Cerita Kita Belum Berakhir
Seperti sebuah buku yang “menggantung”. Halaman depannya terisi cerita tangisan saat kita terlahir. Tangisan ketakutan sesosok makhluk baru dalam dunia yang fana. Lain dengan orang-orang yang menyaksikan kita, mereka tersenyum bahagia, puas.
Hari-hari berlalu, lembaran-lembaran buku pun telah tercetak dan telah menjadi ketetapan bagi kita. Ada halaman-halaman yang lucu, sedih, gembira. Ada pula halaman-halaman suram, dan baru kita sadari saat ini. Namun jangan pernah menyerah. Masih ada halaman-halaman akhir yang kosong. Kita memang tidak pernah tahu berapa banyak halaman kosong yang masih tersedia bagi kita. Tapi yang pasti, ada halaman hari ini, masih putih bersih. Dan bisa kita tulis dengan cerita lebih baik.
Teruslah menulis cerita yang lebih baik di setiap halamannya. Jadikanlah buku kita “better ending” not only “happy ending”. Jadikanlah akhir hidup kita, mampu menjadi orang yang tersenyum puas, bahagia. Sedangkan orang-orang di sekitar kita, menangis kehilangan.



ga sopaaaannn, nyuruh orang di sekitar nangis kehilangan
nieza
1 Agustus 2011 pada 9:18 am
@nieza : ^_^ Bukan menyuruh menangis. Yang paling rugi adalah ketika ketiadaan kita justru membahagiakan orang lain.
Insan
2 Agustus 2011 pada 10:02 pm
ya ya ya
atau…mending jangan di tinggalin, biar tidak ada yang menangis ataupun merasa kehilangan
nieza
3 Agustus 2011 pada 4:40 am
@Nieza : Heyyy, siapa ini? *penasaran*
Insan
3 Agustus 2011 pada 10:57 pm
syapa yaaa… mmmm
nieza
4 Agustus 2011 pada 8:37 pm
Malah main tebak-tebakan.. Ini mah kemungkinan orang kantor deh.
Insan
4 Agustus 2011 pada 9:51 pm
coba liat di mangkok cendolnya.. pasti akan terlihat cendol
salam kenal mas insan
nieza
5 Agustus 2011 pada 4:42 am
karna hidup penuh cerita yaaa…
kadang ingin membaca kembali lembaran2 yang telah usang,bahkan mungkin robek..
sekedar untuk mengenang..
rasanya aku tak ingin lagi membuat orang sekitar menangis,bagaimana jika sebuah senyuman yang tertinggal ?
wi3nd
6 Agustus 2011 pada 3:21 pm