. : : I N S A N – S A I N S : : .

INSAN perindu IHSAN : : Mencari hikmah di telaga SAINS

Archive for the ‘Cerpen’ Category

Aku dan Tempat Nafkahku (Part IV – Tamat)

with 17 comments

Agak berat bagiku untuk meneruskan kisah suka dan dukaku dengan tempat nafkahku ini. Nyaris kuputuskan tak akan menyambung cerita ini lagi. Cukup pada part III saja berakhir. Namun nampaknya suasana hatiku tergerak untuk meneruskannya setelah dua hari kemarin seorang sahabat jauh-jauh datang dari rumahnya menggunakan sepeda motor menuju kontrakanku yang sederhana di sebelah selatan Jakarta ini. Untuk apa? Tak lain dan tak bukan untuk menumpah ruahkan seluruh uneg-uneg tentang diri dan pekerjaannya.

Duhai sahabat, ijinkan aku menjadikan dialog kita malam itu menjadi pelajaran bagi yang ingin menggali hikmah, menjadi penerang bagi yang berada dalam gelap gulita, memberi sekepal semangat bagi yang kehabisan bensin penggerak. Mudah-mudahan Allah ridha ya kawan!

* * *

Langit malam kala itu hitam bercampur biru tua. Dan makin indah karena beberapa bintang tersipu-sipu malu antara ingin menampakkan diri atau larut dalam kemegahan langit malam. Allah dan bintang-bintang itu menjadi saksi kehadiranmu di gubuk sederhanaku. Tanpa banyak basa-basi, kau duduk bersila di ruangan yang hanya ada engkau dan aku. Tak sempat tikar tergelar. Nampaknya ada urusan yang bagimu sangat penting.

Baca entri selengkapnya »

Written by Insan

17 September 2008 at 7:15 am

Ditulis dalam Cerpen

Ditandai dengan , , ,

Sempurna….

with 9 comments

Tepat di malam ke-15 bulan Ramadhan ini. Cahaya bulan benar-benar bulat sempurna. Gumpalan-gumpalan awan putih terhampar indah menyebar, menjadi latar belakang teater tunggal sang purnama yang mempertontonkan kemilaunya. Lingkaran warna pelangi pun tersemburat pada gumpalan awan, mengelilingi sang purnama. Benar-benar indah sempurna. Dan menjadi lebih sempurna, bahkan istimewa karena di hari ini telah terjadi moment yang bagiku sangat mengharukan, yang menggoncang-goncang nurani terdalamku.
Baca entri selengkapnya »

Written by Insan

15 September 2008 at 12:07 pm

Ditulis dalam Cerpen

Ditandai dengan , , , ,

Mimpi [mode on] : Gombal-Gombalan

with 11 comments

“A… ni ta’jil kita hari ini”
[sembari menyuguhkan segelas teh dan kurma muda]

*dug.. dug.. dug..
*Allahu Akbar… Allaku Akbar

[suara bedug, diikuti adzan bersahutan]

[ssrrrrrrttt.....]
“Kok teh-nya tawar De?”

“Kalo dulu Aa butuh pemanis, sekarang kan udah ada Ade”

[tertawa renyah]
*kurma pertama dicicipi bersama

Baca entri selengkapnya »

Written by Insan

15 September 2008 at 7:29 am

Ditulis dalam Cerpen

Ditandai dengan , , ,

Manisnya Buah Kejujuran

with 9 comments

Ibu Nurhayati. Salah satu guru SMPku. Beliau mengajar mata pelajaran keterampilan Tata Busana. Berpostur tubuh sedang, dengan rambut sebatas bahu. Tak berkacamata. Satu hal yang paling aku ingat dari beliau, sorot matanya yang tajam. Tak ada yang berani berulah dengan guru yang satu ini. Persis kelinci yang takut dimangsa elang. Teman-teman bilang, ngeri. Dan kengerian ini pun akan bertambah mencekam kala sang guru memasuki ruangan. Suara hak sepatunya terdengar jelas, pletak.. pletok… pletak.. pletok. Kegaduhan anak-anak bandel sekalipun tiba-tiba lenyap. Kelas benar-benar sunyi.

