sayangnya sejak Jakarta menyeret saya ke kota metropolitan (yang belum metropolis ini), PALASARI hanya tinggal kenangan. Sejak saat itulah, GRAMEDIA dan GUNUNG AGUNG menjadi tempat “nongkrong” saya menyiram kejemuan bekerja. Hem… tapi rada harus menghembuskan nafas panjang kalau ingin membeli buku disini. Muahal-muahal mintza ampiunz…! Sehingga planning penghematan anggaran hidup, bisa bobol kalo sering berkunjung ke sana apalagi tergoda untuk membeli buku…!
Alhamdulillah, sejak tahu ada toko buku online yang ternyata menjual buku-bukunya lebih murah, saya jadi lebih bersemangat lagi. Walaupun sebagian besar diskon yang ditawarkan tidak seperti dulu saya membeli di PALASARI, tapi lumayanlah, apalagi jika bisa diantar GRATIS! Ternyata era digital dan internet telah mengantarkan kita -para bookaholic- pada peradaban baru. Berikut saya share hasil pencarian saya bersama Om Google terhadap situs-situs yang menjual buku secara online :
Penganiayaan (terus-terusan) di angkutan umum Jakarta
Tulisan ini telah dipublikasikan di www.pintunet.com
Hari itu ( Sabtu, 31 Mei 2008 ) aku berangkat ke kampus sambil niat mengisi waktu luang dengan membaca buku di angkot. Matahari Jakarta seperti biasa menunjukkan kegarangannya, menyengat ubun-ubunku hingga terasa mendidih, namun dengan setia aku menunggu angkot yang akan mengantarkanku menuntut ilmu itu.
Lagi-lagi, untuk yang kesekian kalinya, aku dibuat tertawa nyinyir melihat angkot berwarna hijau-putih itu menampakkan diri. Bukan hanya gara-gara angkot yang akan kunaiki itu sudah butut bukan kepalang melainkan juga tengah dijejali orang-orang. Dengan mengucap basmalah kulandasan kaki kanan kemudian kaki kiriku di pintu mini bus reot itu. Kulihat sejenak sekeliling, tengah penuh sesak, seandainya pun ada kucing di tengah-tengah kerumunan ini, maka dipastikan binatang malang itu telah mati terhimpit dan menemui ajalnya.
Semua kursi tak berbusa itu telah penuh diduduki, keringat di kening dan sepanjang leher orang-orang yang duduk itu mengisyaratkan betapa mereka telah duduk lama disitu dan merasakan pengap yang luar biasa. Make-up seorang gadis remaja yang mungkin akan pergi bersama pacarnya itu telah memudar disiram keringat dan tersapu basuhan tangannya. Pun tak ketinggalan lebih menderita lagi orang-orang yang berdiri, termasuk diriku, bukan hanya keringat yang mengucur di sekujur tubuh yang tentunya menambah “harum” aroma angkot jadul itu, tapi juga wajah kusut menahan pegal tangan yang telah lama bergelantung di besi panjang, dan juga kaki yang silih berganti kesemutan. Di angkot yang sudah karatan itu pula kami harus berbagi udara yang sama, apa yang kuhirup adalah yang dikeluarkannya, dan yang dihirupnya adalah udara yang ku keluarkan. Inilah cermin salah satu transportasi umum (yang mungkin) terbanyak di ibu kota negara kita kawan!
Tapi tunggu,
Baca entri selengkapnya »
Bila Hati Tak Punya Iffah

Malam ini, aku benar-benar tidak bisa fokus belajar. Begitu kalimat-kalimat dan rumus-rumus yang tergores dalam teks book-teks book itu aku baca, mereka menghilang begitu saja ditelan lamunan tidak bermutu. Padahal besoknya, aku harus menghadapi ujian. Hah.. kenapa ini harus terjadi. Saat aku tulis tulisan ini, toolbar jam di komputerku yang terletak disebelah kanan bawah tengah menunjukkan pukul 22.17. Iigggh… betapa kesalnya diriku, tidak ada satupun pemahaman pun yang bisa aku ingat. Hm… akhirnya aku coba menulis kekesalan ini, mudah-mudahan bisa memuntahkan semua hal yang “tidak beres”dalam benakku.
Tadi siang, seperti biasa duduk manis di depan komputer, online di internet niat mencari ilmu, sambil ditemani sedikit cemilan pengganjal perut. Paman google seperti biasa menjadi andalanku merentas dunia maya ini, aku tinggal menyebutkan keyword “tempat” apa yang aku inginkan, dalam sekejap dia menghadirkan kepadaku pilihan-pilihannya, kemudian mengajakku menelusurinya lebih jauh lagi. Kali ini sungguh sial, siang itu si paman google mempertemukanku dengan satu blog yang bagiku cukup “mengerikan” (“mengerikan” bukan kata yang tepat sih, maklum kehabisan ide, sudah malam..!) Baca entri selengkapnya »
Bikin Acara TV kayak gini yuk!