Selain guru yang terbilang galak, ibu Nurhayati juga sedikit pelit dengan nilai. Kami sekelas sepakat menyebutnya, guru killer. Jangan pernah mencari masalah dengan guru yang satu ini. Apalagi membuat beliau murka. Sudah banyak “korban” yang aku lihat sendiri dan berakhir memilukan. Jadi aku bertekad dalam hati, meskipun aku tidak menyukai mata pelajaran keterampilan ini, setidaknya aku tidak membuat masalah dan selalu patuh untuk mengumpulkan tugas-tugasnya.

Oia.. aku lupa memperkenalkan diriku. Aku seorang anak laki-laki berumur 14 tahun. Sejak pertama kali memasuki Sekolah Lanjut Tingkat Pertama di kawasan Bandung Utara, aku memiliki obsesi untuk mencapai sebuah kesempurnaan. Aku selalu ingin nilai raportku jauh diatas rata-rata. Aku tidak sudi membiarkan angka merah, bahkan angka sembilan terbalik (baca : enam) sekalipun bertengger di raportku. Terlalu memalukan bagiku. Sebagian orang menganggapnya muluk, tapi bagi bocah seperti diriku itu adalah pembuktian eksistensi diri. Aku memang terlahir dari keluarga miskin, tapi aku ingin menunjukkan bahwa kemiskinan bukan halangan untuk berprestasi, dan meraih kesempurnaan tentunya. Idealis sekali, bahkan terkesan perfeksionis, tapi itulah diriku. Maklum, masih bocah.

Baca entri selengkapnya »

Written by Insan

7 September 2008 at 3:10 pm

Ditulis dalam Cerpen

Ditandai dengan , ,

Aku dan Tempat Nafkahku (Part III)

with 12 comments

Aku hampir tak punya otak waras. Benar-benar peristiwa yang memalukan. Hanya gara-gara miscommunication. Untunglah di saat seperti itu, bukan aku sendirian yang mengalaminya, melainkan bersama ke empat rekanku. Suasana yang seharusnya menegangkan itu kini telah berubah menjadi tawa nyinyir yang kadang merangsang gelak tawa bersama. Hampir saja kami berpikir untuk tidak pulang ke rumah, jika tidak berjiwa besar untuk menerima rasa malu tersebut. Ah… akhirnya dengan tekad yang sudah membulat utuh, aku putuskan harus pulang dulu, biarlah orang lain akan berkata apa. Aku akan tetap menunggu satu minggu keberangkatanku ke Jakarta dengan sabar.

* * *

Hari keberangkatan yang dijanjikan pun tiba. Dengan menggunakan kereta api kami berlima plus pemilik toko komputer itu, sebutlah bapak Ateng akhirnya tiba di stasiun Gambir, Jakarta. Cukup lama aku tercenung dan menerawang ingin menggambarkan suasana saat itu kepadamu kawan. Sayang, nihil. Memoriku ini tak cukup kuat untuk mengingatnya. Bahkan aku pun tak mampu mengingat saat pertama kaliku bertemu dengan seseorang yang cukup tua bernama bapak Subakat, yang datang menjemput kami menggunakan mobil. Dan belakangan aku ketahui, bahwa beliaulah pemilik tempatku magang (PT. Pusaka Tradisi Ibu). Ah.. penyakitku yang satu ini ternyata tambah akut, “susah ingat dan mudah lupa”. Tapi biarlah, ini sudah jatah memori yang Tuhan karuniakan kepadaku.

Sepanjang perjalanan dari stasiun Gambir itu pikiranku melayang mengagumi betapa Jakarta adalah surganya gedung-gedung pencakar langit, jalan-jalan besar dengan mobil berseliweran di mana-mana. SUGOI! (baca : Great! dalam bahasa Jepang). Namun tiba-tiba byaaaar… Lamunanku terbangun kala mobil yang mengantar kami melewati jalanan yang hanya bisa dilewati oleh satu mobil dan hanya terlihat rumah-rumah biasa. Tak beda dengan pemandangan di kampungku. Mataku ku kucek-kucek. Memastikan aku tidak sedang bermimpi. Apakah aku masih berada di Jakarta?

Tiiiittt.. Tit.. Tiiiiiiiitttt... Mobil itu membunyikan klakson di depan sebuah pagar hitam setinggi 3-meteran. Tak lama seseorang dibalik pagar hitam itupun membukakan. Mobil pun masuk ke dalam. Aku yang setengah penasaran itu berbisik halus kepada temanku Radi si aburizal backrie jr. yang ada disebelahku, “bukannya tadi kita mau diajak ke kantornya? kok kita diajak ke rumahnya?”. Belum sempat backrie jr. itu berekspresi apalagi menjawab, bapak Subakat yang ada di jok depan menoleh kebelakang dan angkat bicara, “Nah.. ini dia kantor kita.”. Kantor?? tanyaku dalam hati sambil menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang kering karena kaget. Ku lihat seksama dan memastikan sekeliling tempat yang dikatakan “kantor” ini. Ah… ternyata pikiranku terlalu melayang tinggi… Jakarta dan tempatku magang tidak seperti dugaanku sebelumnya kawan.

Matahari hari itu mulai merangkak menuju peraduan. Langit seperti kanvas yang diguyur cat hitam. Kami semua turun dari mobil. Bapak Subakat mengantar kami memasuki kantor yang sudah gelap itu, menyalakan lampu dan memperkenalkan ruangan yang akan kami gunakan. Ku perhatikan dengan seksama seluruh isi ruangan tersebut. Tak lebih dari 4 komputer saja yang ada. Dua digunakan sebagai komputer administrasi, dan dua lagi tak jelas penggunaannya. Sebentar… sebentar… aku pun memincingkan mata ke sebelah pojok ruangan. Ku lihat sekitar 5 buah CPU yang tertumpuk dan masih teronggok begitu saja. Dari jauh dapat kupastikan, ke-5 CPU tersebut bukanlah CPU terbaru, paling banter Pentium III. Loh tahu darimana? Tentu dari bentuk casingnya. Aku pernah melihat bentuk CPU yang serupa di gudang sekolah. Disana tertumpuk CPU-CPU lama yang kebanyakan tidak bisa digunakan lagi. Diam-diam aku menertawakan dalam hati ke-5 CPU itu. Sayangnya yang aku tertawakan justru disediakan untukku salah satunya. Nasiiiib.. nasiiiib.

Acara perkenalan dengan tempat kerja kami selesai. Saatnya kami harus tidur untuk istirahat dari perjalanan yang cukup melelahkan ini. Kami memang dijanjikan mendapat mess. Tapi siapa menyangka, ternyata kami harus melalui malam pertama di langit Jakarta di sebuah mushala kantor. Sebuah mushala yang tidak tertutup. Tidak mempunyai pintu. Satu sisi dibiarkan terbuka, tanpa dinding. Tapi lumayanlah untuk merebahkan badan setelah shalat jama’ maghrib dan isya itu. Malam itu pula, kami menjadi pendonor darah secara terpaksa. Nyamuk-nyamuk itu menyambut kami dengan girangnya bak menemukan makanan yang masih segar. Tak lupa udara Jakarta yang walaupun malam tapi masih terasa gerahnya. Aku pun yang notabene cepat sekali untuk mengeluarkan keringat, tak kuasa lagi membendung peluh keringat yang keluar deras bercucuran. Terutama keningku. Ah.. tapi toh, akhirnya aku bisa tertidur juga.

* * *

Baca entri selengkapnya »

Written by Insan

28 Agustus 2008 at 12:35 pm

Ditulis dalam Cerpen

Ditandai dengan , , ,

Aku dan Tempat Nafkahku (Part II)