Di Jepang, ada sebuah acara televisi yang sangat saya suka,
PythagoraSwitch (ピタゴラスイッチ)
baca : Pitagora Suitchi
Sebuah program, acara edukasi yang berdurasi 15 menit yang memperlihatkan bagaimana anak-anak Jepun sana yang masih imut-imut dan lucu-lucu sudah diajak berpikir untuk menelurkan sebuah solusi. Sebuah acara yang mendidik plus menghibur tentunya. Dalam acara ini, mereka diminta membuat karya yang unik dimana menggunakan prinsip-prinsip fisika dasar, ataupun fenomena-fenomena alam lainnya. Pokoknya unik deh. Keren abiz, dan pasti terpukau.
Acara ini disiarkan oleh NHK (Nippon Hoso Kyokai) Educational TV. Kira-kira ada gak yach stasiun televisi negara kita (baik local maupun swasta) yang mau dan berniat untuk mengadopsi siaran seperti ini? Jangan terus diekspos film, sinetron ABG, pacaran, dan something like that lah…!!! Kapan majunya atuh? kalo begini terus. Emang gak ada yang lain apa selain pacaran, cinta, etc? (Indonesia… Indonesia….!)
*ceritanya orang yang suka sains lagi uring-uringan nih sama acara per-TV-an di Indonesia
By the way… potongan-potongan klip-nya bisa kita lihat di youtube juga kok. Jadi yang penasaran, saya tunjukin deh salah satunya.
Jika ingin mendownload video diatas klik disini
Atau kalau mau cari clip-clip yang lain (di youtube), masukkan saja kata kuncinya : pythagora switch.
* Bagi yang belum tahu cara mendownload video di youtube, bisa baca postingan saya ini.
Antara JIHAD dan KAIZEN
Ada sebuah keraguan pada awalnya untuk menuliskan hal ini. Tentu saja melihat sisi keilmuwan yang saya miliki, bukanlah kapasitas saya untuk menuliskan hal yang sedikit sensitif ini kepada publik. Namun, dibelakang keraguan tersebut, tiba-tiba terdengar suara dari kejauhan sana, namun begitu jelas mendesir, “sampaikanlah dariku walaupun satu ayat”. Dan byar…! Keraguan itu pun sirna, dengan terus mengalirnya jariku memaparkan kata demi kata tentang bangunan tertinggi Islam, yaitu JIHAD (tentunya sebatas pengetahuan yang saya miliki). Mudah-mudahan pembaca yang lebih faham bisa meluruskan, atau setidaknya ada yang mencantumkan link sebagai bahan bacaan dan renungan bagi saya.
Tulisan ini pula, sekaligus sebagai penggugur kewajiban (pemenuhan hak kepada sesama muslim) atas sebuah permintaan yang masuk ke email pribadi saya dari seorang teman di dunia maya sana perihal tanggapan saya terhadap ulasan salah satu sahabat maya kami yang mengulas tentang jihad.
Baca entri selengkapnya »
Jet Li & Jacky Chan in The Forbidden Kingdom (2)
Cerita bermula dari seorang remaja laki-laki Amerika, Jason Tripitikas yang sangat tertarik dengan kungfu. Dia mengoleksi film-film kungfu yang dia temukan di kedai pegadaian benda-benda langka Cina milik seorang kakek tua. Suatu ketika, saat dia melihat-lihat DVD film kungfu yang dia gemari, dia melongok ke arah gudang penyimpanan barang-barang langka milik penjaga kedai yang saat itu daun pintunya terbuka separuh. Ketika didekati terlihat jelas sebuah benda yang memikat hatinya, sebatang tongkat emas yang sering digunakan oleh Raja Kera (Sun Wukong) di film-film kungfu yang dia tonton. Bahkan sebelumnya, ia pernah bermimpi melihat Raja Kera tersebut beraksi dengan tongkat ajaibnya. Menurut kesaksian pak tua, tongkat itu adalah warisan beberapa generasi sebelumnya, yang menunggu orang yang akan mengambilnya dan menyerahkan kepada sang pemiliknya (yaitu kera sakti, Sun Wukong)
Cerita mulai beranjak menarik ketika, beberapa preman mengetahui bahwa Jason berhubungan dekat dengan pemilik kedai pegadaian yang mereka incar. Dengan memanfaatkan hubungan baik keduanya, preman-preman itu berusaha menjarah kedai pak tua. Karena mendapat perlawanan dari pak tua yang memukul salah satu dari preman dengan tongkat ajaib, preman tersebut menembak si pak tua sampai jatuh tersungkur. Jason akhirnya diminta oleh pak tua untuk menjaga tongkat ajaib tersebut dan memberikannya kepada sang pemilik. Karena kalut dan ketakutan dilaporkan kejahatan pembunuhannya, maka preman-preman itu pun mengejar Jason dengan maksud supaya tutup mulut atau menghabisi nyawanya sekalian. Namun ketika diujung sebuah gedung, ketika Jason mulai terdesak, tersudut antara hidup dan mati. Tongkat itu menunjukkan keajaibannya, Jason terlempar ke negeri Cina kuno.
Baca entri selengkapnya »