with 12 comments

Tepat tujuh tahun yang lalu, aku masih menyandang status sebagai siswa berseragam putih abu-abu pada jurusan teknik elektronika tingkat 4. Tak ada yang spesial pada diriku, kecuali orang lain mengenalku sebagai orang yang murah senyum dan punya lesung pipi. Namaku mulai mencuat kala aku menjadi rohis yang diberi nama FDI. Dan lagi-lagi hampir tidak ada di sekolah yang berukuran 3 hektar itu yang tidak mengenalku semenjak aku menjadi ketua dari organisasi semi militer yang paling disegani dan paling “wah” kala itu, pasalnya sejak saat itu aku sering tampil di depan publik, entah karena harus mengkoordinir upacara setiap senin, ataukah karena acara seremonial penyerahan piala-piala dari event-event yang sering organisasi yang diamanahkan kepadaku itu ikuti. Ah… aku mungkin terlalu berlebihan menceritakannya. Yang jelas di samping itu aku pula memiliki kedekatan dengan beberapa guru, gara-gara pernah menjadi wakil siswa teladan untuk tingkat Jawa Barat secara tidak sengaja. Loh kok tidak sengaja? Ya, karena seharusnya yang ditunjuk adalah ketua OSIS, namun karena sesuatu hal, tiba-tiba dirikulah yang tanpa persiapan ini lolos beberapa seleksi yang tidak pernah aku bayangkan bisa melewatinya.

Sebagai seorang siswa teknik elektronika, aku memang tidak cukup cerdas untuk menyaingi kepintaran beberapa teman sekelasku. Tapi setidaknya aku mengetahui, betapa beruntungnya aku bisa mengenal teman-teman sekelasku selama 4 tahun yang saat ini menyimpan kenangan tersendiri di hatiku. Di sekolah itu pula aku sempat mempelajari bahasa pemprograman, tapi hanya secuil, sebatas pengetahuan dasar, tidak lebih. Sehingga aku pun tak berniat untuk mendalaminya lebih lanjut, terlalu memeras otak kawan!, aku lebih senang berkutat masalah hardware dan rangkaian-rangkaian elektronik. Namun walaupun begitu, aku termasuk dalam segelintir siswa yang dianggap patut dicontek ketika ujian bahasa pemprograman tiba, maka tak heran jika akhirnya sekolah memilihku untuk magang sebagai programmer komputer. Weks, sebuah hal yang sebenarnya tidak begitu aku suka.

Juli 2001, tersebutlah namaku dalam daftar 5 siswa yang ditugasi Praktek Kerja Lapangan (PKL) atau istilah lain disebut dengan magang di sebuah perusahaan di Jakarta. “Hah.. Jakarta? Kenapa harus aku yang ke sana?” tanyaku dalam hati. Di saat yang lain mengharapkan bisa mendapatkan tempat PKL di luar kota (mungkin demi sebuah gengsi), aku justru malah lebih memilih perusahaan yang ada di tempatku dilahirkan, Bandung nu gemah ripah loh jinawi. Ah.. jiwa pengelanaku memang kerdil kawan..! Tak seluas Colombus dalam mengitari lautan dunia dengan gagahnya, dan tak pula semegah Niel Amstrong kala menjelajahi gugusan bintang di langit dan dengan bangganya menginjakkan kaki di bulan. Tidak…! aku sama sekali tidak seperti mereka. Aku lebih memilih tetap dekat dengan keluarga tercinta (ayah dan ibu)-ku dan berlindung dibalik ketiaknya selain bisa bersama dua adik yang bisa aku “aniaya”. Hm.. aku mungkin memang manusia pengecut yang pernah ada di dunia, nyaliku hanya sebesar biji jagung yang dihadapkan pada ladang yang luasnya tak terkira.

Baca entri selengkapnya »

Written by Insan

11 Agustus 2008 at 6:36 pm

Ditulis dalam Cerpen

Ditandai dengan , , , ,

Aku dan Tempat Nafkahku (Part I)

with 19 comments

Kali ini mau curhat tentang tempat dimana nafkahku kupetik. Tempat yang terkadang membuatku tersenyum-senyum sendiri, tempat yang kadang membuatku begitu bahagia, tempat yang mengajarkanku banyak hal, walaupun kadang menjadi tempat yang paling menyesakkan batin, menimpakan beban, menyulut perselisihan yang mau tidak mau lagi dan lagi akulah pihak yang harus mengalah itu. Tapi inilah episode kehidupan yang harus aku lalui. Dan asal kau ketahui kawan… aku ingin melaluinya dengan indah dan mengakhirinya dengan cemerlang.

Selamat datang di tempat pemetikan nafkahku. Kutengok jam saat ini menunjukkan pukul 00.06 wib, pertanda kurang lebih satu jam lagi aku harus berlanjut ke aktifitasku yang lain sebelum akhirnya memejamkan mata dan merebahkan badan. Baiklah.. kali ini aku tidak akan berpanjang lebar, cukup kutuliskan sedikit company profile tempatku bekerja yang sengaja langsung aku copy-paste dari draft skripsiku.

Baca entri selengkapnya »

Written by Insan

9 Agustus 2008 at 11:30 am

Ditulis dalam Cerpen

Ditandai dengan , , ,

Saat Allah Mempertemukan DUA HATI

with 60 comments

Saat ini pun aku masih belum percaya bahwa akhwat (baca : gadis muslimah) cantik itu bersedia menerima pinanganku. Di depan sang abi (baca : ayah)-nya itu, aku sempat terdiam, melamun membayangkan betapa aku mungkin tergolong laki-laki paling beruntung di dunia ini. Tak di nyana, tak pernah disangka laki-laki Turki yang telah lama menetap di Indonesia ini dan masih mempunyai ikatan darah dengan salah seorang tokoh idolaku, Harun Yahya. Kelak (insyaAllah) aku akan memanggil pria dihadapan aku ini dengan sebutan “bapak mertua”.

Aku jadi teringat masa dimana aku mulai mengenal ahwat luar biasa ini di salah satu situs komunitas. SAFA begitulah dia memperkenalkan ID-nya. Aku pun tak mau kalah, InsanSains ID-ku, namaku sengaja tidak aku publikasikan. Kami makin akrab dengan seringnya berbagi ilmu dan informasi via Yahoo Messanger maupun email. Jujur, aku banyak mengambil pelajaran dari diskusi-diskusi kami selama ini, gadis lulusan mahasiswi Kedokteran Universitas Indonesia itu banyak membuka wawasan berpikirku, tidak hanya masalah keislaman yang dia mahfum, tapi juga beberapa keilmuan lainnya. Cukup banyak hal yang aku tahu tentang dirinya, itupun aku menyimpulkan sendiri dari tulisan-tulisannya selama ini. Aku sendiri belum pernah melihat foto dirinya seperti apa. Namun yang jelas, kepribadiannya sungguh menarik.

Hingga suatu saat, dia mengirimkan offline message di Yahoo Messangerku.

“Tidakkah kita ingin menyempurnakan separuh dien? ^_^”

Logo smiling face berbentuk garis bawah yang terletak diantara tanda pangkat (^_^) adalah ciri khasnya. Mungkin dia adalah tipe gadis yang selalu periang. Namun yang jelas, pesan singkatnya tersebut membuat diriku tidak bisa tidur nyenyak selama beberapa hari. Kalimat itu selalu muncul di benakku! Tapi apa benar ditujukkan untukku? Lalu apakah istimewanya diriku? Aku pun segera meminta nasihat kepada murabbiku, “Ustadz, tolong donk bagaimana menyikapinya?”. Sang murabbi pun dengan bijak diikuti senyumannya menasehati :

“Akhi… (baca : panggilan untuk laki-laki), umur antum (baca : kamu) sudah pas, pekerjaan antum sudah mapan, keilmuan untuk mengarungi bahtera rumah tangga sudah antum miliki. Tidakkah antum ingin mendapatkan surga sebelum surga?

Sang murabbi pun melanjutkan,

Tidak baik menolak akhwat dari keluarga baik-baik. Sudah, segera saja antum balas, antum kirim biodata antum. Biarkan si akhwat mengetahui sebenarnya tentang antum. Dan mintalah dia untuk mengirimkan pula biodata dirinya. Perbanyaklah shalat Tahajjud dan mendekatkan diri kepada Allah. Nanti jika ingin berlanjut, insyaAllah ana (baca : saya, ustadz) insyaAllah membantu”

Baca entri selengkapnya »

Written by Insan

26 Mei 2008 at 5:34 am

Ditulis dalam Cerpen

Ditandai dengan , , , , , , , , , , ,